Senin, 22 Juni 2009

Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar

Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Salah satu tugas seorang guru adalah membimbing, mengarahkan siswa untuk aktif belajar. Dengan demikian seorang guru perlu mengetahui bagaimana cara mengaktifkan siswa untuk belajar yaitu dengan cara menciptakan kondisi yang merangsang, menantang daya pikir dan cipta si belajar sehingga ia aktif dalam merespon pelajaran. Menurut para ahli psikologi belajar ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk mengaktifkan siswa belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
Motivasi
Motiv adalah daya yang dimiliki seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuaktu. Seorang guru perlu mengetahui apa yang menjadi pendorong siswanya dalam belajar atau melakukan sesuatu, hal ini sesuai dengan peran seorang guru yaitu sebagai motivator, agar senantiasa membangkitkan dan meningkatkan motiv positif untuk belajar. Ada dua motivasi yaitu motiv yang muncul dari dalam diri anak disebut motivasi intrinsik dan motiv dari luar diri si belajar (motivasi ekstrinsik). Motiv dari dalam dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, mencoba-coba, keinginan untuk berhasil. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran melalui pemberian pujian, atau hukuman dll. Motivasi intrinsik senantiasa untuk ditumbuhkan dalam diri siswa.
Latar dan konteks
Agar pemahaman si belajar meningkat dan terarah, maka materi pelajaran yang diberikan harus saling berkait sesauai dengan konteknya. Untuk itu pada setiap pembelajaran guru perlu mengetahui terlebih dahulu tingkat pengetahuan, ketrampilan,dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Agar materi yang dipelajari siswa bermakna dan mempunyai kesan dalam kehidupannya maka pada setiap pembelajaran materi yang akan diajarakan harus dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya. Dengan cara ini anak akan mudah menguasai pelajaran yang baru.
Keterarahan atau Fokus
Agar proses pembelajaran berjalan terarah, terfokus dan lancar, pada setiap akan mengajar perlu dibuat perencanaan yang matang. Perencanaan didasarkan pada tujuan yang akan dicapai atau masalah apa yang akan dipecahkan dan bagimana cara memecahkannya. Misalnya akan mengajarkan tentang “manfaat udara dalam kehidupan manusia” maka fokus pengajaran adalah tentang Udara, meliputi : pengertian udara, dimana terdapat udara, manfaat udara bagi kehidupan manusia, hewan dll. Upayakan pembahasan tidak dimonopoli oleh guru, lakukan secara interaktif antara guru dan siswa. Mintalah pendapat siswa untuk menjawab hal tersebut menurut pengetahuan dan penghalamannya.
Hubungan sosial atau sosialisasi
Kerjasama guru dan siswa atau antara siswa dan keaktifan siswa dalam PBM sudah harus disiapkan pada saat membuat rencana pembelajaran. Siswa perlu dilatih untuk belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Belajar sambil Bekerja
Pada dasarnya anak-anak menyukai belajar sambil bekerja atau melakukan suatu kegiatan, karenyanya dalam pbm dirancang dengan memberi kesempatan kepada anak untuk bekerja atau beraktifitas yang merangsang kemampuan otot dan berfikirnya. Semakin dewasa kadar bekerja anak akan berkurang dan kadar berfikirnya akan meningkatkan. Hal ini bukan berarti anak tidak memiliki kemampuan bekerja tetapi kemampuannya untuk berfikir kearah yang lebih tinggi akan meningkat. Sesuai dengan tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran.
Perbedaan perorangan
Setiap siswa memiliki bakat, latarbelakang kehidupan, kemampuan , tingkat pengetahuan, sikap dan kebiasaan yang berbeda. Dengan kata lain setiap individu memiliki keunikan diri. Dalam belajar guru perlu memperhitungkn keunikan atau perbedaan siswa agar pembelajaran berjalan lancar. Pemahaman tentang kondisi siswa mendorong guru untuk memperlakukan siswa secara berbeda dan bersikap lebih bijaksana dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada dalam kelas.
Prinsip Menemukan
Dalampembelajara tidak semua materi yang akan diajarkan disampaikan kepada siswa. Pada dasarnya setiap anak telah memiliki pengetahuan awal dan potensi untuk menemukan sendiri pengetahuan tersebut. Berikan siswa konsep-konsep inti dan mintalah siswa untuk menemukan dan membuktikannya sendiri konsep-konsep lain yang terkait dengan cara memberi pertanyaan yang merangsang daya pikir, menumbuhkan rasa ingin tahu dan menemukannya sendiri. Proses belajar aktif dapat mengurangi rasa bosan anak dalam belajar.
Memecahkan Masalah
Untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri yang dihadapi dalam kehidupan siswa, maka kbm harus diarahkan pada pemecaham masalah.hal ini diperlukan untuk menumbuhkan kepekaan siswa pada masalah-masalah yang ada disekiratnya. Terlebih dahulu siswa dihadapkan pada masalah kemudian dilatih untuk memecahkan masalahnya dengan baik. Yang penting adalah siswa memahami apa yang dihadapinya dan diajarkan untuk bertanggungjawab untuk memecahkannya sendiri seuai kemampuan. Bila cara belajar untuk memecahkan masalah dilatihkan pada anak maka proses cara belajar siswa aktif akan berhasil.
Sumber :
Semiawan Conny, dkk. 1986, Pendekatan Ketrampilan Proses, bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta.PT Gramedia.

Minggu, 21 Juni 2009

PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan kekuatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah yang sederhana ini dengan judul “Perkembangan Kognitif Pada Masa Remaja”
Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).
Sebagai mana di ketahui makalah ini belum memenuhi kesempurnaan yang dikehendaki untuk suatu karya ilmiah, hal ini di sebabkan oleh karena penulis belum berpengalaman dalam membuat suatu karangan ilmiah.
Oleh sebab itu segala kritik serta saran-saran dari berbagai pihak akan di terima dengan senang hati yang lapang dan jiwa yang benar, guna perbaikan dimasa-masa yang akan datang.
Demikianlah semoga tulisan ini bermanfaat hendaknya bagi kita semua, terima kasih



Penulis


PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA

A. Pengertian Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja.). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). (http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & GullotTa (dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja) masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001, dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja).

B. Tahap Perkembangan Kognitif pada Remaja
Tahap perkembangan kognitif pada remaja secara garis besar dapat ditinjau dari dua segi perubahan-perubahan perkembangan kognitif, diantaranya adalah:
a. Pemikiran Operasional Formal
Pemikiran operasional formal (formal operational though), yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun daqn terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis serta mampu memikirkan sesuatu yang akan terjadi (sesuatu yang abstrak). (Samsunuwiyati, 2005, hal 195).
Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget bahwa pemikiran operasional berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Beberapa gagasan Piaget tentang pemikiran operasional formal baru-baru ini ditantang (Byrnes, 1988; Danner, 1989; Keating, sedang dicetak; Lapsley, 1989; Overton & Byrnes, 1991; Overton & Montangero, 1991), ternyata terdapat lebih banyak variasi individual pada pemikiran operasional formal dari pada yang dibayangkan oleh piaget. Hanya kira-kira satu dari tiga remaja muda adalah pemikir operasional formal. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Ketika remaja berpikir lebih abstrak dan idealistis, mereka mereka juga berpikir lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama penalaran deduktif hipotestis. Penalaran deduktif hipotetis (hypothetical deductive reasoning) adalah konsep operasional formal Piaget, yang menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif untuk mengembangkan hipotesis, atau dugaan terbaik, mengenai cara memecahkan masalah, seperti persamaan aljabar. Kemudian mereka menarik kesimpulan secara sistematis, atau menyimpulkan, pola mana yang diterapkan dalam memecahkan masalah. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Akan tetapi, anak tahap formal operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan membuat perencanaan kegiatan terlebih dahhulu dan berusaha mengantisipasi berbagai macam informasi yang akan diperlukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Piaget membedakan gaya pemikiran formal operasional dari gaya pemikiran konkrit operasional dalam tiga hal penting (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 196), yaitu:
1. penekanan pada kemungkinan versus kenyataan (emphasizing the possible versus the real)
2. penggunaan penalaran ilmiah (using scientific reason), kualitas ini terlihat ketika remaja harus memecahkan beberapa masalah secara sistematis.
3. kecakapan dalam mengkombinasikan ide-ide (skillfully combinting ideas)
ciri-ciri pemikiran operasional formal dapat dirumuskan dalam 3 bentuk yaitu remaja berpikir secara abstrack, idealistis dan logis (dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), yaitu:
1. berpikir abstrak yaitu remaja dapat memecahkan persamaan-persamaan aljabar yang abstrak.
2. berpikir idealistis yaitu remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin, mererka berpikir tentang ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain dan dunia.
3. berpikir logis yaitu remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana unutk memecahkan masalah-masalah dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah.
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
Remaja adalah masa dimana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, keputusan dalam memilih teman, keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa inggris atau computer, dan sebagainya. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
Transisi dalam pengambilan keputusan muncul kira-kira pada usia 11 hingga 12 tahun dan pada usia 15 hingga 16 tahun. Misalnya, dalam suatu studi, murid-murid kelas delapan, sepuluh, dan dua belas diberikan dilemma-dilemayang meliputi pilihan atas suatu prosedur medis. Murid-murid yang paling tua cendrung menyebutkan secara spontan berbagai resiko, menyarankan konsultasi dengan seorang ahli luar, dan mengantisipasiakibat-akibat masa depan. (dalam John W. Santrock, 2002, hal 13)
Pengambilan keputusan oleh remaja yang lebih tua sering kali jauh dari sempurna, dan kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin bahwa keputusan semacam itu akan dibuat dalam kehidupan sehari-hari, luasnya pengalaman sering memainkan peran yang sangat penting. Untuk itu, remaja perlu memiliki lebih banyak peluang untuk mempraktekan dan mendiskusikan pengambilan keputusanyang realistis. Salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan remaja terhadap pilihan-pilihan dalam dunia nyata seperti masalah seks, obat-obatan dan dan kebut-kebutan di jalan adalah dengan mengembangkan lebih banyak peluang bagi remaja untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitaqn dengan kondisi-kondisi semacam itu di sekolah. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
Seperti yang dikemukakan Elizabet B. Hurlock(1981, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 199), remaja mulai memikirkan tentang masa masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Remaja mulsi memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya sebagai manusai dewasa dimasa yang mendatang. Diantara lapangan kehidupan dimasa depan yang banyak mendapat perhatian remaja adalah lapangan pendidikan (Nurmi, 1959 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), disamping dunia kerja dan hidup berumah tangga.
Menurut G. Trosmnisdorff (1983 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), orientasi masa depan merupakan fenomena motivasional yang kompleks yakni antisipasi dan evaluasi tentang dari masa depan dalam interaksinya dengan lingkungan. Menurut Nurmi orientasi masa depan berkaitan erat dengan harapan, tujuan, standar, rencana dan strategi pencapaian tujuan di masa yang akan dating.
Sebagai suatu fenomena kognitif motivasional yang kompleks, orietasi masa depan berkaitan erat dengan skema kognitif yaitu suatu organisasi perceptual dari pengalaman masa lalu beserta kaitannya dengan pengalaman masa kini dan di masa yang akan datang.
Menurut Nurmi (1991 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 200), skema kognitif tersebut berinteraksi dengan tiga tahap proses pembentukan orientasi masa depan yaitu:
1. tahap motivasional
Merupakan tahap awal pembentukan orientasi masa depan remaja. Tahap ini mencakup motif, minat dan tujuan yang berkaitan dengan orientasi masa depan.


2. tahap planning
Perencanaan merupakan tahap kedua proses pembentukan orientasi masa depan individu, yaitu bagaimana remaja membuat perencanaan tentang perwujudan minat dan tujuan mereka. Dalam hal ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• penentuan subtujuan
• penyusunan rencana
• melaksanakan rencana dan strategi yang telah disusun
3. tahap evaluation
merupakan tahap akhir dari proses pembentukan orientasi masa depan.
d. Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut David Elkind (1976 dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), pemikiran remaja bersifat egosentris, yakin bahwa egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian yaitu:
1. penonton khayalan (imaginary audience)
Merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Perilaku mengundang perhatian, umu terjadi pada masa remaja, mencerminkan egosentrisme dan keinginan untuk tampil diatas pentas, diperhatikan, dan terlihat. Bayangkan anak laki-laki kelas delapan yang menganggap diri sebagai seorang aktor dan semua orang lain adalah penonton ketika ia menatap kebintik kecil dicelana panjangnya. Bayangkan seorang anak perempuan kelas tujuh yang menganggap bahwa semua mata terpaku kepada corak kulitnya karena ada cacat yang kecil sekali pada wajahnya.
2. dongeng pribadi
merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan-perasaan unik seorang remaja. Rasa unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya.

e. Perkembangan Penalaran Moral
Menurut Kohlberg adalah bagian dari penalaran (reasoning), sehingga ia menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning), penalaran atau pertimbangan tersebut berkenaan dengan keluasan wawasan mengenai relasi antara diri dan orang lain, hak dan kewajiban. Relasi diri dengan orang lain ini didasarkan atas prinsip equality artinya orang lain sama derajatnya dengan diri. Jadi, antara diri dan diri orang lain dapat dipertukarkan. Ini disebut prinsip reciprocity. Moralitas pada hakikatnya adalah penyelasaian konflik antara diri dan diri orang lain, antara hak dan kewajiban. (Samsunuwiyati, 2003, hal 206)
Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian baik buruknya sesuatu. Karena bersifat penalaran maka perkembangan moral menurut Kohlberg sejalan dengan perkembangan nalar sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya. Dengan penekanannya pada penalaran ini, berarti Kohlberg ingin melihat struktur proses kognitif yang mendasari jawaban atau pun perbuatan-perbuatan moral.
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adam & Gullotta (1983, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 208), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.

C. Perubahan-Perubahan Kognitif pada Masa Remaja
Ada 5 perubahan Kognitif pada masa perkembangan remaja (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/), yaitu
a. Remaja sudah bisa melihat ke depan (future) ke hal-hal yg mungkin, termasuk mengerti keterbatasannya dlm memahami realita. à sistem abstraksi, pendekatan & penalaran yg sistematis (logis-idealis), sampai ke berfikir hipotetis à berdampak pd perilaku sosia, berperan dlm meningkatkan kemampuan membuat keputusan
b. Remaja mampu berfikir abstrak. Kemampuan ini berdampak dan dapat diaplikasikan dalam proses penalaran dan berfikir logis
c. Remaja mulai berfikir lebih sering ttg berfikir itu sendiri à biasa dikenal dg istilah Metacognition, yaitu monitoring ttg aktivitas kognitifnya sendiri selama proses berfikir à menjadikannya instrospektif à terkait dengan adolescence egocentrism
d. Pemikirannya lebih multidimensional dibandingkan singular à mampu melihat dr berbagai perspektif àlebih sensitif pd kata-kata sarkastik, sindiran “double entendres”
e. Remaja mengerti hal-hal yg bersifat relatif, tdk selalu absolut à sering muncul saat remaja meragukan sesuatu à ditandai dg seringnya berargumentasi dengan OT terutama ttg nilai-nilai moral Information Processing Abilities
f. Kemampuan seseorang dalam memproses, mengolah informasi-informasi yang telah dimilikinya
1. Membutuhkan kemampuan dlm konsentrasi
• Selective attention à memfokuskan pd salah satu stimulus dan membuang yg lain
• Devided attention à kemampuan memfokuskan diri pd lebih dr 2 stimulus pd saat yang sama
2. Membutuhkan kemampuan dlm memperkaya kemampuan memorinya
• working memory & short term memory à kemampuan mengingat sesuatu yg belum lama terjadi
• long-term memory à kemampuan mengingat dan mengenal kembali sesuatu yg sudah lama terjadi
• menggunakan fungsi remember & recall Social Cognition Remaja.
Kemampuan remaja dlm menggunakan kognisinya dlm menghadapi permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapinya Meliputi aktivitas kognitif: (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/)
a. Berfikir ttg orang lain
b. Berfikir ttg hubungan social
c. Berfikir ttg institusi social.
Dibedakan menjadi 3 :
• Impression Formation
• Social Perspective Taking
• Moraly and Social Convention

PENUTUP
a. Kesimpulan
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity. Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Perubahan-perubahan tersebut dalam segi kognitif dapat dilihat dari beberapa perkembangan yaitu:
a. Pemikiran Operasional Formal
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
d. Perkembangan Kognisi Sosial
e. Perkembangan Penalaran Moral
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, Bandung; Melrat Losda Karya, 2005
Santrock, John W, The Span Development (Perkembangan Masa Hidup), Jakarta; Erlangga, 2002
Diane E. Papalia, et. Al. Human Development (Psikologi Perkembangan), Jakarta; Kencana, 2008
http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
http://my.opera.com /2009/05/23/

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA

TUGAS- TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA

(Dalam Buku Abdul Mujid, 2002)
A. Tugas perkembangan pada periode pra- konsepsi yaitu: periode perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum.
Tugas pada periode ini adalah:
• Mencari pasangan hidup yang baik
• Segera menikah setelah cukup umur dan telah disepakati oleh berbagai pihak
• Membangun keluarga sakinah (damai dan sejahtera)di atas prinsip cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (warahmah) dengan landasan iman dan taqwa
• Selalu berdoa kepada allah swt. Agar diberi keturunan yang baik (durriyah thayyibah), terutama ketika memulai persetubuhan.

B. Tugas perkembangan pada periode pra- natal yaitu priode perkembangan dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahieran, yang diperankan oleh orang tua.
• Memelihara suasana psikologis yang damai dan tentram,agar secara psikologis janin dapat berkembang secara normal
• Senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu, agar janinnya dapat sinaran cahaya hidayah dari Allah SWT
• Berdoa kepada Allah SWT., terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan, seabad masa- masa itu hukum- hukum perkembangan akan ditetapkan.

C. Tugas Perkembangan Pada Fase pertama neo- natus yaitu dimulai dari kelahiran kira- kira sampai minggu ke empat.
• Membaca azan di telinga kanan dan membaca iqamah di telinga kiri ketika anak baru dilahirkan.
• Memotong akikah, dua kambing untuk anak laki- laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.
• Memberi nama yang baik, yaitu nama yang secara psikologis mengingatkan atau berkolerasi dengan prilaku yang baik, misalnya nama asma al- husna, nama- nama nabi, nama- nama sahabat.
• Membiasakan hidup yang bersih dan suci.
• Memberikan ASI sampai usia 2 tahun.

(Dalam Buku Syamsu Yusuf, 2004)
D. Tugas perkembangan pada masa bayi dan kanak- kanak (0-6):s
• Belajar berjalan
Terjadi pada usia antara 9-15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syaratnya telah matang untuk belajar berjalan
• belajar memakan makanan padat
Pada tahun kedua, sistem alat- alat pencernaan makanan dan alat-alat mengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
• Belajar berbicara
Yaitu, dengan mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikan kepada orang lain dengan perantara suara itu, ada dua pendapat mengenai cara permulaan anak dalam belajar berbicara yaitu:
a). Pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar berbicara dengan jalan mengeluarkan macam- macam suara yang tidak berarti (meraban).kemudian orang di sekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata- kata tentang sesuatu dengan cara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan (menghubung-hubungkan ) suara- suara tertentu dengan benda atau situasi tertentu.
b). Kedua, menurut teori ini bayi tidaklah secara kebetulan tetapi mempunyai arti baginya karena suara- suara itu mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya.
• Belajar buang air kecil dan besar
Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia di bawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali anak mau buang air bawalah anak ke WC tanpa banyak penerangan kepadanya.
• Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
Melalui observasi anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik, dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut anak dapat mengenal perbedaan anatomis pria dan wanita, anak menaruh perhatian lebih besar pada alat kelamin sendiri maupun orang lain.
• Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis
Keadaan jasmani anak labil bila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah. Untuk mencapai kestabilan jasmaniah bagi anak diperlukan waktu sampai usia 5 tahun.
1. Memberikan konsep- konsep (pengertian) sederhana sosial dan alam anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk generalisasi (kesimpulan0 dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama. anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya disebut “orang” ibu dan ayah.
2. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara dengan orang lain.
Anak mengadakan hubungan dengan orang- orang yang ada di sekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan menggunakan bahasa.
(Dalam Buku Elizabet B. Horluck, 1980)

E. Tugas perkembangan pada masa anak-anak ,masa sekolah (6-12):
• Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan- permainan yang umum
• Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
• Belajar menyesuaikan diri dengan teman- teman seusianya
• Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita yang tepat
• Mengembang keterampilan- keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung.
• Mengembangkan pengertian- pengertian untuk diperlukan dalam kehidupan sehari- hari
• Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
• Mengembangkan sikap terhadap kelompok- kelompok sosial dan lembaga
• Mencapai kebebasan pribadi.

F. Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja awal:
Psikolog William W Wattenberg membagi masa remaja atas remaja awal dan akhir . menurut Nya, tugas-tugas perkembangan masa remaja awal adalah :
• Mampu mengontrol diri sendiri seperti orang dewasa
Remaja awal diharapkan mampu mengontrol segala perbuatannya . timbulnya tugas perkembangan ini akibat bertambahnya pekerjaan atau perbuatan remaja, baik yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan
• Mendapatkan kebebasan
Tugas perkembangan lainnya bagi remaja adalah ,mendapatkan kebebasan . maksudnya remaja awal diharapkan belajar dan berlatih untuk menentukan pilihan, membuat keputusan dan melaksanakan keputusannya serta berani mempertanggungjawabkannya . Dengan kebebasan ini remaja awal diharapkan tidak lagi bergantung pada orang tua dan orang dewasa
• Bergaul dengan teman lawan jenis
Rasa simpati, rasa tertarik untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenisnya mula disadari oleh remaja awal, meskipun mereka masih meragukan apakah lawan jenisnya tertarik kepadanya , merasa malu untuk saling mendekat dan saling bergaul , merasa bimbing pada daya tarik dirinya sendiri bagi lawan jenisnya, sehingga tidak sedikit remaja yang tidak mau berpacaran
• Memiliki citra diri yang nyata
Remaja awal juga diharapkan mampu menilai kondisi dirinya secara apa adanya maksudnya mampu mengukur kelebihan dan kekurangannya serta dapat menerima dan memanfaatkan semaksimal mungkin dan mampu mengukur apa saja yang disenangi atau tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya

(Dalam Buku Muhammad Ali Dkk,2004)
G. Tugas perkembangan remaja pada umumnya:
Menurut havighurst, ada sejumlah tugas yang harus di selesaikan oleh remaja yaitu:
1. Mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
• Hakekat tugas mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki- laki sebagai pria., menjadi dewasa di antara orang dewasa , dan belajar memimpin tanpa menekan orang dewasa.
• Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki- laki dan perempuan. Kematangan seksual di capai pada masa remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja
• Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. Remaja putri lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja putra dan cenderung tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua dibandingkan dia.

2. Mencapai peran sosial pria dan wanita
• Hakekat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria dan wanita
• Dasar biologis
Ditinjau dari keadaan fisik, remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra.
• Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaj putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranannya sebagai wanita.
3. Menerima keadaan fisik
• Hakekat tugas
Menjadi bangga sekurang- kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
• Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Umumnya gadis yang berusia 15-16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
• Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja.remaja suka memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya.
4. Mencapai kemandirian
• Hakekat tugas
membedakan sifat ke kanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri kepada orang tua.
• Dasar biologis
Kematangan seksual individu, individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya.
• Dasar psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. dalam keadaan seperti ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, dan sebaliknya orang tua menginginkan anak berkembang menjadi dewasa.
5. Mencapai jaminan kebebasan biologis
a. Hakekat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar kehidupan
merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk melaksanakan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini
• Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
a. Hakekat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan
b. Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
c. Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
7. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga
a. Hakekat
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya untuk mempunyai anak
b. Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan keterikatan antara jenis kelamin
c. Dasar psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
8. Mengembangkan keterampilan
a. Hakekat tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi dan kemasyarakatan
b. Dasar biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan
c. Dasar psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa , pemaknaan, perolehan, konsep- konsep, minat dsb.
9. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
a. Hakekat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai- nilai masyarakat dasar bertingkah laku
b. Dasar biologis
Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya in sting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dorongan seksual
c. Dasar psikologis
Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya
10. memahami suatu perangkat tata nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.

(Dalam Buku Elizabet B. Hurlock, 1980)
H. Tugas perkembangan dewasa awal\dini:
• Mulai bekerja
• Memilih pasangan
• Belajar hidup dengan tunangan
• Mulai membina keluarga
• Mengasuh anak
• Mengelola rumah tangga
• Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
• Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
(Dalam Buku Elida Prayitno, 2006)
Dalam menjalani hidup berkeluarga, Dixon dan bouma mengemukakan seperangkat tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pasangan dewasa awal yaitu:
• Menyediakan sebuah rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan, sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan hidup.
• Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran keuangan yang saling memuaskan.
• Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing- masing pasangan.
• Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus menerus.
• Membina sistem komunikasi intelektual dan emosional.
• Membina hubungan dengan sanak family.
• Membina cara- cara berinteraksi dengan kawan, anggota kumpulan, dan organisasi masyarakat.
• Menghadap kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran anak.
• Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan.

I. Tugas Perkembangan Dewasa Awal:
• . Tugas Perkembangan Pada Periode Pembentukan
a. Menyediakan rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan
b. Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran pendapatan keuangan yang saling memuaskan
c. Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing-masing pasangan
d. Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus-menerus
e. Membina sistem komunikasi intelektual sosial dan emosional
f. Membina hubungan dengan sanak famili
g. Membina cara-cara berinteraksi dengan kawan, anggota perkumpulan dan organisasi masyarakat
h. Menghadapi kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran
i. Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan
• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Hal Kehamilan/ Melahirkan
a. Menata pemeliharaan fisik ibu untuk kepentingan bayi yang dinantikan
b. Mengembangkan pola pendapatan dan pengeluaran yang baru
c. Menilai prosedur untuk pola tanggung jawab pekerjaan, siapa yang mengerjakan apa, dan di pundak siapa otoritas terletak
d. Menentukan pola hubungan seksual dalam masa kehamilan
e. Memperluas komunikasi sesuai dengan kebutuhan emosi yang diantisipasi selam masa kehamilan
f. Menata kembali hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan hubungan dengan teman anggota perkumpulan dan organisasi di masyarakat karena kehamilan
h. Mencari pengetahuan dan perencanaan sehubungan dengan kehamilan
i. Menguasai moral dan filsafat hidup yang harus dilaksanakan

• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Memelihara Bayi Dan Anak-Anak Yang masih Kecil
a. Menyesuaikan penataan rumah untuk kehidupan anak yang masih kecil
b. Penyesuaian pengeluaran biaya dalam keluarga
c. Menata kembali pola saling tanggung jawab
d. Menata kembali pola hubungan seksual yang saling memuaskan
e. Memperluas komunikasi untuk kepentingan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
f. Menata kembali hubungan dengan sanak-saudara
g. Menyesuaikan hidup bermasyarakat sebagai keluarga muda
h. Merencanakan kembali anak-anak berikutnya
• Tugas Perkembangan Keluarga Pada Periode Anak-Anak Umur TK
a. Menyediakan ruangan, fasilitas dan perlengkapan untuk jumlah anggota keluarga yang lebih banyak
b. Menyesuaikan pengeluaran biaya dengan kehidupan sehari-hari
c. Berbagai tanggung jawab dalam memelihara anggota keluarga yang lebih besar
d. Merencanakan hubungan sosial yang memuaskan dan mendapatkan anak di masa yang akan datang
e. Mengusahakan hubungan yang harmonis dalam keluarga yang lebih besar
f. Menyediakan sumber-sumber tambahan untuk pengeluaran pelayanan kebutuhan keluarga
g. Menghadapi berbagai dilema dan menata kembali filsafat hidup
• Tugas Perkembangan Keluarga Yang Memiliki Anak Mulai Bersekolah
a. Menyediakan aktivitas tertentu , baik untuk anak-anak maupun untuk pribadi orang tua
b. Menyimpan dana atau benda untuk pembayaran hutang
c. Kerjasama melakukan sesuatu bagi kepentingan masa depan anak
d. Terus menerus saling memuaskan kebutuhan pasangan sebagai partner dalam keluarga
e. Menggunakan komunikasi secara efektif
f. Merasakan kedekatan dengan sank-saudara dan keluarga yang semakin besar
g. Mencoba hidup di luar keluarga

J. Tugas perkembangan dewasa pertengahan:
Ada sejumlah kemampuan yang harus dikuasai orang dewasa pertengahan yaitu:
1. tugas perkembangan keluarga ketika anak- anak telah remaja
a. menyediakan fasilitas untuk melayani kebutuhan yang berbeda
b. menyesuaikan keuangan keluarga dengan kebutuhan anak yang sudah remaja
c. berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan dalam keluarga
d. mengutamakan hubungan pernikahan dalam kehidupan keluarga
e. menjembatani komunikasi yang mandek dengan anak- anak remaja, yang harus dibina komunikasi, keakraban dan keterbukaan.
f. Tetap memelihara hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan dan mengembangkan filsafat hidup.
2. tugas perkembangan dalam memelihara orang dewasa
• menata kembali fasilitas dan sumber- sumber fisik
• membagi tanggung jawab di antara anak yang sudah dewasa muda dengan yang lebih kecil
• memiliki sistem komunikasi yang efektif dengan anggota keluarga dan anak- anak
• memperluas siklus keluarga karena anak telah menjadi orang dewasa muda dan menerima anggota baru keluarga(menantu ) kalau mereka menikah.
3. tugas perkembangan dalam membina kesetiaan dan keharmonisan keluarga
• menciptakan kehidupan keluarga yang menyenangkan dan membahagiakan
• menjamin perasaan aman pada tahun berikutnya
• melaksanakan tanggung jawab kerumahtanggaan
• memperlihatkan keakraban bersama sebagai pasangan
• membina hubungan baik dengan keluarga anak- anak yang baru berkembang
• membina kedekatan emosi dengan saudara-saudara dan orang tua sendiri yang sudah berusia lanjut
• berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat di luar lingkungan keluarga
• memperkuat nilai- nilai kehidupan yang benar dan berarti bagi kehidupan sebagai manusia.

(Dalam Buku Mubin, Ani Cahyadi, 2006)
K. tugas perkembangan dewasa akhir:
• mencapai kedewasaan yang bertanggung jawab terhadap negara dan masyarakat
• membimbing anak- anak remaja untuk bertanggung jawab dengan berbahagia kelak bila dewasa
• mengembangkan kegiatan- kegiatan pengisi waktu kosong seusai dengan keahlian dan keinginan
• menciptakan hubungan suami istri yang serasi
• menerima dan menyesuaikan diri dengan adanya perubahan- perubahan psikologis pada usia tengah baya
• mencapai dan mengutamakan penampilan yang memuaskan
• mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan orang tua yang lanjut.

L. Masa tua atau lanjut usia:
• Siap menghadapi keadaan menurunnya kondisi fisik dan kesehatan
• Siap untuk mengalami penurunan pendapat
• Siap untuk menghadapi kematian suami- istri
• Membina hubungan yang akrab dengan anggota kelompok usia
• Memelihara kondisi dan kesehatan fisik agar tetap menyenangkan
• Menyesuaikan diri untuk mengurangi tugas sosial tetap memenuhi kewajiban- kewajiban sebagai warga negara.



DAFTAR PUSTAKA

Prayitno Elida, Psikologi Orang Dewasa, Padang, Angkasa Raya: 2006
Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 2004
Ali Muhammad, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik) Jakarta, PT Bumi Aksara: 2004
Mujid Abdul, Nuansa- Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo: 2002
Mubin, Cahyadi Ani, Psikologi Perkembangan, quantum teaching: 2006
Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan (Suatu Pendidikan Sepanjang Rentang Kehidupan) Jakarta, Erlangga: 1980

Selasa, 26 Mei 2009

MAKALAH PERKEMBANGAN EMOSI BAYI

PENDAHULUAN

Pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana. Dengan bertambahnya usia, berbagai reaksi emosional menjadi kurang tersebar, kurang acak dan lebih terbedakan, dan reaksi emosional dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan.
Emosi anak dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu perkembangan anak pada usia 0 – 15 bulan, perkembangan anak usia 16-36 bulan, perkembangan anak usia 36 bulan hingga 6 tahun dan golongan yang terakhir adalah perkembangan anak usia 7-14 tahun.
Setiap aspek dalam tahap perkembangan bayi kecil Anda pasti amat menarik untuk diperhatikan. Entah itu saat dia mulai bisa tersenyum, tertawa, merangkak, duduk, berdiri, berespon ketika diajak bicara, ataupun menunjukkan kemampuan lain yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Tentunya, Anda pun ingin menjadi ?saksi pertama? atas seluruh kebisaannya itu.
Salah satu perbedaan yang terpenting dalam reaksi emosional meliputi dominasi emosi yang menyenangkan. Beberapa bayi mengalami lebih banyak emosi senang dari pada tidak senang, sedangkan bayi lain mengalami sebaliknya, bergantung terutama pada kondisi fisik dan kondisi-kondisi dalam lingkungan.
Untuk itu penulis mencoba menjelaskan dalam makalah ini tentang perkembangan emosi pada masa bayi. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dan untuk menjadikan makalah ini lebih baik lagi penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca semua, guna untuk masukan dan wejangan serta inspirasi bagi penulis untuk pembuatan makalah selanjutnya.
Untuk itu penulis mencoba menjelaskan dalam makalah ini tentang perkembangan emosi pada masa bayi. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dan untuk menjadikan makalah ini lebih baik lagi penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca semua, guna untuk masukan dan wejangan serta inspirasi bagi penulis untuk pembuatan makalah selanjutnya.


PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN EMOSI BAYI
Jangan salah, bayi pun bisa menunjukkan emosinya. Entah yang baik maupun tidak. Asalkan ditangani dengan baik, reaksi emosi yang jelek tak bakalan menetap hingga besar.
Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera dipenuhi, akan berhenti tangisnya.
Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan. Reaksi emosi bayi yang demikian, menurut Dra. Dewi Mariana Thaib, sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan, yaitu lapar. “Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan, semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya,” terang psikolog dari RS Bunda, Jakarta ini.
Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. “Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang.” Itulah mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya, sampai sekecil apa pun. (http://keluargasehat.wordpress.com/2009/04/13)

A. Perkembangan Emosi Awal (bayi 0-15 bulan)
Terdapat dua ciri khusus dari emosi anak pada masa bayi. Pertama, emosi bayi sangat berbeda dengan emosi remaja dan orang dewasa, dan kadang-kadang dari anak-anak yang lebih tua. Emosi bayi misalnya, disertai oleh reaksi perilaku yang terlampau hebat bagi rangsangan yang menimbulkannya, terutama dalam hal marah dan takut. Emosi-emosi itu singkat saja tetapi kuat; sering muncul tetapi bersifat sementara dan berubah menjadi emosi lain kalau perhatian bayi dialihkan.
Kedua, emosi lebih mudah dibiasakan pada masa bayi dibandingkan pada periode-periode lain. Ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehingga mereka mudah dan cepat bereaksi terhadap rangsangan yang pada waktu lalu membangkitkan reaksi emosional. (http://wangmuba.com /2009/04/13)
Perbedaan-pernedaan dalam reaksi emosi mulai tampak dalam masa bayi dan dipengaruhi oleh sejumlah factor, terutama kondisi-kondisi fisik dan mental bayi pada saat munculnya rangsangan dan berhasil tidaknya memenuhi kebutuhannya. Apabila bayi pada waktu lalu, dihukum karena menarik, menggigit, merobek sesuatu, ia akan memuaskan rasa ingin tahunya dengan pendekatan tangan, hanya melihat benda dan menyentuhnya.
Salah satu perbedaan terpenting dalam raeksi emosional meliputi dominasi emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan. Beberapa bayi mengalami lebih banyak emosi senang daripada tidak senang, sedangkan bayi lain menagalami sebaliknya, tergantung terutama pada kondisi fisik dan kondisi-kondisi dalam lingkungan. Pada semua usia kuatnya emosi senang merupakan jaminan utnuk penyesuaian yang lebih baik daripada kuatnya emosi tidak senang. Terlebih pada masa bayi. Bayi yang mengalami banyak emosi senang melekatkan dasar-dasar utnuk penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang baik dan untuk pola-pola perilaku yang akan menimbulkan kebahagiaan. (Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan)
Emosi asas (positif dan negatif) berkembang secara ‘gradual’ terutama dalam waktu enam bulan pertama dan selalu ditunjukkan melalui mimik muka dan ‘eye contact’. Pola emosional yang lazim pada bayi antara lain: (http://wangmuba.com /2009/04/13)
a. Gembira/senang
Ditunjukkan dengan mimik muka : senyum, pipi terangkat, mata berbentuk bulan sabit. Kegembiraan dirangsang oleh kesenangan fisik, pada bulan kedua atau ketiga, bayi bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, menggelitik, mengamati, dan memperhatikannya. Mereka mengungkapkan rasa senangnya dengan tersenyum, tertawa, dan menggerakkan lengan serta kakinya. Bila rasa senang besar, bayi berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak dengan gembira, dan semua gerakn tubuhnya menjadi semakin intensif.
b. Afeksi
Setiap orang yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Kemudian, mainan dan hewan kesayangan keluarga mungkin juga menjadi objek cinta bagi mereka. Umumnya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang yang dicintainya.
c. Minat atau rasa ingin tahu
Setiap permainan atau barang baru dan tidak biasa adalah perangsang untuk keingintahuannya, kecuali jika hal yang baru tersebut begitu tegas, sehingga menimbulkan ketakutan. Bila rasa takut berkurang, ia akan menggantikannya dengan rasa ingin tahu. Bayi mudah mengungkapkan keingintahuannya melalui ekspresi wajah-menegangkan otot muka, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Kemudian bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, dengan memegang, membolak-balikkan, melempar, atau ,memasukkannya kedalam mulut.
d. Marah
Perangsang yang lazim membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba-cobanya, menghalangi keinginannya, tidka mengizinkan mengerti sendiri dan tidak memperkenankan melakukan apa yang bayi inginkan. Tanggapan marah mengambil bentuk menjerit, meronta-ronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, dan memukul atau menendang apa saja yang ada didekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak-lonjak, berguling-guling, dan menahan nafas.
e. Ketakutan
Perangsang yang paling mungkin membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras, orang, barang, situasi asing. Perangsang yang terjadi tiba-tiaba atau tidak terduga. Tanggapan rasa takut yang lazim pad abayi terdiri dari upaya menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan dengan merengek, menangis, dan menahan nafas.
Bayi antara 3 - 8 minggu sudah bisa tersenyum, perkembangan awal emosi positif Bayi 12- 20 minggu antara lain sebagai berikut:
a. Senyum pada wajah dan suara yang dikenali; senyum bila merasakan lingkungan sekitar dapat ‘dikuasai’, awal tersenyum..
b. Enam bulan pertama bayi masih belum mempunyai rasa sayang/ kasih pada sesuatu/seseorang.
c. Perasaan sayang mulai terbentuk ketika usia antara 7 hingga 9 bulan - melalui hubungan ikatan kasih sayang, sentuhan, belaian dengan orang yang paling mirip seperti ibu dan ayah, menunjukkan rasa tidak senang/takut dengan kehadiran ‘orang asing’.

B. Memahami Tahapan Perkembangan Sosial-Emosi Bayi
Walaupun setiap bayi memiliki keunikannya sendiri, namun pada umumnya, setiap bayi memiliki tahapan perkembangan emosi yang dapat diprediksi polanya. Diantaranya:(http://keluargasehat.wordpress.com /2009/04/12)
a. 0-3 bulan
Karena pada 3 bulan pertama ini bayi sepenuhnya bergantung pada Anda, maka kebutuhannya untuk mengatasi perasaan negatif yang dialaminya, seperti stres, takut, frustrasi dan lain sebagainya juga sepenuhnya berada pada tangan Anda. Pada saat ini, yang terpenting baginya adalah merasakan bahwa orangtuanya selalu ada untuknya, setiap kali ia membutuhkan. Dengan begitu, kepercayaannya terhadap Anda pun mulai terbentuk. Rene Brummage, pakar perkembangan anak mengatakan, ?Lingkungan anak memegang peranan yang penting dalam membentuk kepribadiannya. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan mendorongnya memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan tekanan akan membuatnya tumbuh dalam ketakutan.?
b. 3-6 bulan
Pada masa ini, bagian otak bayi yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi mulai tumbuh. Dia pun menikmati interaksi dengan orang lain dan menunjukkan minat yang sangat besar dalam melihat wajah orang lain. Para ahli meyakini, ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tetapi juga dapat menolongnya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama Anda orangtuanya. Dari setiap respon yang diberikan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.
c. 6-9 Bulan
Hillary Kruger MD, pakar perkembangan dan perilaku anak menambahkan, bayi pada periode ini sudah dapat mengetahui jika orangtuanya meninggalkan ruangan lalu kemudian mencarinya. Ketakutan dan ketidaksukaannya terhadap orang asing pung semakin kuat ditunjukkan (stranger anxiety), misalnya dengan menangis atau dengan berlindung pada Anda. Mereka juga sudah mulai menunjukkan penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukai. Saat terbangun di malam hari, beberapa bayi pada usia ini berusaha mengatasi ketidaknyamanannya dengan memegang atau menggigit mainan yang disukai atau bahkan jarinya sendiri. Menginjak usia 8 bulan ke atas, bayi Anda mulai menyukai permaian petak umpet. Sembunyikanlah mainan kesukaannya di bawah selimut, dan lihatlah bagaimana ia berusaha untuk menemukannya.
d. 9-12 Bulan
Hillary mengatakan, mendekati usia satu tahun anak mulai menikmati permainan yang bersifat resiprokal (berbalasan), seperti menggelindingkan dan menangkap kembali bola. Sejalan dengan pertumbuhan fisiknya yang memungkinkan dia untuk bergerak lebih bebas ke sana-ke mari, ketertarikannya pun tumbuh semakin besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya. Menurut Hillary, hal itu biasanya ditunjukkannya dengan menunjuk suatu objek yang menarik agar orangtuanya pun ikut memberikan fokus dan perhatiannya.

C. CARA MENGHADAPI BAYI YANG EMOSIONAL
Menangani bayi yang memiliki karakter sulit memang perlu kesabaran ekstra. Ada beberapa trik untuk menghadapinya. Namun pada intinya cara-cara ini adalah untuk memenuhi kebutuhan emosinya, kenyamanan dan keamanannya. (http://menantibuahhati.multiply.com /2009/04/13)
a. Berikan pelukan dan belaian sayang.
Namun, cermati dulu penyebab tangis sang bayi. Bila ia menangis lantaran popoknya yang basah, ia tentu tidak perlu pelukan. Yang ia butuhkan adalah kita mengganti popok basah tersebut dengan popok kering. Nah, bila ia menangis lantaran bosan atau mengantuk, pelukan dan belaian sayang mampu menimbulkan rasa aman dan nyaman padanya. Dengan kata lain, pelukan dan belaian memang dibutuhkan bayi.
b. Lebih peka akan kebutuhan bayi.
Orangtua hendaknya lebih peka akan kebutuhan bayi. Perhatian yang tulus dan pemahaman kita akan kebutuhan bayi, akan mampu mengendalikan emosi bayi agar tidak berlebihan. Bila kebutuhannya telah terpenuhi, niscaya bayi akan menjadi lebih tenang.


c. Mengalihkan perhatian.
Ketika bayi sedang meledak-ledak emosinya, cobalah untuk mengalihkan perhatian. Umpama, dengan mengajaknya melakukan aktivitas yang dapat menarik perhatiannya, mengajak bayi bermain umumnya akan berhasil merebut perhatiannya. Bila emosinya sudah mereda, berikan pelukan sayang yang menenangkan hatinya.
d. Bermain cermin.
Permainan ini dapat dikenalkan pada bayi usia 6 bulan ke atas. Melalui permainan ini bayi dapat mengenal beragam emosi. Seperti tertawa, menangis, marah, dan lainnya. Perlihatkan beragam mimik tersebut padanya dan sampaikan bahwa ia tak perlu berteriak-teriak atau menangis dengan meronta-ronta (tunjukkan wajah yang tengah seperti orang menangis kejer) karena itu tidak baik.
e. Membaca buku atau mendongeng.
Melalui dongeng, setidaknya kita dapat menyampaikan pesan moral yang dapat terekam dalam memorinya. Pilihkan tema tentang perilaku yang baik dan tidak baik. Contoh, si Srigala yang suka berteriak-teriak sehingga dijauhi teman-temannya.


PENUTUP
A. Kesimpulan
Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. “Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya.
Reaksi emosional bayi berbeda terhadap beberapa rangsangan tertentu yang berlainan, bergantung sebagian besar pada pengalaman lalunya, Perbedaan-perbedaan dalam reaksi emosi mulai tampak dalam masa bayi dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kondisi-kondisi fisik dan mental bayi pada saat munculnya rangsangan dan berhasil tidaknya rekasi yang prnah diberikan sebelumnya dalam memenuhi kebutuhannya.
Memahami Tahapan Perkembangan Sosial-Emosi Bayi
a. 0-3 bulan
b. 3-6 bulan
c. 6-9 Bulan
d. 9-12 Bulan
Cara Menghadapi Bayi Yang Emosional
a. Berikan pelukan dan belaian sayang.
b. Lebih peka akan kebutuhan bayi.
c. Mengalihkan perhatian.
d. Bermain cermin.
e. Membaca buku atau mendongeng.

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dan untuk menjadikan makalah ini lebih baik lagi sebelumnya, penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca semua, guna untuk masukan dan wejangan serta inspirasi bagi penulis untuk pembuatan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), Penerbit Erlangga; Jakarta, 1980
http://keluargasehat.wordpress.com /2009/04/13/perkembangan-emosi-bayi
http://wangmuba.com /2009/04/12/perkembangan-emosi-anak/
http://keluargasehat.wordpress.com /2009/04/13/emosi-bayi
http://menantibuahhati.multiply.com /2009/04/13/ cara-cara menghadapi bayi emosional

MAKALAH PERKEMBANGAN FISIK PADA MASA REMAJA

PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN FISIK PADA MASA REMAJA

A. Definisi Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja.). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). (http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja
Dalam berbagai buku psikologi terdapat perbedaan pendapat tentang remaja namun pada intinya mempunyai pengertian yang hampir sama. Penggunaan istilah untuk menyebutkan masa peralihan masa anak dengan dewasa, ada yang menggunakan istilah puberty (inggris) puberteit (Belanda), pubertasi (latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian dan keperempuanan. Ada pula yang menyebutkan istilah adulescento (latin) yaitu masa muda. Istilah pubercense yang berasal dari kata pubis yang dimaksud dengan pubishair atau mulai tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan.
Istilah yang dipakai di Indonesia para ahli psikologi juga bermacam-macam pendapat tentang definisi remaja. Disini dapat diajukan batasan remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, adat dan tingkatan sosial ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah.(Sunarto : 1998 : 56)


Batasan usia 11 – 24 tersebut didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik)
2. Usia 11 tahun dianggap oleh masyarakat Indonesia sebagai masa akhir balig, baik menurut adat maupun agama, sehingga mereka tidak diperlakukan sebagai anak-anak. (kriteria sosial ).
3. Pada usia tersebut mulai ada tanda – tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.
4. Batas usia 24 merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberikan peluang bagi mereka kriteria sampai pada usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi)
5. Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang kriteria sudah menikah diusia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa.
Batasan usia diatas adalah sebagian pendapat dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli psikologi, pendapat lain tentang batasan usia remaja dikemukakan oleh Hurlock (1964) bahwa batasan usia remaja itu antara 13 sampai 21 tahun, yang terbagi menjadi dua yaitu ; remaja awal usia 13 – 14 tahun, dan remaja akhir usia 17 – 21 tahun.








B. Perubahan Fisik Selama Masa Remaja
Dalam masa remaja, penampilan anak berubah sebagai hasil peristiwa pubertas yang hormonal, mereka mengambil bentuk tubuh orang dewasa. Pikiran mereka juga berubah dengan artian mereka lebih dapat berpikir abstrak dan hipotesis, perasaan mereka berubah hampir terhadap segala hal, semua bidang cakupan perkembangan sebagai seorang remaja menghadapi tugas utama mereka, membangun identitas termasuk identitas seksual yang akan terus mereka bawa sampai masa dewasa.
Masa remaja merupakan suatu masa yang sangat menentukan karena pada masa ini seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. (papalia, diane E.,et. al. human development, psikologi perkembangan hal ; 529 )
Dengan berkurangnya perubahan fisik kecanggungan pada masa puber dan awal masa remaja pada umunya menghilang, karena remaja yang lebih besar sudah mempunyai waktu tertentu untuk mengawasi tubuhnya yang bertambah besar. Mereka juga terdorong untuk menggunakan kekuatan yang diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untuk mengatasi kecanggungan yang timbul kemudian.
Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan otot, anak laki-laki pada umumnya menunjukkan kekuatan yang terbesar pada usia 14 tahun, sedangkan anak perempuan menunjukkan kemajuan pada usia ini dan kemudian ditinggalkan karena perubahan minat lebih dari pada kurangnya kemampuan.
Perubahan fisik selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Perubahan Eksternal
Perubahan yang terjadi dan dapat dilihat pada fisik luar anak. Perubahan tersebut ialah:
a. Tinggi Badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi matang pada usia antara tujuh belas dan delapan belas tahun, rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun setelahnya.
Perubahan tinggi badan remaja dipengaruhi asupan makanan yang diberikan, pada anak yang diberikan imunisasi pada masa bayi cenderung lebih tinggi dari pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Anak yang tidak diberikan imunisasi lebih banyak menderita sakit sehingga pertumbuhannya terhambat.
b. Berat Badan
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi badan, perubahan berat badan terjadi akibat penyebaran lemak pada bagian-bagian tubuh yang hanya mengandung sedikit lemak atau bahkan tidak mengandung lemak.
Ketidak seimbangan perubahan tinggi badan dengan berat badan menimbulkan ketidak idealan badan anak, jika perubahan tinggi badan lebih cepat dari berat badan, maka bentuk tubuh anak menjadi jangkung (tinggi kurus), sedangkan jika perubahan berat badan lebih cepat dari perubahan tinggi badan, maka bentuk tubuh anak menjadi gemuk gilik / gembrot (gemuk pendek).
c. Proporsi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun, mencapai perbandingan yang tubuh yang baik. Misalnya badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu pandang.
d. Organ Seks
Baik laki-laki maupun perempuan organ seks mengalami ukuran matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.
e. Ciri – ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder yang utama, perkembangannya matang pada masa akhir masa remaja. Ciri sekunder tersebut antara lain ditandai dengan tumbunya kumis dan jakun pada laki-laki sedangkan pada wanita ditanda dengan membesarnya payudara.
2. Perubahan Internal
Perubahan yang terjadi dalam organ dalam tubuh remaja dan tidak tampak dari luar. Perubahan ini nantinya sangat mempengaruhi kepribadian remaja. Perubahan tersebut adalah:

a. Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-oto di perut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
b. Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia tujuh belas atau delapan belas, beratnya dua belas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.
c. Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun ; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan baru beberapa tahun kemudian.
d. Sistem Endokrin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidak seimbangan sementara dari seluruh system endokrin pada masa awal puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran yang matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa
e. Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas tahun. Jaringan selain tulang, khususnya bagi perkembangan otot, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran yang matang.







C. Kondisi – Kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja. Kondisi yang baik berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya.
Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut:
1. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa dari orang tuanya. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa remaja.
3. Pengaruh Gizi
Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibadingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan gizi cukup.
4. Gangguan Emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.
5. Jenis Kelamin
Anak laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak perempuan, kecuali pada usia 12 – 15 tahun. Anak perempuan baisanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki-laki. Hal ini terjadi karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki berbeda dengan perempuan. Anak perempuan lebih cepat kematangannya dari pada laki-laki .
6. Status Sosial Ekonomi
Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang bersal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang tinggi.
7. Kesehatan
Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik remaja. Remaja yang berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat dibanding yang sering sakit.
8. Pengaruh Bentuk Tubuh
Perubahan psikologis muncul antara lain disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat berpengaruh adalah; pertumbuhan tubuh (badan makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada perempuan dan "mimpi pertama" pada anak laki-laki ), dan tanda-tanda kelamin kedua yang tumbuh.














PENUTUP

a. Kesimpulan
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik remaja tersebut bukan saja menyangkut bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, melainkan juga meliputi perubahan ciri-ciri yang terdapat pada kelamin utama dan kedua. Baik laki-laki maupun perempuan perubahan fisik mengikuti urutan-urutan tertentu.
Kondisi yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah ; pengaruh keluarga, pengaruh gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, dan pengaruh bentuk tubuh. Disamping itu pengaruh lingkungan juga mempengaruhi perkembangan fisik remaja.

b. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang kita harapkan, maka dari pada itu penulis butuh kritikan dan saran dari ibu dosen pembimbing kita dan bagi teman-teman yang membacanya, yang sifatnya membanggun, demi kesempurnaannya kedepan.













DAFTAR PUSTAKA

Desmita ( 2006 ) Psykologi Perkembangan. Bandung. Rosdakarya
Sobur. Alex ( 2003 ) Psykologi Umum. Bandung. Pustaka Setia
Hurlock B Elizabeth ( 1980 ) Developmental Psychology. New York. Mc.Graw Hill Book Company. Inc
Sunarto. Ny. Hartono Agung ( 1999 ) Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Rineka Cipta
http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja.

Rabu, 20 Mei 2009

Perhitungan Jam Konselor Sekolah

Perhitungan 24 Jam /perminggu Konselor Sekolah
Pelayanan konseling di sekolah/madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual dan atau kelompok, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.
Dalam pratik penyelenggaraan di sekolah banyak kendala yang dihadapi; apalagi dengan adanya tuntutan sertifikasi bagi konselor sekolah, permasalahan yang sering dihadapi diantaranya banyak konselor sekolah yang masih belum menyetahui tentang bagaimana sebenarnya perhitungan jam bagi konselor sekolah dengan beban perminggu 24 jam pelajaran sementara untuk guru Mata Pelajaran jelas, mereka harus mengajar sebanyak 24 jam pelajaran/minggu lalu bagaimana dengan konselor sekolah?
Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh konselor sekolah berkenaan dengan penyelenggaraan BK di Sekolah diantaranya :
1. Kegiatan pelayanan konseling dapat dilaksanakan di dalam atau di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah. Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran maksimum 50 %.
2. Pelayanan konseling dilaksanakan dalam empat bidang Bidang Pelayanan Konseling
•Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
•Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
•Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
•Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
3. Keempat bidang Pelayanan Konseling tersebut diselenggarakan didalam 9 (sembilan) Jenis Layanan Konseling dan enam kegiatan pendukung;
Sembilan jenis layanan tersebut adalah:
a) Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
b) Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
c) Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
d) Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
e) Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
f) Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
g) Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
h) Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
i) Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarpeserta didik.
Enam kegiatan pendukung tersebut adalah:
a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
b. Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.
c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya.
e. Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan diri, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
f. Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
4. Satu kali penyelenggaraan salah satu layanan konseling ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran;contohnya :
•Seorang konselor sekolah meyelenggarakan layanan konseling perorangan dengan salah satu siswa yang diselenggarakan diluar maupun didalam jam sekolah nilainya sama dengan 2 jam pelajaran walaupun didalam penyelenggaraan konseling perorangan tersebut hingga 3 jam nyata;
•Konselor sekolah menyelenggarakan satu kali bimbingan kelompok terhadap 10 orang siswa dinilai ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran;
•Konselor sekolah menyelenggarakan layanan informasi dengan topik misalnya ”peningkatan motivasi belajar siswa” terhadap siswa kelas XI. ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.
•Pengadministrasian AUM umum atau PTSDL atau sosiometri kepada siswa kelas X dinilai ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.
Dengan syarat pemberian layanan dilengkapi dengan Satuan Layanan (SATLAN) atau SATKUNG ) dan Penilaian Segera (Laiseg) (harus tertulis).
•Dengan katalain 2 jam pelajaran yang dimaksud bukan berarti 2 jam pelajaran melakukan pelayanan. Melainkan satu kali pelayanan ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.
•Kesalah pahaman yang muncul misalnya untuk mendapat 24 jam pembelajaran Konselor sekolah harus masuk kelas sebanyak 24 kali dalam satu minggu karena biasanya waktu yang disediakan sekolah hanya 1 jam pelajaran tiap kelas satu minggu, hal itu dianggap tidak mungkin jika dihubungkan dengan 150 orang siswa asuh. 150 orang siswa asuh biasanya 4 kelas; artinya kalu masuk keempat kelas tersebut konselor Cuma memiliki 4 jam pembelajaran satu minggu; untuk mencukupi itu harus masuk 6 kali tiap kelas dalam satu minggu dan itu dipandang tidak mungkin; sehingga muncul pertanyaan kalau 150 orang 18 jam pembelajaran berapa orang siswa untuk 24 jam pembelajaran??.
•Sekali lagi ditegaskan bahwa satu kali layanan ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran dan konselor sekolah dapat menyelenggarakan Kegiatan pelayanan konseling di dalam atau di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah. Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran maksimum 50 %.
•150 orang siswa adalah lahan yang bisa digarap konselor sekolah untuk penyelenggaraan pelayanan konseling: artinya untuk mendapatkan 24 jam pembelajaran sangat mudah: misalnya dengan melakukan konseling perorangan kepada 12 orang siswa dalam waktu satu minggu artinya hal tersebut sudah bernilai 24 jam pembelajaran. Atau dengan menyelenggarakan 12 kali bimbingan kelompok juga bernilai 24 jam pembelajaran. Sekali lagi ditegaskan harus dilengkapi Dengan syarat pemberian layanan dilengkapi dengan Satuan Layanan (SATLAN) atau SATKUNG ) dan Penilaian Segera (Laiseg) (harus tertulis).

Proses Konseling dan Psikoterapi

Proses Konseling dan Psikoterapi
Terdapat tujuh langkah proses konseling dan psikoterapi yang dijelaskan dalam Brammer and Shostrom (1982), yaitu:
1. Tahap 1: membangkitkan minat dan membahas perlunya bantuan pada diri klien
Tujuan tahap ini adalah memungkinkan klien mengemukakan masalahnya dan mengetahui sejauh mana klien menyadari perlunya bantuan dan menyiapkan dirinya dalam proses konseling. Strategi yang dapat digunakan: menyambut klien dengan hangat, membantu klien menjelaskan inti masalah yang dialaminya
2. Tahap 2: membina hubungan
Tujuan dari tahap ini adalah membangun suatu hubungan yang ditandai oleh adanya kepercayaan klien atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Suksesnya konseling ditentukan oleh: keahlian, kemenarikan dan layak untuk dipercayai.
3. Tahap 3: menetapkan tujuan konseling dan menjelajahhi berbagai alternative yang ada
Tujuan dari tahap ini adalah membahas bersama klien apa yang diinginkannya dalam proses konseling. Klien diajak untuk merumuskan tujuan berkaitan dengan permasalahannya.
4. Tahap 4: bekerja dengan masalah dan tujuan
Tujuan dari tahap ini adalah ditentukan oleh masalah klien, pendekatan dan teori yang digunakan konselor, keinginan klien dan gaya komunikasi yang dibangun oleh keduanya. Beberapa kegiatan dalam tahap ini: klarifikasi sifat dasar masalah dan memilih strategi, proses problem solving, penyelidikan perasaan klien lebih jauh, nilai dan batas pengekspresian perasaan, mengekpresikan perasaan dalam model aktualisasi.
5. Membangkitkan kesadaran klien untuk berubah
Pada tahap kelima ini hal yang penting konselor mulai bekerja dari pembahasan perasaan sampai memiliki kesadaran, hal ini bertujuan untuk membantu klien memperoleh kesadaran yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan mereka selama mengikuti proses konseling.
6. Perencanaan dan kegiatan
Tujuannya adalah membantu klien untuk menempatkan ide-ide dan kesadaran baru yang ditemukan ke dalam tindakan kehidupan sesungguhnya dalam rangka mengaktualisasikan model.
7. Evaluasi hasil dan mengakhiri konseling
Kriteria utama keberhasilan konseling dan indikator kunci mengakhiri proses konseling dan terapi adalah sejauh mana klien mencapai tujuan konseling.

Readiness and Diagnosis in Counseling and Psikoterapy

Readiness and Diagnosis in Counseling and Psikoterapy
Kesiapan dalam proses konseling sedikit banyak dapat dipahami hampir sama dengan konsep pembejaran pada umumnya. Artinya dalam proses pembelajaran baik pendidik maupun peserta didik kedua-duanya sama-sama mempersiapkan diri sebelum proses menjalani pembelajaran tersebut. Dalam penyelenggaraan konseling ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan konselor diantaranya; kemampuan/ kekuatan konsep dan keterbukaan dalam memberikan/ menerima informasi tentang diri sendiri. Metode dalam mempersiapkan klien: membicarakan/ mendiskusikan pentingnya pelaksanaan proses konseling berkaitan dengan permasalahan yang dialami klien, memotivasi klien untuk mencari/ menghubungi lembaga/ agen yang dapat memberikan bantuan secara khusus berkaitan dengan permasalahan yang dialami, melakukan referral/ alih tangan kasus ketika permasalahan yang dihadapi membutuhkan bantuan ahli secara spesifik, memberikan informasi yang berkaitan dengan permasalahan klien, memotivasi klien untuk mengikuti proses “pendidikan” secara khusus dan intensif berkaitan dengan permasalahannya.
Dalam duni kedokteran diagnosis berarti menemukan hipotesa dari gejala-gejala yang teramati, tidak jauh berbeda dengan pemahaman tersebut, diagnosis dalam konseling bertujuan untuk membuat hipotesa sementara mengenai permasalahan yang dialami klien. Hal ini dapat diamati melalui perilaku, ungkapan, penjelasan klien terhadap permasalahan yang dialami. Dengan hipotesa, konselor dapat lebih mudah menjelajahi klien sehingga menemukan teknik/ metoda yang tepat dalam mengentaskan permasalahan klien dan mengarahkan kemandirikan klien.

Hambatan-hambatan dalam Mewujudkan Hubungan dalam Konseling

Hambatan-hambatan dalam Mewujudkan Hubungan dalam Konseling

Ada beberapa hal yang menjadi penghambat dalam dalam Mewujudkan Hubungan dalam Konseling diantaranya:
Transference; mengacu kepada perasaan apapun yang dinyatakan atau dirasakan klien (cinta, benci, marah, ketergantungan) terhada konselor, baik berupa reaksi rasional terhadap kepribadian konselor ataupun proyeksi terhadap tingkah laku awal dan sikap-sikap selanjutnya konselor. Penyebab terjadinya transference adalah konselor mampu memahami klien lebih dari klien memahami diri mereka sendiri dan dikarenakan konselor mampu bersifat ramah dan secara emosional bersifat hangat. Jenis transference: positif (proyeksi perasaan bersifat kasih sayang, cinta, ketergantungan) dan negative (proyeksi rasa permusuhan dan penyerangan). Sumber perpindahan perasaan: 1) pengalaman-pengalaman masa lalu klien yang mengalami kegagalan dalam perkembangan yang diistilahkan Gestal dengan situasi yang tak terselesaikan, klien membawa berbagai alat manipulasi lingkungan, tetapi cenderung kurang memiliki dukungan dari diri sendiri yang merupakan suatu kualitas penting untuk bertahan. 2) Klien merasa takut akan penolakan dan ketidakpercayaan, hal ini merupakan bentuk perlawanan, sehingga klien memanipulasi konselornya dengan memakai topeng seolah-olah dia orang yang baik. Fungsi transference: membantu hubungan denganmemberikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan yang menyimpang, mempromosikan atau meningkatkan rasa percaya diri klien, mebuat klien menjadi sadar tentang pentingnya dan asal dari perasaan ini pada kehidupan mereka di masa sekarang melalui intepretasi perasaan tersebut.
Countertranference; reaksi emosional dan proyeksi dari konselor kepada klien yang sudah menjadi makna standar dalam konseling dan psikoterapi. Sumber pemindahbalikan perasaan: a) konselor tidak mampu menyelesaikan masalah pribadi, b) tekanan situasi, proses konseling dari awal, proses dan pertemuan-pertemuan selanjutnya banyak hal yang ditemui konselor dari klien, c) komunikasi perasaan klien kepada konselor. Tanda-tanda perasaan pemindah balik: tidak memperhatikan pernyataan klien dengan jelas, menolak kehadiran kecemasan, menjadi simpatik dan empatik berlebihan, mengabaikan perasaan klien, tidak mampu mengidentifikasi perasaan klien, membuka kecenderungan beragumentasi dengan klien, kepedulian yang berlebihan, bekerja terlalu keras dan melelahkan, erasaan terpaksa dan kewajiban terhadap klien, perasaan menilai klien baik/ tidak baik. Pengontolan/ tindakan yang dapat dilakukan konselor dalam countertranference: supervisor, diskusi dengan klien, perkembangan konselor, kelompok konseling/ terapi, analisis model dan video type.
Resistensi; perlawanan terhadap usaha mengubah hal yang tidak disadari menjadi hal yang disadari serta mobilisasi fungsi-fungsi penindasan (represif) dan perlindungan (protektif) ego. Sumber resistensi: internal (kekhawatiran pertumbuhan dan ketidakmauan untuk mendiri), eksternal (akibat dari teknik yang digunakan kurang tepat, kurangnya persiapan yang semestinya), campuran (kelelahan, penyakit, kelelahan mental, hambatan bahas asing, psikosis. Fungsi Positif resistensi: memberikan indikasi kemajuan wawancara secara umum dan menjadi landasan bagi perumusan diagnose dan prognosa dan petunjuk mengenai struktur defensive klien yang menimbulkan, atau sebagai informasi bagi konselor bahwa klien mau meneliti perasaan saat itu.

Konseling Psikoanalisis Klasik (Sigmund Freud)

Konseling Psikoanalisis Klasik (Sigmund Freud)
1. Hakekat Manusia Menurut Freud
• Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini
• Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
• Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
• Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
• Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.
2.Perkembangan Kepribadian
•Struktur keperibadian
1) Id, adalah sistem keperibadian yang asli yang ada semenjak individu lahir. Id berisikan semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Alwisol(2006:16).
Calvin S. Hall dan Gardner dalam A. Supratiknya (1993:63) id merupakan sistem kepribadian yang asli; id merupakan rahim tempat ego dan super ego berkembang. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir termasuk insting-insting. Id merupakan reservior energi psikis yang menyediakan seluruh daya untuk menjalankan kedua sistem yang lain. Id berhubungan erat dengan proses-proses jasmaniah dari mana id mendapatkan energinya.
2)Ego adalah struktur kepribadian menurut Freud yang berurusan dengan tuntutan realitas. Ego disebut “badan pelaksana” (executive branch) kepribadian, karena ego membuat keputusan rasional. Id dan ego memiliki moralitas. Id dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Jhon W. Santrock dalam Achmad Chusairi (1995:36).
Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan obyektif. Orang yang lapar harus mencari, menemukan dan memakan makanan sampai tegangan karena rasa lapar dapat dihilangkan. Ini berarti orang harus belajar membedakan antara gambaran ingatan tentang makanan dan persepsi aktual terhadap makanan seperti yang ada di dunia luar.
Setelah melakukan pembedaan yang sangat penting ini. Maka perlu mengubah gambaran kedalam persepsi, yang terlaksana dengan menghindarkan gambaran ingatan tentang makanan dengan penglihatan atau penciuman terhadap makanan yang dialaminya melalui pancaindra. Ego dikatakan mengikuti prinsip kenyataan. Dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Calvin S. Hall dan Gardner dalam A. Supratiknya (1993:64)
3) Super ego adalah struktur kepribadian Freud yang merupakan badan moral kepribadian dan benar-benar memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Super ego dapat dikatakan sebagai “hati nurani”. Jhon W. Santrock dalam Achmad Chusairi (1995:37).
Menurut Alwisol (2006:18) super ego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakia prinsip idealistik sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistik ego. Sedangkan menurut Koswara (1991:34) super ego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik buruk). Super ego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru.
•Keperibadian yang normal (sehat).
1) Kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2) Hasil dari belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan.
3) Kesehatan mental yang baik adalah hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego. Prayitno (1998:42)
•Keperibadian yang menyimpang (TLSS).
1) Dinamika yang tidak efektif antar super ego
2) Proses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak
3.Tujuan Konseling
Tujuan terapi/konseling menurut Alwisol (2006:42) bukan semata-mata untuk menghilangkan sindrom yang tidak dikehendaki, tetapi terutama bertujuan memperkuat ego sehingga mempu mengontrol impuls insting, dan memperbesar kapasitas individu untuk mencintai dan berkarya. Klien belajar bagaimana mensublimasikan impuls agresi dan impuls seksual, belajar bagaimana mengarahkan keinginan dan bukan malah diarahkan oleh keinginan.
Prayitno (1998:44) mengemukakan tujuan konseling adalah
1) Membawa ke kesadaran dorongan-dorongan yang ditekan ketidaksadaran yang mengakibatkan kecemasan.
2) Memberi kesempatan kepada klien menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.
4.Proses dan Teknik Konseling
Teknik yang dapat dipakai dalam mengatasi masalah klien menurut Alwisol (2006:42) adalah terutama asosiasi bebas, analisis mimpi, interpretasi, analisis resisten, tranferensi, dan pengulangan.
5.Kharakteristik konselor
(a) Empaty, yaitu merespon dengan cara lain tetapi mempunyai arti yang sama dengan yang dikemukakan oleh klien.
(b) Respek, yaitu komunikasi hormat tanpa syarat.
(c) Tulus-ikhlas, yaitu cara konselor mengemukakan persepsinya secara jujur.
(d) Konkrit, yaitu mengurusi pengalaman-pengalaman yang spesifik. Carkhuff dalam Soli Abimayu (1992:100)
6.Contohnya
Klien, semasa kanak-kanak sering dipukul/menerima penyiksaanfisik dengan ikat pinggang kulit warna hitam oleh orang tuanya. Sehingga, sampai dewasa muncul kecemasan dalam diri klien. Ketika melihat ikat pinggang kulit warna hitam, klien langsung lari ketakutan.