JIKA ANAK SUKA MENCURI
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
JIKA ANAK SUKA MENCURI
Kadang-kadang orang tua merasa terkejut dan bingung sewaktu pertama kali mengetahui anaknya mencuri. Orang tua lantas mungkin berpikir bahwa ini merupakan hal yang wajar dalam perkembangan anak. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Meskipun banyak anak mencuri tak berarti itu merupakan bagian dari perkembangan anak. Jadi, sekecil apa pun pencurian yang dilakukan anak, orang tua harus melarang dan menghentikannya.
Barangkali, suatu waktu mencuri merupakan masalah dalam keluarga. Boleh dikata hal ini kerap kali terjadi, terutama dalam keluarga yang memiliki anak berusia empat sampai tujuh tahun. Pada usia ini anak cenderung untuk mengambil apa yang bukan haknya. Sebelum kita menemukan cara untuk memecahkannya, seringkali kita melakukan berbagai kesalahan dulu sebelum akhirnya kita berhasil mengobati kebiasaan mencuri ini dan dengan demikian menemukan rasa saling pengertian dengan anak-anak kita.
Walaupun mencuri merupakan perilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, akan tetapi beberapa anak tetap berusaha memuaskan kebutuhannya dengan mencuri. Menurut seorang ahli, ternyata anak-anak itu dalam alam bawah sadarnya seolah-olah mempunyai anggapan bahwa mencuri itu perbuatan yang bisa diterima. Dan anggapan ini sen-diri bisa berasal dari teman-teman mereka, orang tua atau masyarakat sekelilingnya.
Meski tampaknya orang tua tegas di rumah, namun ada-ada saja di antara anak yang suka mencuri, apakah itu barang orang lain, atau barang milik anggota keluarga. Untuk itulah perlu satu cara pendekatan yang manis dan akrab untuk mengubah sifat anak yang suka mencuri itu. Dan bila ternyata cara yang akrab itu tidak dicapai, maka buyarlah harapan-harapan anak, dan orang tua bertindak kasar serta mematahkan jiwa anak.
Sebenarnya, perbuatan mencuri yang dilakukan anak-anak balita bukanlah tingkah laku yang menyimpang. Tetapi bila orang tua tidak menanganinya dengan benar, tingkah laku yang tidak berbahaya itu dapat mengarah menjadi perbuatan yang berakibat lebih jauh.
Mencuri di kalangan anak-anak balita sering terjadi. Ini disebabkan karena mereka belum mempunyai konsep kemilikan. Anak-anak belum mempunyai batas yang tegas antara milik sendiri dan milik orang lain. Bila mereka melihat sesuatu yang disukainya, mereka akan mengam-bilnya. Bagi mereka seolah berlaku prinsip: “Aku lihat, aku suka, aku mau, aku ambil.
Jadi hendaknya jangan dilupakan, bahwa bagi anak kecil penger-tian seperti kemilikan atau hak milik adalah sesuatu yang samar-samar. Misalnya saja, pada usia tiga tahunan lebih anak mulai menggunakan kata-kata “.. .ku” atau “.. .mu” dan itu pun mungkin masih dua-tiga tahun lagi digunakan, sedangkan maksudnya tetap masih belum jelas.
Sehubungan dengan kesulitan bawaan dalam hal menghargai apa yang jadi “milik” mereka dan yang bukan, maka dalam keluarga yang baik-baik anak-anak mendapat kesempatn cukup leluasa untuk melihat, berbagi dan menggunakan bahan atau benda-benda dalam rumah, namun sekaligus diberi bimbingan untuk mengetahui apa yang tidak boleh mereka pakai karena barang tertentu adalah kepunyaan ayah, ibu atau adik kecil, dan hak si pemilik atas barang itu hams selalu dihor-mati. Kemudian, hak milik anak itu sendiri seharusnya juga dihormati, sehingga dari pengalaman tangan pertama ini anak tahu akan batas-batas antara hak milik dan sanksi-sanksi pelindungnya.
Mencuri pada dasarnya selalu menyangkut pihak lain dalam arti tidak menguntungkan. Jelas di sini bahwa ada pihak ketiga yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan anak, yang justru menderita akibat perbuatan anak tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa pihak ketiga ini menjadi korban dari persoalan yang disebabkan oleh pihak-pihak lain yang sama sekali tidak ada hubungannya. Karena pencurian merupakan perbuatan yang sering ingin ditutupi oleh orang tua agar tidak merusak nama baik keluarga, maka persoalan yang telah menjadi pangkal sebab perbuatan tersebut juga telah ditutup saja, sehingga akan menambah jumlah korban yang tidak tahu-menahu mengenai adanya persoalan tersebut.
Karena anak-anak yang mencuri sering kali menimbulkan masalah dalam keluarga, maka dalam situasi seperti ini orang tua mudah dimanipulasi oleh anak. Kalau anak sampai mengadu domba antara orang tua yang satu dengan orang tua yang lain, dengan sendirinya hal ini dapat membahayakan hubungan antara anggota keluarga dan juga mempersulit penyelesaian masalah itu.
Namun meskipun demikian, dalam mempersoalkan perbuatan ini dalam hubungan anak-anak kecil, kita harus bersikap hati-hati dengan ucapan kita sendiri. Kita sebaiknya menghindari penggunaan kata”men-curi” dan “pencuri” terhadap anak kecil. Anak kecil umumnya belum menyadari bahwa memperoleh sesuatu dengan cara mengambilnya dari orang lain, berarti bahwa orang lain itu kehilangan benda atau barang yang telah diambilnya. Anak kecil belum mengerti bahwa dengan mengambil benda yang dinginkan tanpa izin si pemilik, ia melanggar hak milik teman tersebut dan akan merugikan si teman itu.
Memang, kemungkinan bahwa gejala mencuri hinggap karena pengaruh-pengaruh yang kurang baik sebagai akibat pergaulan yang tak terbatas. Namun sebenarnya persoalan terletak pada cara memberi pen-didikan pada anak itu sendiri. Si anak tidak akan mudah terpengaruh demikian saja oleh teman-temannya, bila dia diberi modal jiwa yang kuat dan pengertian yang baik.
Guna mencegah dan mengatasi masalah mencuri pada anak-anak, beberapa petunjuk di bawah ini barangkali bisa dijadikan pedoman.
1.Jangan memancing si anak untuk mencuri, misalnya meletakkan
uang di atas meja.
2.Tunjukkanlah kepada anak, bahwa kita mencintainya, juga
pada waktu ia mencuri. Katakanlah bahwa mencuri membuat perasaan
korban tidak senang. la pun tentu akan mengalami perasaan yang sama
bila ada orang lain mencuri miliknya.
3.Tanamkan sistem benar dan salah di rumah kita. Jika seorang
anak mencuri barang anak lain, katakanlah kepadanya agar ia mengem-
balikannya.
4.Tunjukkan kepada anak bahwa ia diperlukan dan dihargai.
Anak yang merasa dihargai tidak akan mencuri.
5.Jika anak ingin membeli sesuatu, percayailah, berilah dia uang
dan biarkan ia membelinya sendiri.
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur
Senin, 22 Juni 2009
Tanggung Jawab
Melatih Tanggung Jawab
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Melatih Tanggung Jawab
Tanggung jawab dapat diartikan dengan “bertindak tepat tanpa perlu diperingatkan.” Sedangkan bertanggung jawab merupakan sikap tidak tergantung dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Sifat dapat diserahi tanggung jawab seseorang akan terlihat pada cara ia bertindak dalam keadaan darurat dan cara ia melakukan pekerjaan rutin-nya. Sebenarnya itu tidak merupakan sifat tetapi sikap yang telah men-cakup sifat memperhatikan, ketelitian, kecakapan, dan Iain-lain. Umumnya sifat demikian tidak diturunkan dari orang tua melainkan sesuatu yang dapat dilatih.
Jelasnya, pengertian tanggung jawab di sini adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakannya akan mempunyai pengaruh bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Karena menyadari bahwa tindakannya itu berpengaruh terhadap orang lain ataupun diri sendiri, maka ia akan berusaha agar tindakan-tindakannya hanya memberi pengaruh positif saja terhadap orang lain dari diri sendiri dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Dalam keadaan yang kepentingan diri sendiri harus dipertentangkan dengan kepentingan orang lain, maka seorang yang bertanggung jawab akan berusaha memenuhi kepentingan orang lain terlebih dalu.
Sebenarnya kemampuan anak tidak hanya berkembang secara fisik, sebab secara psikologis pun setiap anak akan memperkembangkan rasa tanggung jawab seiring dengan perkembangan emosi dan sosialnya. Makin besar anak, rasa tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar pun semakin berkembang. Namun, tentu saja semuanya mem-butuhkan rangsangan, agar potensi yang telah ada berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Caranya adalah dengan memberi banyak latihan dan bimbingan yang membutuhkan banyak kesabaran.
Salah satu ciri dari perkembangan emosi dan sosial pada anak adalah adanya rasa tanggung jawab yang lebih besar. Berkembangnya rasa tanggung jawab ini ditandai dengan usaha serta jerih payah anak untuk melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar. Setiap langkah serta sikap yang mereka ambil hampir dipastikan selalu telah melalui perhitungan yang masak. Semua ini mereka lakukan dalam usaha untuk mewujudkan citra diri yang baik guna memenuhi harapan-harapan orang tua terhadap mereka.
Menanamkan rasa tanggung jawab sebaiknya dilakukan dengan memberi contoh konkrit. Kalau orang tua seenaknya membuang pun-tung rokok atau kulit pisang sembarangan, segala nasihat atau anjuran tidak akan ada hasilnya. Orang tua ada-lah cermin bagi anak-anak dan contoh yang paling dekat untuk ditiru.
Dari sikap dan tingkah laku orang tua, anak secara berangsur-angsur belajar untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Ini berarti anak perlu belajar bahwa apa yang dilakukannya itu mempunyai konsekuensi yang sesuai maupun tidak. Misalnya, anak makan lambat sehingga terlambat datang ke sekolah. Dan kemudian orang tua sengaja tidak menyuruhnya cepat-cepat menghabiskan makanannya serta mem-biarkan ia dimarahi guru atas keterlambatannya itu. Apa yang dilakukan orang tua ini sudah merupakan salah satu cara untuk menga-jarkan anak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.
Menjadi orang tua, memang dituntut suatu sikap serta tanggung jawab yang besar juga. Dalam usahanya untuk menjadi tokoh yang dikagumi, sehingga anak-anak meniru mereka, ia tidak hanya meniru apa yang dilihatnya, ia juga mengambil alih perasaan-perasaan orang tua dan mengidentifikasikan diri dengan mereka. Sikap orang tua ini akan meresap dalam kalbu anak dan anggota keluarga yang lain. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan gotong-royong untuk kepentingan bersama nanti akan menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungannya.
Kebanyakan anak ingin melakukan sesuatu dengan benar. Di sam-ping itu mereka juga ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi, sikap tidak percaya yang ditampilkan orang tua atau orang dewasa lain-nya dengan sekejap dapat mematahkan semua keinginan anak tersebut.
Pada hakikatnya kepercayaan orang tua merupakan sumber keper-cayaan diri anak. Jadi, apabila orang tua percaya pada usaha anak dan bahwa anak bisa menampilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan, maka anak pun akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Namun, bila anak merasa bahwa orang tua mereka tidak memper-cayainya, anak akan merasa terombang-ambing. la tidak akan memiliki rasa percaya diri bahwa ia akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Ini pula yang membuat anak seperti tidak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.
Di dalam berbagai hubungan, orang tua tidak patut menuntut terlalu banyak dari anak. Tidak patut menganggap si anak sebagai orang dewasa, yang sudah patut menerima tanggung jawab yang lebih besar. Betapapun, si anak harus diperlakukan sebagai anak sesuai dengan kesanggupannya, menyesuaikan tanggung jawab itu sesuai dengan usia dan kemampuan fisik dan mentalnya. >n~:i~ bnf
Acap kali orang tua salah memberi tanggung jawab kepada anak di rumah, tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul, mereka memaksakan si anak melakukan tugas yang sebenarnya belum dapa; diselesaikannya. Hal seperti ini membuat si anak merasa kuatir tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kekuatiran semacam ini dapat membahayakan perkembangan kepribadian anak.
Kita seyogianya menyadari, bahwa setiap anak dalam suatu keluarga merupakan pribadi-pribadi unik. Masing-masing berbeda secara individual, baik dalam perkembangan maupun kepribadiannya. Oleh sebab itu jenis tugas yang sama belum tentu dapat diselesaikan dengan hasil yang sama baiknya oleh setiap anak. Misalnya saja, saat Elis berusia 5 tahun ia telah mampu rserapikan tempat tidurnya sendiri, suatu prestasi yang belum dapat dicapai saudara-saudaranya sampai beberapa waktu kemudian. Tidaklah bijaksana untuk membanding-bandingkan kemampuan anak yang satu dengan yang lain dalam keluarga. Usia bukanlah satu-satunya faktor yang dapat dijadikan bahan perbandingan. Ada faktor lain yang menunjang kemampur i mereka untuk dapat menyelesaikan suatu tugas tertentu, misalnya faktor ketelitian. Namun secara umum, tahapan usia tetap dapat dipakai sebagai patokan dasar.
Anak yang biasa dihadapkan pada keadaan yang penuh tantangan akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Di samping itu ia akan lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas rutin kehidupan keluarganya maupun sekolah. Dengan memberi kesempatan pada anak untuk ikut bertanggung jawab berarti secara tidak langsung orang tua mengatakan pada anak, “Ayah percaya kepadamu” atau “Ibu percaya kamu akan mengambil keputusan yang benar.”
Rasa tanggung jawab bukanlah hal yang dapat diletakkan pada seseorang dari luar. Rasa tanggung jawab tumbuh dari dalam, men-dapatkan pemupukan dan pengarahan dari nilai-nilai yang kita hirur dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasa tanggung jawab yang tid- . bertumpu pada nilai-nilai positif, dapat berubah menjadi sesuatu yang asosial dan destruktif
Berbicara mengenai tanggung jawab ini, Dr. Haim G. Ginott, dalam bukunya “Between Parent and Child” berpendapat, rasa tanggung jawab sejati harus bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusian: hormat kepada hidup sesama manusia, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan. Namun kita jarang melihat masalah tanggungg jawab dalam kerangka yang lebih luas itu. Kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang kongkret: kamar anak bersih atau tidak; anak sering terlambat datang ke sekolah atau tidak; bagaimana dengan pekerjaan rumahnya; bagaimana dengan latihan tarinya; tingkah lakunya sopan atau tidak dan sebagainya.
Sesungguhnya, sebagaimana sering dikatakan para ahli, bahwa anak harus belajar bertanggung jawab atas empat hal. Mainannya, pakaiannya, binatang peliharaannya dan yang terpenting dirinya sendiri. Sebaiknya tanggung jawab diajarkan sedini mungkin. Karena makin terlambat tanggung jawab diajarkan, makin sulitlah baginya kelak untuk memikul tanggung jawab itu. Dan, orang tualah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam hal menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Melatih Tanggung Jawab
Tanggung jawab dapat diartikan dengan “bertindak tepat tanpa perlu diperingatkan.” Sedangkan bertanggung jawab merupakan sikap tidak tergantung dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Sifat dapat diserahi tanggung jawab seseorang akan terlihat pada cara ia bertindak dalam keadaan darurat dan cara ia melakukan pekerjaan rutin-nya. Sebenarnya itu tidak merupakan sifat tetapi sikap yang telah men-cakup sifat memperhatikan, ketelitian, kecakapan, dan Iain-lain. Umumnya sifat demikian tidak diturunkan dari orang tua melainkan sesuatu yang dapat dilatih.
Jelasnya, pengertian tanggung jawab di sini adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakannya akan mempunyai pengaruh bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Karena menyadari bahwa tindakannya itu berpengaruh terhadap orang lain ataupun diri sendiri, maka ia akan berusaha agar tindakan-tindakannya hanya memberi pengaruh positif saja terhadap orang lain dari diri sendiri dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Dalam keadaan yang kepentingan diri sendiri harus dipertentangkan dengan kepentingan orang lain, maka seorang yang bertanggung jawab akan berusaha memenuhi kepentingan orang lain terlebih dalu.
Sebenarnya kemampuan anak tidak hanya berkembang secara fisik, sebab secara psikologis pun setiap anak akan memperkembangkan rasa tanggung jawab seiring dengan perkembangan emosi dan sosialnya. Makin besar anak, rasa tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar pun semakin berkembang. Namun, tentu saja semuanya mem-butuhkan rangsangan, agar potensi yang telah ada berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Caranya adalah dengan memberi banyak latihan dan bimbingan yang membutuhkan banyak kesabaran.
Salah satu ciri dari perkembangan emosi dan sosial pada anak adalah adanya rasa tanggung jawab yang lebih besar. Berkembangnya rasa tanggung jawab ini ditandai dengan usaha serta jerih payah anak untuk melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar. Setiap langkah serta sikap yang mereka ambil hampir dipastikan selalu telah melalui perhitungan yang masak. Semua ini mereka lakukan dalam usaha untuk mewujudkan citra diri yang baik guna memenuhi harapan-harapan orang tua terhadap mereka.
Menanamkan rasa tanggung jawab sebaiknya dilakukan dengan memberi contoh konkrit. Kalau orang tua seenaknya membuang pun-tung rokok atau kulit pisang sembarangan, segala nasihat atau anjuran tidak akan ada hasilnya. Orang tua ada-lah cermin bagi anak-anak dan contoh yang paling dekat untuk ditiru.
Dari sikap dan tingkah laku orang tua, anak secara berangsur-angsur belajar untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Ini berarti anak perlu belajar bahwa apa yang dilakukannya itu mempunyai konsekuensi yang sesuai maupun tidak. Misalnya, anak makan lambat sehingga terlambat datang ke sekolah. Dan kemudian orang tua sengaja tidak menyuruhnya cepat-cepat menghabiskan makanannya serta mem-biarkan ia dimarahi guru atas keterlambatannya itu. Apa yang dilakukan orang tua ini sudah merupakan salah satu cara untuk menga-jarkan anak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.
Menjadi orang tua, memang dituntut suatu sikap serta tanggung jawab yang besar juga. Dalam usahanya untuk menjadi tokoh yang dikagumi, sehingga anak-anak meniru mereka, ia tidak hanya meniru apa yang dilihatnya, ia juga mengambil alih perasaan-perasaan orang tua dan mengidentifikasikan diri dengan mereka. Sikap orang tua ini akan meresap dalam kalbu anak dan anggota keluarga yang lain. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan gotong-royong untuk kepentingan bersama nanti akan menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungannya.
Kebanyakan anak ingin melakukan sesuatu dengan benar. Di sam-ping itu mereka juga ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi, sikap tidak percaya yang ditampilkan orang tua atau orang dewasa lain-nya dengan sekejap dapat mematahkan semua keinginan anak tersebut.
Pada hakikatnya kepercayaan orang tua merupakan sumber keper-cayaan diri anak. Jadi, apabila orang tua percaya pada usaha anak dan bahwa anak bisa menampilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan, maka anak pun akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Namun, bila anak merasa bahwa orang tua mereka tidak memper-cayainya, anak akan merasa terombang-ambing. la tidak akan memiliki rasa percaya diri bahwa ia akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Ini pula yang membuat anak seperti tidak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.
Di dalam berbagai hubungan, orang tua tidak patut menuntut terlalu banyak dari anak. Tidak patut menganggap si anak sebagai orang dewasa, yang sudah patut menerima tanggung jawab yang lebih besar. Betapapun, si anak harus diperlakukan sebagai anak sesuai dengan kesanggupannya, menyesuaikan tanggung jawab itu sesuai dengan usia dan kemampuan fisik dan mentalnya. >n~:i~ bnf
Acap kali orang tua salah memberi tanggung jawab kepada anak di rumah, tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul, mereka memaksakan si anak melakukan tugas yang sebenarnya belum dapa; diselesaikannya. Hal seperti ini membuat si anak merasa kuatir tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kekuatiran semacam ini dapat membahayakan perkembangan kepribadian anak.
Kita seyogianya menyadari, bahwa setiap anak dalam suatu keluarga merupakan pribadi-pribadi unik. Masing-masing berbeda secara individual, baik dalam perkembangan maupun kepribadiannya. Oleh sebab itu jenis tugas yang sama belum tentu dapat diselesaikan dengan hasil yang sama baiknya oleh setiap anak. Misalnya saja, saat Elis berusia 5 tahun ia telah mampu rserapikan tempat tidurnya sendiri, suatu prestasi yang belum dapat dicapai saudara-saudaranya sampai beberapa waktu kemudian. Tidaklah bijaksana untuk membanding-bandingkan kemampuan anak yang satu dengan yang lain dalam keluarga. Usia bukanlah satu-satunya faktor yang dapat dijadikan bahan perbandingan. Ada faktor lain yang menunjang kemampur i mereka untuk dapat menyelesaikan suatu tugas tertentu, misalnya faktor ketelitian. Namun secara umum, tahapan usia tetap dapat dipakai sebagai patokan dasar.
Anak yang biasa dihadapkan pada keadaan yang penuh tantangan akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Di samping itu ia akan lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas rutin kehidupan keluarganya maupun sekolah. Dengan memberi kesempatan pada anak untuk ikut bertanggung jawab berarti secara tidak langsung orang tua mengatakan pada anak, “Ayah percaya kepadamu” atau “Ibu percaya kamu akan mengambil keputusan yang benar.”
Rasa tanggung jawab bukanlah hal yang dapat diletakkan pada seseorang dari luar. Rasa tanggung jawab tumbuh dari dalam, men-dapatkan pemupukan dan pengarahan dari nilai-nilai yang kita hirur dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasa tanggung jawab yang tid- . bertumpu pada nilai-nilai positif, dapat berubah menjadi sesuatu yang asosial dan destruktif
Berbicara mengenai tanggung jawab ini, Dr. Haim G. Ginott, dalam bukunya “Between Parent and Child” berpendapat, rasa tanggung jawab sejati harus bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusian: hormat kepada hidup sesama manusia, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan. Namun kita jarang melihat masalah tanggungg jawab dalam kerangka yang lebih luas itu. Kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang kongkret: kamar anak bersih atau tidak; anak sering terlambat datang ke sekolah atau tidak; bagaimana dengan pekerjaan rumahnya; bagaimana dengan latihan tarinya; tingkah lakunya sopan atau tidak dan sebagainya.
Sesungguhnya, sebagaimana sering dikatakan para ahli, bahwa anak harus belajar bertanggung jawab atas empat hal. Mainannya, pakaiannya, binatang peliharaannya dan yang terpenting dirinya sendiri. Sebaiknya tanggung jawab diajarkan sedini mungkin. Karena makin terlambat tanggung jawab diajarkan, makin sulitlah baginya kelak untuk memikul tanggung jawab itu. Dan, orang tualah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam hal menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur
Rasa Ingin Tahu
Makna Pertanyaan dan Rasa Ingin Tahu
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Makna Pertanyaan dan Rasa Ingin Tahu
Semenjak dilahirkan, manusia memang merupakan makhluk yang selalu ingin tahu. Dalam diri setiap insan akan timbul rasa puas apabila mereka dapat menyelidiki hal-hal yang menggugah rasa ingin tahu mereka. Selama keinginan itu tidak dicegah oleh pihak luar, maka sepanjang hidupnya rasa ingin menyelidiki ini akan senantiasa ada dalam dirinya. Dengan demikian berarti ia mempunyai kemungkinan untuk mengembangkan minatnya secara luas.
“Apa itu?” “Kenapa?” atau “Di mana?” merupakan bentuk per-tanyaan yang kerap kali keluar dari mulut anak-anak yang mulai pandai , jerbicara dan bertanya mengenai segala sesuatu yang dialaminya dalam kontaknya dengan dunia sekitarnya.
Bagi anak-anak, dunia ini sesungguhnya penuh dengan hal-hal yang luar biasa, aneh bahkan misterius. Oleh sebab itu mereka suka mencari tahu dengan meraba atau sekurang-kurangnya dengan bertanya sekitar ‘apa dan mengapa segala sesuatu itu.’
“Ibu, mengapa lampu itu menyala?” Nah, kalau seorang anak kecil sudah mulai bertanya-tanya semacam itu, artinya rasa ingin tahunya sudah mulai tampak. Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali penuh humor yang segar, yang tak jarang menjadi sumber kemeriahan suatu keluarga. Namun, betapapun juga, tidak selamanya kita sebagai orang tua berhasil untuk menjawab dan mengolah pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Lantas bagaimana jawabannya? Haruskah diberikan jawaban yang tepat? atau cukup “dibohongin” saja?
Sudah tentu kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur. Tidak baik bila anak-anak begitu saja dijejali kebohongan. Kasihan bagi pertumbuhan si anak.
Pada umumnya orang tua sering kali merasa kewalahan menghadapi pertanyaan anak-anak mereka. Bahkan ada yang bingung dalam menjawab pertanyaan yang kadang-kadang terlampau sulit untuk dijelaskan kepada anak-anak. Sebetulnya hal itu adalah mudah, karena dasar pertanyaan anak-anak itu, tidak lebih daripada ungkapan rasa ingin tahu terhadap dunia sekitarnya.
Pertanyaan, menurut Prof. Dr. Musthafa Fahmi, adalah usaha un-ak memperjelas sesuatu yang samar dalam salah satu lapangan hidup nak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertanyaan adalah cara rang digunakan anak untuk minta tolong kepada orang dewasa ketika nenghadapi kesukaran dalam suatu keadaan. Setiap pertanyaan yang liajukan anak, mempunyai fungsi psikologis penting dengan tiga segi:
angkapan, pengetahuan dan proses perilaku.
Yang dimaksud dengan segi ungkapan ialah bahwa pertanyaan se-
ring kali merupakan ungkapan tentang kebutuhan jiwa yang dirasakan
anak, mungkin si anak menghadapi persoalana emosi, ia berusaha
mengungkapkannya dalam bentuk pertanyaan.
Suatu jawaban terhadap pertanyaan anak, yang sesuai dengan umurnya dan tingkat pengertiannya, merupakan faktor penting yang menolong anak untuk berkembang; karena pertanyaan merupakan cara, yang melalui pertanyaan tersebut anak berusaha untuk memahami pekerjaan sebagai pendahuluan untuk dapat berhubungan dengannya. Jika perhatian anak tertuju kepada suatu objek, maka ia akan menanyakannya.
Anglo Betray menamakan keinginan untuk mengajukan pertanyaan itu dengan “kelaparan mental”, dan ia berpendapat bahwa perumusan lapar itu perlu, sehingga anak dapat menemukan jawaban atas per-tanyaannya, maka orang tua hams mengetahui sifat pertanyaan keji-waan itu, sehingga mereka dapat memberikan jawaban yang memungkinkan si anak tumbuh dengan baik.
Yang patut disayangkan, orang tua kadang-kadang menghadapi pertanyaan anak secara tidak serius, terkadang pula keadaan mereka memaksa untuk meremehkan jawaban terhadap pertanyaan anak, atau menjawabnya dengan hambar, akibatnya maka kebutuhan akan pengenalan tidak dapat terpenuhi.
Rasa ingin tahu seorang anak, selain tecermin dalam tingkah lakunya yang serba ingin mencoba-coba, juga terlihat dari serentetan pertanyaan-pertanyaan. Nan, menghadapi ini orang tua seyogianya ber-sikap tanggap dan telaten. Berikanlah jawaban-jawaban yang sederhana dengan penjelasan yang sesuai dengan tingkatan cara berpikirnya. Janganlah memberikan informasi terlalu banyak secara sekaligus. Oleh karena ada kemungkinan orang tua akan terseret dalam debat kusir yang sengit, sebab di usia ini pun kemampuannya untuk berkelit dan beroposisi sudah tumbuh.
Selanjutnya anak-anak usia pra sekolah ini mungkin bertanya, mengapa bulan tampaknya berjalan mengikuti kita kalau kita sering bepergian naik kendaraan. Katakanlah bahwa bulan itu demikian tinggi letaknya dan sangat jauh dari kita, sehingga ke mana pun kita pergi ia pasti akan terlihat.
Memang tidak jarang pertanyaan-pertanyaan itu menuntut orang tua untuk berpikir. Namun, itulah satu-satunya cara untuk memuaskan rasa ingin tahu si anak.
Sejak usia dini anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, Mereka senang memperhatikan hal-hal yang baru dan menyukai sesuatu yang berbau misteri. Kebiasaan anak untuk mengetahui kejadian yang berlangsung di sekitarnya merupakan hal yang wajar, dan rasa ingin tahu ini merupakan dasar dari timbulnya kemampuan untuk berpikir serta semangat untuk belajar.
Guna mengetahui berbagai pertanyaan yang lebih mendalam dan juga macam-macam teori mengenai kehidupan, anak membutuhkan waktu yang tidak terbatas serta kebebasan pribadi. Satu-satunya cara terbaik yang dapat dilakukan orang tua adalah mendengarkari anak dengan penuh penghargaan dan tanpa selalu menunjukkan sikap meng-gurui.
Sebetulnya bukan cuma rasa ingin tahu yang menyebabkan anak-anak sering mengajukan berbagai pertanyaan. Tetapi ada hal lain yang mendasari tingkah lakunya. Anak-anak melakukan itu terutama untuk belajar membedak’an antara suatu kenyataan dengan khayalan. Misalnya pada usia 2-3 tahun, anak-anak masih sering mencampuraduk-kan antara keduanya.
Karena pengalaman yang terbatas, keterangan yarrg berlebihan dari orang tua kerap kali menjadi tidak berarti atau bahkan membuat si kecil bingung. Oleh karena itu kita sebagai orang tua dapat memuaskan rasa ingin tahunya itu dengan memberinya keterangan yang sederhana dan jelas. Keterangan yang mendetil atau tidak lengkap akan membuatnya merasa tidak puas. Dengan mengingat ini semua kita dapat memahami apa yang akan dialami oleh anak-anak kita ketika mereka sedang berusaha memahami dunia sekelilingnya
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Makna Pertanyaan dan Rasa Ingin Tahu
Semenjak dilahirkan, manusia memang merupakan makhluk yang selalu ingin tahu. Dalam diri setiap insan akan timbul rasa puas apabila mereka dapat menyelidiki hal-hal yang menggugah rasa ingin tahu mereka. Selama keinginan itu tidak dicegah oleh pihak luar, maka sepanjang hidupnya rasa ingin menyelidiki ini akan senantiasa ada dalam dirinya. Dengan demikian berarti ia mempunyai kemungkinan untuk mengembangkan minatnya secara luas.
“Apa itu?” “Kenapa?” atau “Di mana?” merupakan bentuk per-tanyaan yang kerap kali keluar dari mulut anak-anak yang mulai pandai , jerbicara dan bertanya mengenai segala sesuatu yang dialaminya dalam kontaknya dengan dunia sekitarnya.
Bagi anak-anak, dunia ini sesungguhnya penuh dengan hal-hal yang luar biasa, aneh bahkan misterius. Oleh sebab itu mereka suka mencari tahu dengan meraba atau sekurang-kurangnya dengan bertanya sekitar ‘apa dan mengapa segala sesuatu itu.’
“Ibu, mengapa lampu itu menyala?” Nah, kalau seorang anak kecil sudah mulai bertanya-tanya semacam itu, artinya rasa ingin tahunya sudah mulai tampak. Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali penuh humor yang segar, yang tak jarang menjadi sumber kemeriahan suatu keluarga. Namun, betapapun juga, tidak selamanya kita sebagai orang tua berhasil untuk menjawab dan mengolah pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Lantas bagaimana jawabannya? Haruskah diberikan jawaban yang tepat? atau cukup “dibohongin” saja?
Sudah tentu kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur. Tidak baik bila anak-anak begitu saja dijejali kebohongan. Kasihan bagi pertumbuhan si anak.
Pada umumnya orang tua sering kali merasa kewalahan menghadapi pertanyaan anak-anak mereka. Bahkan ada yang bingung dalam menjawab pertanyaan yang kadang-kadang terlampau sulit untuk dijelaskan kepada anak-anak. Sebetulnya hal itu adalah mudah, karena dasar pertanyaan anak-anak itu, tidak lebih daripada ungkapan rasa ingin tahu terhadap dunia sekitarnya.
Pertanyaan, menurut Prof. Dr. Musthafa Fahmi, adalah usaha un-ak memperjelas sesuatu yang samar dalam salah satu lapangan hidup nak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertanyaan adalah cara rang digunakan anak untuk minta tolong kepada orang dewasa ketika nenghadapi kesukaran dalam suatu keadaan. Setiap pertanyaan yang liajukan anak, mempunyai fungsi psikologis penting dengan tiga segi:
angkapan, pengetahuan dan proses perilaku.
Yang dimaksud dengan segi ungkapan ialah bahwa pertanyaan se-
ring kali merupakan ungkapan tentang kebutuhan jiwa yang dirasakan
anak, mungkin si anak menghadapi persoalana emosi, ia berusaha
mengungkapkannya dalam bentuk pertanyaan.
Suatu jawaban terhadap pertanyaan anak, yang sesuai dengan umurnya dan tingkat pengertiannya, merupakan faktor penting yang menolong anak untuk berkembang; karena pertanyaan merupakan cara, yang melalui pertanyaan tersebut anak berusaha untuk memahami pekerjaan sebagai pendahuluan untuk dapat berhubungan dengannya. Jika perhatian anak tertuju kepada suatu objek, maka ia akan menanyakannya.
Anglo Betray menamakan keinginan untuk mengajukan pertanyaan itu dengan “kelaparan mental”, dan ia berpendapat bahwa perumusan lapar itu perlu, sehingga anak dapat menemukan jawaban atas per-tanyaannya, maka orang tua hams mengetahui sifat pertanyaan keji-waan itu, sehingga mereka dapat memberikan jawaban yang memungkinkan si anak tumbuh dengan baik.
Yang patut disayangkan, orang tua kadang-kadang menghadapi pertanyaan anak secara tidak serius, terkadang pula keadaan mereka memaksa untuk meremehkan jawaban terhadap pertanyaan anak, atau menjawabnya dengan hambar, akibatnya maka kebutuhan akan pengenalan tidak dapat terpenuhi.
Rasa ingin tahu seorang anak, selain tecermin dalam tingkah lakunya yang serba ingin mencoba-coba, juga terlihat dari serentetan pertanyaan-pertanyaan. Nan, menghadapi ini orang tua seyogianya ber-sikap tanggap dan telaten. Berikanlah jawaban-jawaban yang sederhana dengan penjelasan yang sesuai dengan tingkatan cara berpikirnya. Janganlah memberikan informasi terlalu banyak secara sekaligus. Oleh karena ada kemungkinan orang tua akan terseret dalam debat kusir yang sengit, sebab di usia ini pun kemampuannya untuk berkelit dan beroposisi sudah tumbuh.
Selanjutnya anak-anak usia pra sekolah ini mungkin bertanya, mengapa bulan tampaknya berjalan mengikuti kita kalau kita sering bepergian naik kendaraan. Katakanlah bahwa bulan itu demikian tinggi letaknya dan sangat jauh dari kita, sehingga ke mana pun kita pergi ia pasti akan terlihat.
Memang tidak jarang pertanyaan-pertanyaan itu menuntut orang tua untuk berpikir. Namun, itulah satu-satunya cara untuk memuaskan rasa ingin tahu si anak.
Sejak usia dini anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, Mereka senang memperhatikan hal-hal yang baru dan menyukai sesuatu yang berbau misteri. Kebiasaan anak untuk mengetahui kejadian yang berlangsung di sekitarnya merupakan hal yang wajar, dan rasa ingin tahu ini merupakan dasar dari timbulnya kemampuan untuk berpikir serta semangat untuk belajar.
Guna mengetahui berbagai pertanyaan yang lebih mendalam dan juga macam-macam teori mengenai kehidupan, anak membutuhkan waktu yang tidak terbatas serta kebebasan pribadi. Satu-satunya cara terbaik yang dapat dilakukan orang tua adalah mendengarkari anak dengan penuh penghargaan dan tanpa selalu menunjukkan sikap meng-gurui.
Sebetulnya bukan cuma rasa ingin tahu yang menyebabkan anak-anak sering mengajukan berbagai pertanyaan. Tetapi ada hal lain yang mendasari tingkah lakunya. Anak-anak melakukan itu terutama untuk belajar membedak’an antara suatu kenyataan dengan khayalan. Misalnya pada usia 2-3 tahun, anak-anak masih sering mencampuraduk-kan antara keduanya.
Karena pengalaman yang terbatas, keterangan yarrg berlebihan dari orang tua kerap kali menjadi tidak berarti atau bahkan membuat si kecil bingung. Oleh karena itu kita sebagai orang tua dapat memuaskan rasa ingin tahunya itu dengan memberinya keterangan yang sederhana dan jelas. Keterangan yang mendetil atau tidak lengkap akan membuatnya merasa tidak puas. Dengan mengingat ini semua kita dapat memahami apa yang akan dialami oleh anak-anak kita ketika mereka sedang berusaha memahami dunia sekelilingnya
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur
Anatomi Krisis
Anatomi Krisis
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Anatomi Krisis
Seorang konsultan krisis terkenal dari Amerika Steven Fink, mengembangkan konsep anatomi krisis. Fink mendeskripsikan krisis seperti layaknya penyakit yang menyerang tubuh manusia, dan membagi tahapan krisis sesuai dengan terminologi kedokteran yang dipakai untuk melihat stadium penyakit yang menyerang manusia sebagai berikut:
1.tahap prodromal
2.tahap akut
3.tahap kronik
4.tahap resolusi (penyembuhan)
Menurut Fink keempat tahap tersebut saling terkait dan membentuk suatu siklus. Lama waktu yang ditempuh oleh setiap tahap sangat dipengaruhi oleh sejumlah variabel seperti di bawah ini
1. Tubuh manusia
jenis virus
usia pasien
Kondisi kesehatan pasien
Potensi untuk menerima pengobatan
Keterampilan dokter
2. Perusahaan
jenis bahaya
usia perusahaan
Kondisi perusahaan
Potensi untuk menerima treatment
Keterampilan para manajer
Apabila krisis yang terjadi tidak terlalu parah, maka waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing fase tidak akan terlalu lama. Sebaliknya, apabila krisis yang terjadi termasuk krisis yang berat, dan juga tidak tertangani dengan baik, maka kemungkinan terburuk yang bisa dialami perusahaan adalah colapsnya perusahaan.
Sebagai elemen yang sangat berperan dalam menangani krisis yang terjadi pada suatu perusahaan/organisasi, maka praktisi humas harus berupaya mempercepat masa turning point krisis dari tahap prodromal ke tahap resolusi
Kita akan bahas satu persatu dari keempat tahap krisis di atas.
1.Tahap Prodromal
Krisis yang terjadi pada tahap ini kadang diabaikan karena perusahaan (sepertinya) masih berjalan secara normal. Tahap ini disebut juga dengan warning stage karena sesungguhnya pada krisis ini sudah muncul gejala-gejala yang harus segera diatasi. Tahap ini merupakan tahap yang menetukan. Apabila perusahaan mampu mengatasi gejala-gejala yang timbul, maka krisis tidak akan melebar dan memasuki fase-fase berikutnya. Naumn seandainya pada tahap ini krisis juga tidak berhasil ditangani, palin tidak perusahaan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi tahap akut. Tahap prodromal bisa muncul dalam tiga bentuk:
a.jelas sekali, misalnya karyawan meminta kenaikan upah
b.samar-samar karena sulitnya menginterpretasikan dan memprediksi luasnya suatu kejadian. Misalnya adanya peraturan pemerintah yang baru, munculnya pesaing baru, dsb.
c.sama sekali tidak kelihatan. Gejala-gejala krisis tidak terlihat sama sekali. Perusahaan tidak dapat membaca gejala ini karena kelihatannya tidak ada masalah dan kegiatan perusahaan berjalan dengan baik. Pada bentuk ini, ada kalanya perusahaan mempunyai asumsi bahwa “sulit untuk memuaskan semua pihak”, maka merupakan hal yang wajar apabila kemudian ada pihak tertentu yang dirugikan. Namun yang membahayakan dari asumsi tersebut adalah perusahaan tidak memikirkan kerugian tersebut bisa merugikan perusahaan secara perlahan namun pasti.
2.tahap akut
Banyak perusahaan beranggapan pada tahap inilah krisis mulai terjadi karena tidak berhasil mendeteksi gejela krisis yang terjadi pada tahap prodromal. Pada tahap ini gejala yang semula samar atau bahkan tidak terlihat sama sekali mulai tampak jelas. Krisis akut sering disebut sebagai the point of no return, artinya apabila gejala yang muncul pada tahap peringatan (tahap prodromal) tidak terdeteksi sehingga tidak tertangani, maka krisis memasuki tahap akut yang tidak akan bisaa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, isu menyebar luas. Namun demikian, seberapa jauh krisis menimbulkan kerugian sangat tergantung dari para akktior yang mengendalikan krisis.
3.Tahap Kronis.
Apabila diibaratkan badai, pada tahap ini badai telah berlalu, yang tinggal adalah reruntuhan bangunan akibat badai. Berakhirnya tahap akut dinyatakan dengan langkah-langkah pembersihan. Tahap ini disebut juga sebagai the clean up phase atau the post mortem atau tahap recovery atau selfanalysis. Tahap ini ditandai dengan perubahan struktural, seperti penggantian manajemen, penggantian pemilik, atau bahkan mungkin juga perusahaan dilikuidasi. Perusahaan harus segera mengambil keputusan apakah akan mau hidup terus atau tidak. Kalau ingin hidup terus tentu perusahaan harus sehat dan mempunyai reputasi yang baik.
4.Tahap resolusi (penyembuhan)
Merupakan tahap pemulihan kembali kondisi perusahaan. Namun yang perlu diingat, karena tahap-tahap krisis ini merupakan siklus yang berputar, maka bila telah memasuki tahap resolusi perusahaan tetap harus waspada bila proses penyembuhan tidak benar-benar tuntas, krisis akan kembali ke tahap prodromal
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Anatomi Krisis
Seorang konsultan krisis terkenal dari Amerika Steven Fink, mengembangkan konsep anatomi krisis. Fink mendeskripsikan krisis seperti layaknya penyakit yang menyerang tubuh manusia, dan membagi tahapan krisis sesuai dengan terminologi kedokteran yang dipakai untuk melihat stadium penyakit yang menyerang manusia sebagai berikut:
1.tahap prodromal
2.tahap akut
3.tahap kronik
4.tahap resolusi (penyembuhan)
Menurut Fink keempat tahap tersebut saling terkait dan membentuk suatu siklus. Lama waktu yang ditempuh oleh setiap tahap sangat dipengaruhi oleh sejumlah variabel seperti di bawah ini
1. Tubuh manusia
jenis virus
usia pasien
Kondisi kesehatan pasien
Potensi untuk menerima pengobatan
Keterampilan dokter
2. Perusahaan
jenis bahaya
usia perusahaan
Kondisi perusahaan
Potensi untuk menerima treatment
Keterampilan para manajer
Apabila krisis yang terjadi tidak terlalu parah, maka waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing fase tidak akan terlalu lama. Sebaliknya, apabila krisis yang terjadi termasuk krisis yang berat, dan juga tidak tertangani dengan baik, maka kemungkinan terburuk yang bisa dialami perusahaan adalah colapsnya perusahaan.
Sebagai elemen yang sangat berperan dalam menangani krisis yang terjadi pada suatu perusahaan/organisasi, maka praktisi humas harus berupaya mempercepat masa turning point krisis dari tahap prodromal ke tahap resolusi
Kita akan bahas satu persatu dari keempat tahap krisis di atas.
1.Tahap Prodromal
Krisis yang terjadi pada tahap ini kadang diabaikan karena perusahaan (sepertinya) masih berjalan secara normal. Tahap ini disebut juga dengan warning stage karena sesungguhnya pada krisis ini sudah muncul gejala-gejala yang harus segera diatasi. Tahap ini merupakan tahap yang menetukan. Apabila perusahaan mampu mengatasi gejala-gejala yang timbul, maka krisis tidak akan melebar dan memasuki fase-fase berikutnya. Naumn seandainya pada tahap ini krisis juga tidak berhasil ditangani, palin tidak perusahaan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi tahap akut. Tahap prodromal bisa muncul dalam tiga bentuk:
a.jelas sekali, misalnya karyawan meminta kenaikan upah
b.samar-samar karena sulitnya menginterpretasikan dan memprediksi luasnya suatu kejadian. Misalnya adanya peraturan pemerintah yang baru, munculnya pesaing baru, dsb.
c.sama sekali tidak kelihatan. Gejala-gejala krisis tidak terlihat sama sekali. Perusahaan tidak dapat membaca gejala ini karena kelihatannya tidak ada masalah dan kegiatan perusahaan berjalan dengan baik. Pada bentuk ini, ada kalanya perusahaan mempunyai asumsi bahwa “sulit untuk memuaskan semua pihak”, maka merupakan hal yang wajar apabila kemudian ada pihak tertentu yang dirugikan. Namun yang membahayakan dari asumsi tersebut adalah perusahaan tidak memikirkan kerugian tersebut bisa merugikan perusahaan secara perlahan namun pasti.
2.tahap akut
Banyak perusahaan beranggapan pada tahap inilah krisis mulai terjadi karena tidak berhasil mendeteksi gejela krisis yang terjadi pada tahap prodromal. Pada tahap ini gejala yang semula samar atau bahkan tidak terlihat sama sekali mulai tampak jelas. Krisis akut sering disebut sebagai the point of no return, artinya apabila gejala yang muncul pada tahap peringatan (tahap prodromal) tidak terdeteksi sehingga tidak tertangani, maka krisis memasuki tahap akut yang tidak akan bisaa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, isu menyebar luas. Namun demikian, seberapa jauh krisis menimbulkan kerugian sangat tergantung dari para akktior yang mengendalikan krisis.
3.Tahap Kronis.
Apabila diibaratkan badai, pada tahap ini badai telah berlalu, yang tinggal adalah reruntuhan bangunan akibat badai. Berakhirnya tahap akut dinyatakan dengan langkah-langkah pembersihan. Tahap ini disebut juga sebagai the clean up phase atau the post mortem atau tahap recovery atau selfanalysis. Tahap ini ditandai dengan perubahan struktural, seperti penggantian manajemen, penggantian pemilik, atau bahkan mungkin juga perusahaan dilikuidasi. Perusahaan harus segera mengambil keputusan apakah akan mau hidup terus atau tidak. Kalau ingin hidup terus tentu perusahaan harus sehat dan mempunyai reputasi yang baik.
4.Tahap resolusi (penyembuhan)
Merupakan tahap pemulihan kembali kondisi perusahaan. Namun yang perlu diingat, karena tahap-tahap krisis ini merupakan siklus yang berputar, maka bila telah memasuki tahap resolusi perusahaan tetap harus waspada bila proses penyembuhan tidak benar-benar tuntas, krisis akan kembali ke tahap prodromal
Mengajar dan Pembelajaran
Belajar, Mengajar dan Pembelajaran
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Belajar, Mengajar dan Pembelajaran
Sebelum membahas masalah prinsip belajar dan pembelajaran sangatlah perlu dipahami terlebih dahulu konsep belajar. Apakah belajar itu ?. Menurut Gagne (1984: ) belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992: 27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut. (a). belajar adalah perubahan tingkahlaku; (b). perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan; (c). perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman (Snelbeker 1974 dalam Toeti 1992:10) Dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkahlaku sebelum kegiatan belajar mengajar dikelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan perubahan tingkahlaku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai starategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal. Dalam pembelajaran proses belajar tersebut terjadi secara bertujuan ( Arief Sukadi 1984:8) dan terkontrol. Tujuan -tujuan pembelajaran telah dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku. Peran guru disini adalah sebagai pengelola proses belajar mengajar tersebut.
Dalam sistem pendidikan kita (UU. No. 2 Tahun 1989), seorang guru tidak saja dituntut sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran tertentu tetapi juga harus dapat berperan sebagai pendidik. Davies mengatakan untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai prinsip-prinsip belajar, khususnyai prinsip berikut :
Apapun yang dipelajari siswa , maka siswalah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif;
Setiap mahasiswa akan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya;
Seorang siswa akan belajar lebih baik apabila mempengoreh penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajarnya terjadi;
Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan mahasiswa akan membuat proses belajar lebih berarti; dan
Seorang siswa akan lebih meningkat lagi motivasinya untuk belajar apabula ia diberi tangungjawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya (Davies 1971).
Mengajar dan Pembelajaran
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Duffy dan Roehler (1989) mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar, bermoral dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktivitas mengajar, juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya tujuan kurikulum.
Dalam buku pedoman melaksanakan kurikulum SD,SLTP dan SMU (1994) istilah belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar tersebut dapat berupa buku, lingkungan, guru dll. Selama ini Gredler (1986) menegaskan bahwa proses perubahan sikap dan tingkahlaku itu pada dasarnya berlangsung pada suatu lingkungan buatan (eksperimental) dan sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami (kenyataan). Oleh karena itu lingjungan belajar yang mendukung dapat diciptakan, agar proses belajar ini dapat berlangsung optimal. Dikatakan pula bahwa proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa disebut dengan pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah diamati. Mengajar diartikan dengan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Situasi ini tidak harus berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa saja tetapi dapat dengan cara lain misalnya belajar melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan. Gagne dan Briggs (1979:3) mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sepintas pengertian mengajar hampir sama dengan pembelajaran namun pada dasarnya berbeda. Dalam pembelajaran kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh perancang atau guru.
Sementara itu dalam keseharian di sekolah-sekolah istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya ada interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai suatu tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkahlaku siswa. Apa yang dipahami guru ini sesuai dengan pengertian yang diuraikan dalam buku pedoman kurikulum (1994:3)
Sistem pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sistem masyarakat yang memberinya masukan maupun menerima keluaran tersebut. Pembelajaran mengubah masukan yang berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik. Fungsi sistem pembelajaran ada tiga yaitu fungsi belajar, fungsi pembelajaran dan fungsi penilaian. Fungsi belajar dilakukan oleh komponen siswa, fungsi pembelajaran dan penilaian ( yang terbagi dalam pengelolaan belajar dan sumber-sumber belajar) dilakukan oleh sesuatu di luar diri siswa (Arief,S. 1984:10). Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan berlangsungnya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya. Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dilihat langsung, oleh karena itu agar kemampuan siswa dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dalam proses belajar di kelas maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh para guru dengan memperhatikan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji keunggulannya.(Arief. Sukadi, 1991;12).
Bagaimana terjadinya proses belajar ?
Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam kehidupan manusia khususnya dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat perhatian yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan khususnya bidang psikologi pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan maka psikologi pendidikan berusaha untuk mengkaji bagaimana tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia dan bagaimana proses belajar terjadi.
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Dengan kemampuan berubah ini manusia bebas untuk bereksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting dalam kehidupannya.
Ada banyak bentuk-bentuk perubahan yang terdapat dalam diri manusia yang ditentukan oleh kemampuan dan kemauan belajarnya sehingga peradaban manusia itupun tergantung dari bagaimana manusia belajar. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan sekelompok umat manusia di tengah persaingan yang semakin ketat dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan itu pun kenyataan tragis juga dapat terjadi karena faktor belajar. Contohnya begitu banyak kejadian di mana orang pintarlah yang paling banyak melakukan kepintarannya untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Kemajuan hasil belajar bidang pengetahuan dan teknologi tinggi digunakan untuk membuat senjata pemusnah sesama manusia. Jadi belajar disamping membawa manfaat namun dapat juga menjadi mudarat.
Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar namun kegiatan belajar memiliki arti penting. Alasannya karena belajar berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kehidupan manusia. Artinya dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia tertindas dapat juga digunakan untuk membangun benteng pertahanan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi Anda sebagai mahasiswa atau sebagai calon guru atau guru yang profesional seyogyanya melihat hasil belajar siswa-siswa dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Seorang siswa yang menempuh proses belajar idealnya mengalami perubahan, ditandai dengan munculnya pengalaman-pengalaman psikologis yang utuh dan menyeluruh.
Apa Proses Belajar ?
Sebagaimana dikatakan bahwa belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia. Lalu bagaimana terjadinya proses belajar ini ?
Proses berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan” yaitu berupa urutan langkah-langkah atau kemajuan yang mengarah pada tercapainya suatu tujuan. Dalam ilmu psikologi, proses belajar berarti cara-cara atau langkah-langkah (manners or operation) khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai tujuan tertentu. (Rober ,1988, dalam Muhibin,1995). Dalam pengertian tersebut tahapan perubahan dapat diartikan sepadan dengan proses. Jadi proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Dalam uraian tersebut digambarkan bahwa belajar adalah aktifitas yang berproses menuju pada satu perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan tertentu. Menurut Jerome S. Bruner, proses belajar siswa terjadi dalam tiga fase yaitu fase informasi, transformasi dan fase penilaian (untuk memahaminya silahkan baca modul 3, Kb 2: Teori belajar Bruner). Sementara itu menurut Wittig (Muhibbin 1995) proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu
acquasistion (tahap perolehan informasi), pada tahap ini si belajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respon sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap aguasistion merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapii tahap selanjutnya.
storage (penyimpananinformasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shortterm atau longterm memori.
retrieval (mendapatkan kembali informasi), apa bila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.
Referensi :
Muhibbin Syah, 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan baru, Bandung, Remaja RosdaKarya.
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Belajar, Mengajar dan Pembelajaran
Sebelum membahas masalah prinsip belajar dan pembelajaran sangatlah perlu dipahami terlebih dahulu konsep belajar. Apakah belajar itu ?. Menurut Gagne (1984: ) belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992: 27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut. (a). belajar adalah perubahan tingkahlaku; (b). perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan; (c). perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman (Snelbeker 1974 dalam Toeti 1992:10) Dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkahlaku sebelum kegiatan belajar mengajar dikelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan perubahan tingkahlaku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai starategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal. Dalam pembelajaran proses belajar tersebut terjadi secara bertujuan ( Arief Sukadi 1984:8) dan terkontrol. Tujuan -tujuan pembelajaran telah dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku. Peran guru disini adalah sebagai pengelola proses belajar mengajar tersebut.
Dalam sistem pendidikan kita (UU. No. 2 Tahun 1989), seorang guru tidak saja dituntut sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran tertentu tetapi juga harus dapat berperan sebagai pendidik. Davies mengatakan untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai prinsip-prinsip belajar, khususnyai prinsip berikut :
Apapun yang dipelajari siswa , maka siswalah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif;
Setiap mahasiswa akan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya;
Seorang siswa akan belajar lebih baik apabila mempengoreh penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajarnya terjadi;
Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan mahasiswa akan membuat proses belajar lebih berarti; dan
Seorang siswa akan lebih meningkat lagi motivasinya untuk belajar apabula ia diberi tangungjawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya (Davies 1971).
Mengajar dan Pembelajaran
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Duffy dan Roehler (1989) mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar, bermoral dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktivitas mengajar, juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya tujuan kurikulum.
Dalam buku pedoman melaksanakan kurikulum SD,SLTP dan SMU (1994) istilah belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar tersebut dapat berupa buku, lingkungan, guru dll. Selama ini Gredler (1986) menegaskan bahwa proses perubahan sikap dan tingkahlaku itu pada dasarnya berlangsung pada suatu lingkungan buatan (eksperimental) dan sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami (kenyataan). Oleh karena itu lingjungan belajar yang mendukung dapat diciptakan, agar proses belajar ini dapat berlangsung optimal. Dikatakan pula bahwa proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa disebut dengan pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah diamati. Mengajar diartikan dengan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Situasi ini tidak harus berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa saja tetapi dapat dengan cara lain misalnya belajar melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan. Gagne dan Briggs (1979:3) mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sepintas pengertian mengajar hampir sama dengan pembelajaran namun pada dasarnya berbeda. Dalam pembelajaran kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh perancang atau guru.
Sementara itu dalam keseharian di sekolah-sekolah istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya ada interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai suatu tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkahlaku siswa. Apa yang dipahami guru ini sesuai dengan pengertian yang diuraikan dalam buku pedoman kurikulum (1994:3)
Sistem pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sistem masyarakat yang memberinya masukan maupun menerima keluaran tersebut. Pembelajaran mengubah masukan yang berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik. Fungsi sistem pembelajaran ada tiga yaitu fungsi belajar, fungsi pembelajaran dan fungsi penilaian. Fungsi belajar dilakukan oleh komponen siswa, fungsi pembelajaran dan penilaian ( yang terbagi dalam pengelolaan belajar dan sumber-sumber belajar) dilakukan oleh sesuatu di luar diri siswa (Arief,S. 1984:10). Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan berlangsungnya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya. Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dilihat langsung, oleh karena itu agar kemampuan siswa dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dalam proses belajar di kelas maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh para guru dengan memperhatikan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji keunggulannya.(Arief. Sukadi, 1991;12).
Bagaimana terjadinya proses belajar ?
Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam kehidupan manusia khususnya dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat perhatian yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan khususnya bidang psikologi pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan maka psikologi pendidikan berusaha untuk mengkaji bagaimana tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia dan bagaimana proses belajar terjadi.
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Dengan kemampuan berubah ini manusia bebas untuk bereksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting dalam kehidupannya.
Ada banyak bentuk-bentuk perubahan yang terdapat dalam diri manusia yang ditentukan oleh kemampuan dan kemauan belajarnya sehingga peradaban manusia itupun tergantung dari bagaimana manusia belajar. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan sekelompok umat manusia di tengah persaingan yang semakin ketat dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan itu pun kenyataan tragis juga dapat terjadi karena faktor belajar. Contohnya begitu banyak kejadian di mana orang pintarlah yang paling banyak melakukan kepintarannya untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Kemajuan hasil belajar bidang pengetahuan dan teknologi tinggi digunakan untuk membuat senjata pemusnah sesama manusia. Jadi belajar disamping membawa manfaat namun dapat juga menjadi mudarat.
Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar namun kegiatan belajar memiliki arti penting. Alasannya karena belajar berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kehidupan manusia. Artinya dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia tertindas dapat juga digunakan untuk membangun benteng pertahanan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi Anda sebagai mahasiswa atau sebagai calon guru atau guru yang profesional seyogyanya melihat hasil belajar siswa-siswa dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Seorang siswa yang menempuh proses belajar idealnya mengalami perubahan, ditandai dengan munculnya pengalaman-pengalaman psikologis yang utuh dan menyeluruh.
Apa Proses Belajar ?
Sebagaimana dikatakan bahwa belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia. Lalu bagaimana terjadinya proses belajar ini ?
Proses berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan” yaitu berupa urutan langkah-langkah atau kemajuan yang mengarah pada tercapainya suatu tujuan. Dalam ilmu psikologi, proses belajar berarti cara-cara atau langkah-langkah (manners or operation) khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai tujuan tertentu. (Rober ,1988, dalam Muhibin,1995). Dalam pengertian tersebut tahapan perubahan dapat diartikan sepadan dengan proses. Jadi proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Dalam uraian tersebut digambarkan bahwa belajar adalah aktifitas yang berproses menuju pada satu perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan tertentu. Menurut Jerome S. Bruner, proses belajar siswa terjadi dalam tiga fase yaitu fase informasi, transformasi dan fase penilaian (untuk memahaminya silahkan baca modul 3, Kb 2: Teori belajar Bruner). Sementara itu menurut Wittig (Muhibbin 1995) proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu
acquasistion (tahap perolehan informasi), pada tahap ini si belajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respon sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap aguasistion merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapii tahap selanjutnya.
storage (penyimpananinformasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shortterm atau longterm memori.
retrieval (mendapatkan kembali informasi), apa bila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.
Referensi :
Muhibbin Syah, 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan baru, Bandung, Remaja RosdaKarya.
Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip-Prinsip Belajar
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengotrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinisp-prinsip belajar itu. Pentingnya guru memahami prinsip dari teori belajar menurut Lindgren dalam Toeti Sukamto (1992: 14 ) mempunyai alasan sebagai berikut :
Teori belajar ini membantu guru untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri siswa,
Dengan kondisi ini guru dapat mengerti kandisi0kondisi dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar;
Teori ini memungkinkan guru melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktifitas belajar;
Teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah diuji kebenarannya melalui experimen dan penelitian. Dengan mempelajari teori belajar pengertian seseorang tentang bagaimana terjadinya proses belajar akan meningkat , Oleh karenanya sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari berbagai teori belajar.
Ada banyak teori-teori belajar , setiap teori memiliki konsep atau prinsip sendiri tentang belajar. Berdasarkan berbedaan sudat pandang ini maka teori belajar tersebut dapat dikelompokan. Teori belajar yang terkemuka diabad 20 ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu kelompok teori bahaviorisme dan kelompok teori kognitivisme. (Arif Sukadi,1987)
Menurut kelompok teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman-pengalamn belajar. Belajar adalah proses perubahan tingkahlaku yang terjadi karena adanya stimuli dan respon yang dapat diamati. Menurut teori ini manupulasi lingkungan sangat penting agar dapat diperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan . Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi didalam fikiran manusia. Para ahli pendidikan menganjurkan untuk menerapkan prinsip penguatan (reinforcement) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa berhasil mencapai tujuan. Dalam menerapkan teori ini yang terpenting adalah guru harus memahami karakteristik si belajar dan karakteristik lingkungan belajar agat tingkat keberhasilan siswa selama kegiatan pembelajaran dapat diketahui. Tuntutan dari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan belajar secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak diterapkan didunia pendidikan meliputi (Hartley & Davies, 1978 dalam Toeti S. 1992:23) :
Proses belajar dapat terjadi dengan baik bila siswa ikut dengan aktif didalamnya
Materi pelajaran disusun dalam urutan yang logis supaya siswa dapat dengan mudah mempelajarinya dan dapat memberikan respon tertentu;
Tiap-tiap respon harus diberi umpan balik secara langsung supaya siswa dapat mengetahui apakah respon yang diberikannya telah benar;
Setiap kali siswa memberikan respon yang benar maka ia perlu diberi penguatan.
Prinsip-prinsip bihaviorisme diatas telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai program pendidikan. Misalnya dalam pengajaran berprogram dan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dalam pengajaran berprogram materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit-unit terkecil yang mudah dipelajari siswa, bila setiap unit selesai siswa akan mendapatkan umpanbalik secara langsung. Sedangkan dalam mastery learing materi dipecah perunit, dimana siswa tidak dapat pindah keunit di atasnya bila belum menguasai unit yang dibawahnya.
Kelompok teori kognitif beranggapan bahwa belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan perubahan tingkahlaku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.
Prinsip-prinsip teori kognitifisme; menurut teori kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan kontek situasi secara keseluruhan. Yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah teori perkembangan Piaget, teori kognitif Bruner, teori belajar bermakna Ausebel dll.
Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin komplek dan ini memungkinkan kemampuannya meningkat (Traves dalam Toeti 1992:28). Oleh karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarkis yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu diluar kemampuan kognitifnya. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak yaitu
Tahap sensorikmotorik yang bersifat internal ( 0-2 tahun)
Tahap preoperasional (2-6 tahun )
Tahap operasional konkrit (6-12 tahun)
Tahap formal yang bersifat internal (12-18 tahun)
Teori kognitif Bruner
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Tahap pertama adalah tahap enaktif, dimana siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Tahap kedua adalah tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap ketiga adalah tahap simbolik, dimana ia mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (discovery learning)
Teori belajar bermakna menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly & Lewis, (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna yaitu
Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu;
Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna;
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut :
mengukur kesiapan mahasiswa seperti minat, kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review , pertanyaan-pertanyaan dan lain-lain tehnik;
memilih materi-materi kunci lalu penyajiannya diatur dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontraversial;
mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu;
menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari,
memakai advan organizers;
mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada
Menurut Hartley & Davies (1978), Prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah
Mahasiswa akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu;
Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik mahasiswa harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana;
Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghapal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya;
Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. (dalam Toeti Soekamto 1992:36)
Prinsip-prinsip (teori) Pembelajaran
Berbeda dengan teori belajar maka teori pembelajaran persifat preskriptif. Teori pembelajaran berusaha merumuskan cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik. Ia tidak semata-mata merupakan penerapan dari teori atau prinsip-prinsip belajar walaupun berhubungan dengan proses belajar.
Dalam teori pembelajaran dibicarakan tentang prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran dan bagaimana menyelesaikan masalah yang terdapat dalam pembelajaran sehari hari. (Snelbaker,) Teori pembelajaran tidak saja berbicara tentang bagaimana manusia belajar tetapi juga mempertimbangkan hal-hal lain yang mempengaruhi manusia secara psycologis, biografis, antropologis dan sosiologis. Tekanan utama teori ini adalah prosedur yang telah terbukti berhasil meningkatakan kualitas pembelajaran yaitu ;
Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan berbagai penampilan;
Kemampuan yang merupakan hasil belajar ini dapat dikatagorikan sebagai a. bersifat praktis dan teoritis.
Kejadian-kejadian di dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan ke dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun tiap-tiap hasil belajar memerukan adanya kejadian-kejadian khusus untuk dapat terbentuk. (Gagne 1985 : )
Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan memberikan preskripsi untuk mengatur situasi agar siswa mudah mencapai tujuan belajar. Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatapmuka dikelas maupun tidak seperti pembelajaran jarak jauh, terprogram dll. Teori pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang mana yang paling tepat untuk suatu pembelajaran tertentu. Sehubungan dengan itu berdasarkan teori yang mendasarinya yaitu teori psikologi dan teori belajar maka teori pembelajaran ini dapat dibagi ke dalam lima kelompok yaitu
Pendekatan modifikasi tingkahlaku; teori pembelajaran ini menganjurkan agar para guru menerapkan prinsip penguatan (reinforcment) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Untuk itu guru sangat penting untuk mengenal karakteristik siswa dan karakteristik situasi belajar sehingga guru dapat mengetahui setiap kemajuan belajar yang diperoleh siswa.
Teori Pembelajaran Konstruk Kognitif; teori ini diturunkan dari prinsip/teori belajar kognitifisme. Menurut teori ini prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal siswa yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan di dikelas. Pengalaman belajar yang diberikan oleh siswa harus bersifat penemuan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh informasi dan ketrampilan baru dari pelajaran sebelumnya .(Bruner…)
Teori pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip belajar;
Dari berbagai teori belajar yang ada, Bulgelski (dalam Snelbecer : ) mengidentifikasi beberapa puluh prinsip kemudian dipadatkan menjadi empat prinsip dasar yang dapat diterapkan oleh para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Ke empat prinsip dasar tersebut adalah
Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian dan responsif terhadap materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar.
Semua proses belajar memerlukan waktu, dan untuk suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari sejumlah materi yang sangat terbatas.
Di dalam diri orang yang sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengotron motivasi serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang bertindak dalam suatu situasi tertentu.
Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata.
Teori Pembelajaran berdasarkan analisis tugas; teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Teori Pembelajaran berdasarkan Psikologi Humanistik; teori pembelajaran ini sangat menganggap penting teori pembalajaran dan psikoterapi dari suatu teori belajar. Prinsip yang harus diterapkan adalah bahwa guru harus memperhatikan pengalaman emosional dan karakteristik khusus siswa seperti aktualisasi diri siswa. Dengan memahami hal ini dapat dibuat pilihan-pilihan kearah mana siswa akan berkembang.
Agar belajar bermakna inisiatif siswa harus dimunculkan dengan kata lain siswa harus selalu dilibatkan dalam proses belajar mengajar. Pengajaran yang cocok untuk hal ini adalah dengan pengajaran eksperimental. (Toeti S. 1992:47)
——————————————————————————–
Transfer Belajar (Transfer of Learning)
Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa Inggris “Transfer of learning” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari matapelajaran yang satu ke matapelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar yang diperoleh dan dapat dipindahkan tsb. dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dll. Bila hasil belajar (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi ransfer belajar yang disebut transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa untuk memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali si belajar dengan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya pelu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar positip dapat terjadi.
Apa saja harus diperhatikan seorang guru agar proses transfer belajar berlangsung secara positif ? seorang guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya tansfer beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
Kemampuan Asli Si belajar
Keefektifan / kelancaran atau kemudahan transfer banyak dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa atau pengetahuan yang lebih dahulu diketahui atau dikuasai. Suatu transfer akan mudah terjadi bila siswa sudah memiliki kemampuan awal yang berhubungan dengan materi tsb. Oleh karenanya untuk memudahkan proses transfer guru perlu mengetahui terlebih dahulu kemampuan awal siswa mengenai materi yang akan diajarkan.
Kebermaknaan materi/bidang studi bagi si belajar
Transfer belajar akan terjadi dengan lancar bila siswa merasakan/mengetahui kebermaknaan materi yang dipelajari bagi dirinya atau kehidupannya. Adanya makna/arti terhadap materi yang dipelajari akan menjadi pendorong bagi siswa untuk mempelajari materi tsb. Kebermaknaan ini pun akan memperlancar proses transfer.
Cara Mengajar
Transfer akan mudah terjadi bila penyajian materi dilakukan guru dengan menarik dan menggunakan berbagai matode yang bervariasi sehingga menarik dan meninggalkan kesan yang positif bagi siswa. Cara mengajar ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan kondisi / keadaan siswa yang dapat memotivasi siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Apa ada hubungan antara transfer belajar dengan pengembangan kurikulum ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa pandangan mengenai hakekat belajar dan apa konsekwensinya terhadap pengembangan kurikulum di sekolah.
Teori Generalisai
Menurut teori ini transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan prinsip umum. Bila seorang siswa mampu menangkap konsep, kaidah dan prinsip untuk memecahkan persoalan maka siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain diluar bidang studi dimana konsepo, kaidah dan prinsip itu mula-mula diperoleh. Maka siswa itu dikatakan mampu mengadakan “generalisasi” yaitu mampu menangkap ciri-ciri atau sifat-sifat umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi semacam itu sudah terjadi bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip dan siasat-siasat pemecahan problem. Jadi kesamaan antara dua bidang studi tsb. tidak terdapat dalam unsur-unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam prinsip.
Teori elemen identik
Pandangan ini dipelapori oleh Edwar Thorndike yang mengatakan bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi yang lain atau dari pengalaman hidup sehari-hari terjadi berdasarakan adanya unsur-unsur yang sama (identik) dalam kedua bidang studi itu. Makin banyak unsur yang sama maka akan semakin besar terjadinya transfer belajar. Dengan kata lain terjadinya transfer belajar sangat tergantung dari banyak sedikitnya kesamaan unsur-unsur. Misalnya antara bidang studi aljabar dan ilmu ukur dll.
Menurut teori ini hakekat transfer belajar adalah pengalihan dari penguasaan suatu unsur tertentu pada bidang studi yang lain, makin banyak adanya unsur-unsur yang sama akan semakin besar terjadinya transfer belajar positip.
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer dapat digolongkan dalam empat kategori yaitu transfer positip, transfer negatif, transfer vertikal dan transfer lateran.
Transfer positip dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang lain.
Transfer negatif dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubungan dengan ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindarkan siswa-siswanya dari situasi belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar dimasa depan.
Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tsb. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari dengan materi lain yang akan dipelajari dikelas yang lebih tinggi diharapkan ia akan mengikuti pelajaran ini dengan lebih serius.
Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat kerumitan yang hampir sama.
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengotrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinisp-prinsip belajar itu. Pentingnya guru memahami prinsip dari teori belajar menurut Lindgren dalam Toeti Sukamto (1992: 14 ) mempunyai alasan sebagai berikut :
Teori belajar ini membantu guru untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri siswa,
Dengan kondisi ini guru dapat mengerti kandisi0kondisi dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar;
Teori ini memungkinkan guru melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktifitas belajar;
Teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah diuji kebenarannya melalui experimen dan penelitian. Dengan mempelajari teori belajar pengertian seseorang tentang bagaimana terjadinya proses belajar akan meningkat , Oleh karenanya sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari berbagai teori belajar.
Ada banyak teori-teori belajar , setiap teori memiliki konsep atau prinsip sendiri tentang belajar. Berdasarkan berbedaan sudat pandang ini maka teori belajar tersebut dapat dikelompokan. Teori belajar yang terkemuka diabad 20 ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu kelompok teori bahaviorisme dan kelompok teori kognitivisme. (Arif Sukadi,1987)
Menurut kelompok teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman-pengalamn belajar. Belajar adalah proses perubahan tingkahlaku yang terjadi karena adanya stimuli dan respon yang dapat diamati. Menurut teori ini manupulasi lingkungan sangat penting agar dapat diperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan . Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi didalam fikiran manusia. Para ahli pendidikan menganjurkan untuk menerapkan prinsip penguatan (reinforcement) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa berhasil mencapai tujuan. Dalam menerapkan teori ini yang terpenting adalah guru harus memahami karakteristik si belajar dan karakteristik lingkungan belajar agat tingkat keberhasilan siswa selama kegiatan pembelajaran dapat diketahui. Tuntutan dari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan belajar secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak diterapkan didunia pendidikan meliputi (Hartley & Davies, 1978 dalam Toeti S. 1992:23) :
Proses belajar dapat terjadi dengan baik bila siswa ikut dengan aktif didalamnya
Materi pelajaran disusun dalam urutan yang logis supaya siswa dapat dengan mudah mempelajarinya dan dapat memberikan respon tertentu;
Tiap-tiap respon harus diberi umpan balik secara langsung supaya siswa dapat mengetahui apakah respon yang diberikannya telah benar;
Setiap kali siswa memberikan respon yang benar maka ia perlu diberi penguatan.
Prinsip-prinsip bihaviorisme diatas telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai program pendidikan. Misalnya dalam pengajaran berprogram dan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dalam pengajaran berprogram materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit-unit terkecil yang mudah dipelajari siswa, bila setiap unit selesai siswa akan mendapatkan umpanbalik secara langsung. Sedangkan dalam mastery learing materi dipecah perunit, dimana siswa tidak dapat pindah keunit di atasnya bila belum menguasai unit yang dibawahnya.
Kelompok teori kognitif beranggapan bahwa belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan perubahan tingkahlaku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.
Prinsip-prinsip teori kognitifisme; menurut teori kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan kontek situasi secara keseluruhan. Yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah teori perkembangan Piaget, teori kognitif Bruner, teori belajar bermakna Ausebel dll.
Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin komplek dan ini memungkinkan kemampuannya meningkat (Traves dalam Toeti 1992:28). Oleh karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarkis yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu diluar kemampuan kognitifnya. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak yaitu
Tahap sensorikmotorik yang bersifat internal ( 0-2 tahun)
Tahap preoperasional (2-6 tahun )
Tahap operasional konkrit (6-12 tahun)
Tahap formal yang bersifat internal (12-18 tahun)
Teori kognitif Bruner
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Tahap pertama adalah tahap enaktif, dimana siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Tahap kedua adalah tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap ketiga adalah tahap simbolik, dimana ia mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (discovery learning)
Teori belajar bermakna menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly & Lewis, (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna yaitu
Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu;
Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna;
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut :
mengukur kesiapan mahasiswa seperti minat, kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review , pertanyaan-pertanyaan dan lain-lain tehnik;
memilih materi-materi kunci lalu penyajiannya diatur dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontraversial;
mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu;
menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari,
memakai advan organizers;
mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada
Menurut Hartley & Davies (1978), Prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah
Mahasiswa akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu;
Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik mahasiswa harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana;
Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghapal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya;
Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. (dalam Toeti Soekamto 1992:36)
Prinsip-prinsip (teori) Pembelajaran
Berbeda dengan teori belajar maka teori pembelajaran persifat preskriptif. Teori pembelajaran berusaha merumuskan cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik. Ia tidak semata-mata merupakan penerapan dari teori atau prinsip-prinsip belajar walaupun berhubungan dengan proses belajar.
Dalam teori pembelajaran dibicarakan tentang prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran dan bagaimana menyelesaikan masalah yang terdapat dalam pembelajaran sehari hari. (Snelbaker,) Teori pembelajaran tidak saja berbicara tentang bagaimana manusia belajar tetapi juga mempertimbangkan hal-hal lain yang mempengaruhi manusia secara psycologis, biografis, antropologis dan sosiologis. Tekanan utama teori ini adalah prosedur yang telah terbukti berhasil meningkatakan kualitas pembelajaran yaitu ;
Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan berbagai penampilan;
Kemampuan yang merupakan hasil belajar ini dapat dikatagorikan sebagai a. bersifat praktis dan teoritis.
Kejadian-kejadian di dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan ke dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun tiap-tiap hasil belajar memerukan adanya kejadian-kejadian khusus untuk dapat terbentuk. (Gagne 1985 : )
Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan memberikan preskripsi untuk mengatur situasi agar siswa mudah mencapai tujuan belajar. Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatapmuka dikelas maupun tidak seperti pembelajaran jarak jauh, terprogram dll. Teori pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang mana yang paling tepat untuk suatu pembelajaran tertentu. Sehubungan dengan itu berdasarkan teori yang mendasarinya yaitu teori psikologi dan teori belajar maka teori pembelajaran ini dapat dibagi ke dalam lima kelompok yaitu
Pendekatan modifikasi tingkahlaku; teori pembelajaran ini menganjurkan agar para guru menerapkan prinsip penguatan (reinforcment) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Untuk itu guru sangat penting untuk mengenal karakteristik siswa dan karakteristik situasi belajar sehingga guru dapat mengetahui setiap kemajuan belajar yang diperoleh siswa.
Teori Pembelajaran Konstruk Kognitif; teori ini diturunkan dari prinsip/teori belajar kognitifisme. Menurut teori ini prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal siswa yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan di dikelas. Pengalaman belajar yang diberikan oleh siswa harus bersifat penemuan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh informasi dan ketrampilan baru dari pelajaran sebelumnya .(Bruner…)
Teori pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip belajar;
Dari berbagai teori belajar yang ada, Bulgelski (dalam Snelbecer : ) mengidentifikasi beberapa puluh prinsip kemudian dipadatkan menjadi empat prinsip dasar yang dapat diterapkan oleh para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Ke empat prinsip dasar tersebut adalah
Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian dan responsif terhadap materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar.
Semua proses belajar memerlukan waktu, dan untuk suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari sejumlah materi yang sangat terbatas.
Di dalam diri orang yang sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengotron motivasi serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang bertindak dalam suatu situasi tertentu.
Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata.
Teori Pembelajaran berdasarkan analisis tugas; teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Teori Pembelajaran berdasarkan Psikologi Humanistik; teori pembelajaran ini sangat menganggap penting teori pembalajaran dan psikoterapi dari suatu teori belajar. Prinsip yang harus diterapkan adalah bahwa guru harus memperhatikan pengalaman emosional dan karakteristik khusus siswa seperti aktualisasi diri siswa. Dengan memahami hal ini dapat dibuat pilihan-pilihan kearah mana siswa akan berkembang.
Agar belajar bermakna inisiatif siswa harus dimunculkan dengan kata lain siswa harus selalu dilibatkan dalam proses belajar mengajar. Pengajaran yang cocok untuk hal ini adalah dengan pengajaran eksperimental. (Toeti S. 1992:47)
——————————————————————————–
Transfer Belajar (Transfer of Learning)
Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa Inggris “Transfer of learning” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari matapelajaran yang satu ke matapelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar yang diperoleh dan dapat dipindahkan tsb. dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dll. Bila hasil belajar (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi ransfer belajar yang disebut transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa untuk memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali si belajar dengan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya pelu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar positip dapat terjadi.
Apa saja harus diperhatikan seorang guru agar proses transfer belajar berlangsung secara positif ? seorang guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya tansfer beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
Kemampuan Asli Si belajar
Keefektifan / kelancaran atau kemudahan transfer banyak dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa atau pengetahuan yang lebih dahulu diketahui atau dikuasai. Suatu transfer akan mudah terjadi bila siswa sudah memiliki kemampuan awal yang berhubungan dengan materi tsb. Oleh karenanya untuk memudahkan proses transfer guru perlu mengetahui terlebih dahulu kemampuan awal siswa mengenai materi yang akan diajarkan.
Kebermaknaan materi/bidang studi bagi si belajar
Transfer belajar akan terjadi dengan lancar bila siswa merasakan/mengetahui kebermaknaan materi yang dipelajari bagi dirinya atau kehidupannya. Adanya makna/arti terhadap materi yang dipelajari akan menjadi pendorong bagi siswa untuk mempelajari materi tsb. Kebermaknaan ini pun akan memperlancar proses transfer.
Cara Mengajar
Transfer akan mudah terjadi bila penyajian materi dilakukan guru dengan menarik dan menggunakan berbagai matode yang bervariasi sehingga menarik dan meninggalkan kesan yang positif bagi siswa. Cara mengajar ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan kondisi / keadaan siswa yang dapat memotivasi siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Apa ada hubungan antara transfer belajar dengan pengembangan kurikulum ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa pandangan mengenai hakekat belajar dan apa konsekwensinya terhadap pengembangan kurikulum di sekolah.
Teori Generalisai
Menurut teori ini transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan prinsip umum. Bila seorang siswa mampu menangkap konsep, kaidah dan prinsip untuk memecahkan persoalan maka siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain diluar bidang studi dimana konsepo, kaidah dan prinsip itu mula-mula diperoleh. Maka siswa itu dikatakan mampu mengadakan “generalisasi” yaitu mampu menangkap ciri-ciri atau sifat-sifat umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi semacam itu sudah terjadi bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip dan siasat-siasat pemecahan problem. Jadi kesamaan antara dua bidang studi tsb. tidak terdapat dalam unsur-unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam prinsip.
Teori elemen identik
Pandangan ini dipelapori oleh Edwar Thorndike yang mengatakan bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi yang lain atau dari pengalaman hidup sehari-hari terjadi berdasarakan adanya unsur-unsur yang sama (identik) dalam kedua bidang studi itu. Makin banyak unsur yang sama maka akan semakin besar terjadinya transfer belajar. Dengan kata lain terjadinya transfer belajar sangat tergantung dari banyak sedikitnya kesamaan unsur-unsur. Misalnya antara bidang studi aljabar dan ilmu ukur dll.
Menurut teori ini hakekat transfer belajar adalah pengalihan dari penguasaan suatu unsur tertentu pada bidang studi yang lain, makin banyak adanya unsur-unsur yang sama akan semakin besar terjadinya transfer belajar positip.
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer dapat digolongkan dalam empat kategori yaitu transfer positip, transfer negatif, transfer vertikal dan transfer lateran.
Transfer positip dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang lain.
Transfer negatif dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubungan dengan ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindarkan siswa-siswanya dari situasi belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar dimasa depan.
Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tsb. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari dengan materi lain yang akan dipelajari dikelas yang lebih tinggi diharapkan ia akan mengikuti pelajaran ini dengan lebih serius.
Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat kerumitan yang hampir sama.
Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Salah satu tugas seorang guru adalah membimbing, mengarahkan siswa untuk aktif belajar. Dengan demikian seorang guru perlu mengetahui bagaimana cara mengaktifkan siswa untuk belajar yaitu dengan cara menciptakan kondisi yang merangsang, menantang daya pikir dan cipta si belajar sehingga ia aktif dalam merespon pelajaran. Menurut para ahli psikologi belajar ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk mengaktifkan siswa belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
Motivasi
Motiv adalah daya yang dimiliki seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuaktu. Seorang guru perlu mengetahui apa yang menjadi pendorong siswanya dalam belajar atau melakukan sesuatu, hal ini sesuai dengan peran seorang guru yaitu sebagai motivator, agar senantiasa membangkitkan dan meningkatkan motiv positif untuk belajar. Ada dua motivasi yaitu motiv yang muncul dari dalam diri anak disebut motivasi intrinsik dan motiv dari luar diri si belajar (motivasi ekstrinsik). Motiv dari dalam dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, mencoba-coba, keinginan untuk berhasil. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran melalui pemberian pujian, atau hukuman dll. Motivasi intrinsik senantiasa untuk ditumbuhkan dalam diri siswa.
Latar dan konteks
Agar pemahaman si belajar meningkat dan terarah, maka materi pelajaran yang diberikan harus saling berkait sesauai dengan konteknya. Untuk itu pada setiap pembelajaran guru perlu mengetahui terlebih dahulu tingkat pengetahuan, ketrampilan,dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Agar materi yang dipelajari siswa bermakna dan mempunyai kesan dalam kehidupannya maka pada setiap pembelajaran materi yang akan diajarakan harus dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya. Dengan cara ini anak akan mudah menguasai pelajaran yang baru.
Keterarahan atau Fokus
Agar proses pembelajaran berjalan terarah, terfokus dan lancar, pada setiap akan mengajar perlu dibuat perencanaan yang matang. Perencanaan didasarkan pada tujuan yang akan dicapai atau masalah apa yang akan dipecahkan dan bagimana cara memecahkannya. Misalnya akan mengajarkan tentang “manfaat udara dalam kehidupan manusia” maka fokus pengajaran adalah tentang Udara, meliputi : pengertian udara, dimana terdapat udara, manfaat udara bagi kehidupan manusia, hewan dll. Upayakan pembahasan tidak dimonopoli oleh guru, lakukan secara interaktif antara guru dan siswa. Mintalah pendapat siswa untuk menjawab hal tersebut menurut pengetahuan dan penghalamannya.
Hubungan sosial atau sosialisasi
Kerjasama guru dan siswa atau antara siswa dan keaktifan siswa dalam PBM sudah harus disiapkan pada saat membuat rencana pembelajaran. Siswa perlu dilatih untuk belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Belajar sambil Bekerja
Pada dasarnya anak-anak menyukai belajar sambil bekerja atau melakukan suatu kegiatan, karenyanya dalam pbm dirancang dengan memberi kesempatan kepada anak untuk bekerja atau beraktifitas yang merangsang kemampuan otot dan berfikirnya. Semakin dewasa kadar bekerja anak akan berkurang dan kadar berfikirnya akan meningkatkan. Hal ini bukan berarti anak tidak memiliki kemampuan bekerja tetapi kemampuannya untuk berfikir kearah yang lebih tinggi akan meningkat. Sesuai dengan tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran.
Perbedaan perorangan
Setiap siswa memiliki bakat, latarbelakang kehidupan, kemampuan , tingkat pengetahuan, sikap dan kebiasaan yang berbeda. Dengan kata lain setiap individu memiliki keunikan diri. Dalam belajar guru perlu memperhitungkn keunikan atau perbedaan siswa agar pembelajaran berjalan lancar. Pemahaman tentang kondisi siswa mendorong guru untuk memperlakukan siswa secara berbeda dan bersikap lebih bijaksana dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada dalam kelas.
Prinsip Menemukan
Dalampembelajara tidak semua materi yang akan diajarkan disampaikan kepada siswa. Pada dasarnya setiap anak telah memiliki pengetahuan awal dan potensi untuk menemukan sendiri pengetahuan tersebut. Berikan siswa konsep-konsep inti dan mintalah siswa untuk menemukan dan membuktikannya sendiri konsep-konsep lain yang terkait dengan cara memberi pertanyaan yang merangsang daya pikir, menumbuhkan rasa ingin tahu dan menemukannya sendiri. Proses belajar aktif dapat mengurangi rasa bosan anak dalam belajar.
Memecahkan Masalah
Untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri yang dihadapi dalam kehidupan siswa, maka kbm harus diarahkan pada pemecaham masalah.hal ini diperlukan untuk menumbuhkan kepekaan siswa pada masalah-masalah yang ada disekiratnya. Terlebih dahulu siswa dihadapkan pada masalah kemudian dilatih untuk memecahkan masalahnya dengan baik. Yang penting adalah siswa memahami apa yang dihadapinya dan diajarkan untuk bertanggungjawab untuk memecahkannya sendiri seuai kemampuan. Bila cara belajar untuk memecahkan masalah dilatihkan pada anak maka proses cara belajar siswa aktif akan berhasil.
Sumber :
Semiawan Conny, dkk. 1986, Pendekatan Ketrampilan Proses, bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta.PT Gramedia.
Posted on Juni 22, 2009 by Safril
Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar
Salah satu tugas seorang guru adalah membimbing, mengarahkan siswa untuk aktif belajar. Dengan demikian seorang guru perlu mengetahui bagaimana cara mengaktifkan siswa untuk belajar yaitu dengan cara menciptakan kondisi yang merangsang, menantang daya pikir dan cipta si belajar sehingga ia aktif dalam merespon pelajaran. Menurut para ahli psikologi belajar ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk mengaktifkan siswa belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
Motivasi
Motiv adalah daya yang dimiliki seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuaktu. Seorang guru perlu mengetahui apa yang menjadi pendorong siswanya dalam belajar atau melakukan sesuatu, hal ini sesuai dengan peran seorang guru yaitu sebagai motivator, agar senantiasa membangkitkan dan meningkatkan motiv positif untuk belajar. Ada dua motivasi yaitu motiv yang muncul dari dalam diri anak disebut motivasi intrinsik dan motiv dari luar diri si belajar (motivasi ekstrinsik). Motiv dari dalam dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, mencoba-coba, keinginan untuk berhasil. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran melalui pemberian pujian, atau hukuman dll. Motivasi intrinsik senantiasa untuk ditumbuhkan dalam diri siswa.
Latar dan konteks
Agar pemahaman si belajar meningkat dan terarah, maka materi pelajaran yang diberikan harus saling berkait sesauai dengan konteknya. Untuk itu pada setiap pembelajaran guru perlu mengetahui terlebih dahulu tingkat pengetahuan, ketrampilan,dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Agar materi yang dipelajari siswa bermakna dan mempunyai kesan dalam kehidupannya maka pada setiap pembelajaran materi yang akan diajarakan harus dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya. Dengan cara ini anak akan mudah menguasai pelajaran yang baru.
Keterarahan atau Fokus
Agar proses pembelajaran berjalan terarah, terfokus dan lancar, pada setiap akan mengajar perlu dibuat perencanaan yang matang. Perencanaan didasarkan pada tujuan yang akan dicapai atau masalah apa yang akan dipecahkan dan bagimana cara memecahkannya. Misalnya akan mengajarkan tentang “manfaat udara dalam kehidupan manusia” maka fokus pengajaran adalah tentang Udara, meliputi : pengertian udara, dimana terdapat udara, manfaat udara bagi kehidupan manusia, hewan dll. Upayakan pembahasan tidak dimonopoli oleh guru, lakukan secara interaktif antara guru dan siswa. Mintalah pendapat siswa untuk menjawab hal tersebut menurut pengetahuan dan penghalamannya.
Hubungan sosial atau sosialisasi
Kerjasama guru dan siswa atau antara siswa dan keaktifan siswa dalam PBM sudah harus disiapkan pada saat membuat rencana pembelajaran. Siswa perlu dilatih untuk belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Belajar sambil Bekerja
Pada dasarnya anak-anak menyukai belajar sambil bekerja atau melakukan suatu kegiatan, karenyanya dalam pbm dirancang dengan memberi kesempatan kepada anak untuk bekerja atau beraktifitas yang merangsang kemampuan otot dan berfikirnya. Semakin dewasa kadar bekerja anak akan berkurang dan kadar berfikirnya akan meningkatkan. Hal ini bukan berarti anak tidak memiliki kemampuan bekerja tetapi kemampuannya untuk berfikir kearah yang lebih tinggi akan meningkat. Sesuai dengan tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran.
Perbedaan perorangan
Setiap siswa memiliki bakat, latarbelakang kehidupan, kemampuan , tingkat pengetahuan, sikap dan kebiasaan yang berbeda. Dengan kata lain setiap individu memiliki keunikan diri. Dalam belajar guru perlu memperhitungkn keunikan atau perbedaan siswa agar pembelajaran berjalan lancar. Pemahaman tentang kondisi siswa mendorong guru untuk memperlakukan siswa secara berbeda dan bersikap lebih bijaksana dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada dalam kelas.
Prinsip Menemukan
Dalampembelajara tidak semua materi yang akan diajarkan disampaikan kepada siswa. Pada dasarnya setiap anak telah memiliki pengetahuan awal dan potensi untuk menemukan sendiri pengetahuan tersebut. Berikan siswa konsep-konsep inti dan mintalah siswa untuk menemukan dan membuktikannya sendiri konsep-konsep lain yang terkait dengan cara memberi pertanyaan yang merangsang daya pikir, menumbuhkan rasa ingin tahu dan menemukannya sendiri. Proses belajar aktif dapat mengurangi rasa bosan anak dalam belajar.
Memecahkan Masalah
Untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri yang dihadapi dalam kehidupan siswa, maka kbm harus diarahkan pada pemecaham masalah.hal ini diperlukan untuk menumbuhkan kepekaan siswa pada masalah-masalah yang ada disekiratnya. Terlebih dahulu siswa dihadapkan pada masalah kemudian dilatih untuk memecahkan masalahnya dengan baik. Yang penting adalah siswa memahami apa yang dihadapinya dan diajarkan untuk bertanggungjawab untuk memecahkannya sendiri seuai kemampuan. Bila cara belajar untuk memecahkan masalah dilatihkan pada anak maka proses cara belajar siswa aktif akan berhasil.
Sumber :
Semiawan Conny, dkk. 1986, Pendekatan Ketrampilan Proses, bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta.PT Gramedia.
Minggu, 21 Juni 2009
PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan kekuatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah yang sederhana ini dengan judul “Perkembangan Kognitif Pada Masa Remaja”
Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).
Sebagai mana di ketahui makalah ini belum memenuhi kesempurnaan yang dikehendaki untuk suatu karya ilmiah, hal ini di sebabkan oleh karena penulis belum berpengalaman dalam membuat suatu karangan ilmiah.
Oleh sebab itu segala kritik serta saran-saran dari berbagai pihak akan di terima dengan senang hati yang lapang dan jiwa yang benar, guna perbaikan dimasa-masa yang akan datang.
Demikianlah semoga tulisan ini bermanfaat hendaknya bagi kita semua, terima kasih
Penulis
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA
A. Pengertian Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja.). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). (http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & GullotTa (dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja) masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001, dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja).
B. Tahap Perkembangan Kognitif pada Remaja
Tahap perkembangan kognitif pada remaja secara garis besar dapat ditinjau dari dua segi perubahan-perubahan perkembangan kognitif, diantaranya adalah:
a. Pemikiran Operasional Formal
Pemikiran operasional formal (formal operational though), yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun daqn terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis serta mampu memikirkan sesuatu yang akan terjadi (sesuatu yang abstrak). (Samsunuwiyati, 2005, hal 195).
Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget bahwa pemikiran operasional berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Beberapa gagasan Piaget tentang pemikiran operasional formal baru-baru ini ditantang (Byrnes, 1988; Danner, 1989; Keating, sedang dicetak; Lapsley, 1989; Overton & Byrnes, 1991; Overton & Montangero, 1991), ternyata terdapat lebih banyak variasi individual pada pemikiran operasional formal dari pada yang dibayangkan oleh piaget. Hanya kira-kira satu dari tiga remaja muda adalah pemikir operasional formal. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Ketika remaja berpikir lebih abstrak dan idealistis, mereka mereka juga berpikir lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama penalaran deduktif hipotestis. Penalaran deduktif hipotetis (hypothetical deductive reasoning) adalah konsep operasional formal Piaget, yang menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif untuk mengembangkan hipotesis, atau dugaan terbaik, mengenai cara memecahkan masalah, seperti persamaan aljabar. Kemudian mereka menarik kesimpulan secara sistematis, atau menyimpulkan, pola mana yang diterapkan dalam memecahkan masalah. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Akan tetapi, anak tahap formal operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan membuat perencanaan kegiatan terlebih dahhulu dan berusaha mengantisipasi berbagai macam informasi yang akan diperlukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Piaget membedakan gaya pemikiran formal operasional dari gaya pemikiran konkrit operasional dalam tiga hal penting (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 196), yaitu:
1. penekanan pada kemungkinan versus kenyataan (emphasizing the possible versus the real)
2. penggunaan penalaran ilmiah (using scientific reason), kualitas ini terlihat ketika remaja harus memecahkan beberapa masalah secara sistematis.
3. kecakapan dalam mengkombinasikan ide-ide (skillfully combinting ideas)
ciri-ciri pemikiran operasional formal dapat dirumuskan dalam 3 bentuk yaitu remaja berpikir secara abstrack, idealistis dan logis (dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), yaitu:
1. berpikir abstrak yaitu remaja dapat memecahkan persamaan-persamaan aljabar yang abstrak.
2. berpikir idealistis yaitu remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin, mererka berpikir tentang ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain dan dunia.
3. berpikir logis yaitu remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana unutk memecahkan masalah-masalah dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah.
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
Remaja adalah masa dimana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, keputusan dalam memilih teman, keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa inggris atau computer, dan sebagainya. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
Transisi dalam pengambilan keputusan muncul kira-kira pada usia 11 hingga 12 tahun dan pada usia 15 hingga 16 tahun. Misalnya, dalam suatu studi, murid-murid kelas delapan, sepuluh, dan dua belas diberikan dilemma-dilemayang meliputi pilihan atas suatu prosedur medis. Murid-murid yang paling tua cendrung menyebutkan secara spontan berbagai resiko, menyarankan konsultasi dengan seorang ahli luar, dan mengantisipasiakibat-akibat masa depan. (dalam John W. Santrock, 2002, hal 13)
Pengambilan keputusan oleh remaja yang lebih tua sering kali jauh dari sempurna, dan kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin bahwa keputusan semacam itu akan dibuat dalam kehidupan sehari-hari, luasnya pengalaman sering memainkan peran yang sangat penting. Untuk itu, remaja perlu memiliki lebih banyak peluang untuk mempraktekan dan mendiskusikan pengambilan keputusanyang realistis. Salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan remaja terhadap pilihan-pilihan dalam dunia nyata seperti masalah seks, obat-obatan dan dan kebut-kebutan di jalan adalah dengan mengembangkan lebih banyak peluang bagi remaja untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitaqn dengan kondisi-kondisi semacam itu di sekolah. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
Seperti yang dikemukakan Elizabet B. Hurlock(1981, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 199), remaja mulai memikirkan tentang masa masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Remaja mulsi memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya sebagai manusai dewasa dimasa yang mendatang. Diantara lapangan kehidupan dimasa depan yang banyak mendapat perhatian remaja adalah lapangan pendidikan (Nurmi, 1959 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), disamping dunia kerja dan hidup berumah tangga.
Menurut G. Trosmnisdorff (1983 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), orientasi masa depan merupakan fenomena motivasional yang kompleks yakni antisipasi dan evaluasi tentang dari masa depan dalam interaksinya dengan lingkungan. Menurut Nurmi orientasi masa depan berkaitan erat dengan harapan, tujuan, standar, rencana dan strategi pencapaian tujuan di masa yang akan dating.
Sebagai suatu fenomena kognitif motivasional yang kompleks, orietasi masa depan berkaitan erat dengan skema kognitif yaitu suatu organisasi perceptual dari pengalaman masa lalu beserta kaitannya dengan pengalaman masa kini dan di masa yang akan datang.
Menurut Nurmi (1991 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 200), skema kognitif tersebut berinteraksi dengan tiga tahap proses pembentukan orientasi masa depan yaitu:
1. tahap motivasional
Merupakan tahap awal pembentukan orientasi masa depan remaja. Tahap ini mencakup motif, minat dan tujuan yang berkaitan dengan orientasi masa depan.
2. tahap planning
Perencanaan merupakan tahap kedua proses pembentukan orientasi masa depan individu, yaitu bagaimana remaja membuat perencanaan tentang perwujudan minat dan tujuan mereka. Dalam hal ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• penentuan subtujuan
• penyusunan rencana
• melaksanakan rencana dan strategi yang telah disusun
3. tahap evaluation
merupakan tahap akhir dari proses pembentukan orientasi masa depan.
d. Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut David Elkind (1976 dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), pemikiran remaja bersifat egosentris, yakin bahwa egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian yaitu:
1. penonton khayalan (imaginary audience)
Merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Perilaku mengundang perhatian, umu terjadi pada masa remaja, mencerminkan egosentrisme dan keinginan untuk tampil diatas pentas, diperhatikan, dan terlihat. Bayangkan anak laki-laki kelas delapan yang menganggap diri sebagai seorang aktor dan semua orang lain adalah penonton ketika ia menatap kebintik kecil dicelana panjangnya. Bayangkan seorang anak perempuan kelas tujuh yang menganggap bahwa semua mata terpaku kepada corak kulitnya karena ada cacat yang kecil sekali pada wajahnya.
2. dongeng pribadi
merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan-perasaan unik seorang remaja. Rasa unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya.
e. Perkembangan Penalaran Moral
Menurut Kohlberg adalah bagian dari penalaran (reasoning), sehingga ia menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning), penalaran atau pertimbangan tersebut berkenaan dengan keluasan wawasan mengenai relasi antara diri dan orang lain, hak dan kewajiban. Relasi diri dengan orang lain ini didasarkan atas prinsip equality artinya orang lain sama derajatnya dengan diri. Jadi, antara diri dan diri orang lain dapat dipertukarkan. Ini disebut prinsip reciprocity. Moralitas pada hakikatnya adalah penyelasaian konflik antara diri dan diri orang lain, antara hak dan kewajiban. (Samsunuwiyati, 2003, hal 206)
Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian baik buruknya sesuatu. Karena bersifat penalaran maka perkembangan moral menurut Kohlberg sejalan dengan perkembangan nalar sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya. Dengan penekanannya pada penalaran ini, berarti Kohlberg ingin melihat struktur proses kognitif yang mendasari jawaban atau pun perbuatan-perbuatan moral.
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adam & Gullotta (1983, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 208), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
C. Perubahan-Perubahan Kognitif pada Masa Remaja
Ada 5 perubahan Kognitif pada masa perkembangan remaja (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/), yaitu
a. Remaja sudah bisa melihat ke depan (future) ke hal-hal yg mungkin, termasuk mengerti keterbatasannya dlm memahami realita. à sistem abstraksi, pendekatan & penalaran yg sistematis (logis-idealis), sampai ke berfikir hipotetis à berdampak pd perilaku sosia, berperan dlm meningkatkan kemampuan membuat keputusan
b. Remaja mampu berfikir abstrak. Kemampuan ini berdampak dan dapat diaplikasikan dalam proses penalaran dan berfikir logis
c. Remaja mulai berfikir lebih sering ttg berfikir itu sendiri à biasa dikenal dg istilah Metacognition, yaitu monitoring ttg aktivitas kognitifnya sendiri selama proses berfikir à menjadikannya instrospektif à terkait dengan adolescence egocentrism
d. Pemikirannya lebih multidimensional dibandingkan singular à mampu melihat dr berbagai perspektif àlebih sensitif pd kata-kata sarkastik, sindiran “double entendres”
e. Remaja mengerti hal-hal yg bersifat relatif, tdk selalu absolut à sering muncul saat remaja meragukan sesuatu à ditandai dg seringnya berargumentasi dengan OT terutama ttg nilai-nilai moral Information Processing Abilities
f. Kemampuan seseorang dalam memproses, mengolah informasi-informasi yang telah dimilikinya
1. Membutuhkan kemampuan dlm konsentrasi
• Selective attention à memfokuskan pd salah satu stimulus dan membuang yg lain
• Devided attention à kemampuan memfokuskan diri pd lebih dr 2 stimulus pd saat yang sama
2. Membutuhkan kemampuan dlm memperkaya kemampuan memorinya
• working memory & short term memory à kemampuan mengingat sesuatu yg belum lama terjadi
• long-term memory à kemampuan mengingat dan mengenal kembali sesuatu yg sudah lama terjadi
• menggunakan fungsi remember & recall Social Cognition Remaja.
Kemampuan remaja dlm menggunakan kognisinya dlm menghadapi permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapinya Meliputi aktivitas kognitif: (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/)
a. Berfikir ttg orang lain
b. Berfikir ttg hubungan social
c. Berfikir ttg institusi social.
Dibedakan menjadi 3 :
• Impression Formation
• Social Perspective Taking
• Moraly and Social Convention
PENUTUP
a. Kesimpulan
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity. Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Perubahan-perubahan tersebut dalam segi kognitif dapat dilihat dari beberapa perkembangan yaitu:
a. Pemikiran Operasional Formal
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
d. Perkembangan Kognisi Sosial
e. Perkembangan Penalaran Moral
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, Bandung; Melrat Losda Karya, 2005
Santrock, John W, The Span Development (Perkembangan Masa Hidup), Jakarta; Erlangga, 2002
Diane E. Papalia, et. Al. Human Development (Psikologi Perkembangan), Jakarta; Kencana, 2008
http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
http://my.opera.com /2009/05/23/
Syukur alhamdulilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan kekuatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah yang sederhana ini dengan judul “Perkembangan Kognitif Pada Masa Remaja”
Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).
Sebagai mana di ketahui makalah ini belum memenuhi kesempurnaan yang dikehendaki untuk suatu karya ilmiah, hal ini di sebabkan oleh karena penulis belum berpengalaman dalam membuat suatu karangan ilmiah.
Oleh sebab itu segala kritik serta saran-saran dari berbagai pihak akan di terima dengan senang hati yang lapang dan jiwa yang benar, guna perbaikan dimasa-masa yang akan datang.
Demikianlah semoga tulisan ini bermanfaat hendaknya bagi kita semua, terima kasih
Penulis
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA
A. Pengertian Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja.). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). (http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & GullotTa (dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja) masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001, dalam http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja).
B. Tahap Perkembangan Kognitif pada Remaja
Tahap perkembangan kognitif pada remaja secara garis besar dapat ditinjau dari dua segi perubahan-perubahan perkembangan kognitif, diantaranya adalah:
a. Pemikiran Operasional Formal
Pemikiran operasional formal (formal operational though), yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun daqn terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis serta mampu memikirkan sesuatu yang akan terjadi (sesuatu yang abstrak). (Samsunuwiyati, 2005, hal 195).
Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget bahwa pemikiran operasional berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Beberapa gagasan Piaget tentang pemikiran operasional formal baru-baru ini ditantang (Byrnes, 1988; Danner, 1989; Keating, sedang dicetak; Lapsley, 1989; Overton & Byrnes, 1991; Overton & Montangero, 1991), ternyata terdapat lebih banyak variasi individual pada pemikiran operasional formal dari pada yang dibayangkan oleh piaget. Hanya kira-kira satu dari tiga remaja muda adalah pemikir operasional formal. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Ketika remaja berpikir lebih abstrak dan idealistis, mereka mereka juga berpikir lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama penalaran deduktif hipotestis. Penalaran deduktif hipotetis (hypothetical deductive reasoning) adalah konsep operasional formal Piaget, yang menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif untuk mengembangkan hipotesis, atau dugaan terbaik, mengenai cara memecahkan masalah, seperti persamaan aljabar. Kemudian mereka menarik kesimpulan secara sistematis, atau menyimpulkan, pola mana yang diterapkan dalam memecahkan masalah. (John W. Santrock, 2002, hal 10)
Akan tetapi, anak tahap formal operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan membuat perencanaan kegiatan terlebih dahhulu dan berusaha mengantisipasi berbagai macam informasi yang akan diperlukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Piaget membedakan gaya pemikiran formal operasional dari gaya pemikiran konkrit operasional dalam tiga hal penting (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 196), yaitu:
1. penekanan pada kemungkinan versus kenyataan (emphasizing the possible versus the real)
2. penggunaan penalaran ilmiah (using scientific reason), kualitas ini terlihat ketika remaja harus memecahkan beberapa masalah secara sistematis.
3. kecakapan dalam mengkombinasikan ide-ide (skillfully combinting ideas)
ciri-ciri pemikiran operasional formal dapat dirumuskan dalam 3 bentuk yaitu remaja berpikir secara abstrack, idealistis dan logis (dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), yaitu:
1. berpikir abstrak yaitu remaja dapat memecahkan persamaan-persamaan aljabar yang abstrak.
2. berpikir idealistis yaitu remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin, mererka berpikir tentang ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain dan dunia.
3. berpikir logis yaitu remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana unutk memecahkan masalah-masalah dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah.
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
Remaja adalah masa dimana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, keputusan dalam memilih teman, keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa inggris atau computer, dan sebagainya. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
Transisi dalam pengambilan keputusan muncul kira-kira pada usia 11 hingga 12 tahun dan pada usia 15 hingga 16 tahun. Misalnya, dalam suatu studi, murid-murid kelas delapan, sepuluh, dan dua belas diberikan dilemma-dilemayang meliputi pilihan atas suatu prosedur medis. Murid-murid yang paling tua cendrung menyebutkan secara spontan berbagai resiko, menyarankan konsultasi dengan seorang ahli luar, dan mengantisipasiakibat-akibat masa depan. (dalam John W. Santrock, 2002, hal 13)
Pengambilan keputusan oleh remaja yang lebih tua sering kali jauh dari sempurna, dan kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin bahwa keputusan semacam itu akan dibuat dalam kehidupan sehari-hari, luasnya pengalaman sering memainkan peran yang sangat penting. Untuk itu, remaja perlu memiliki lebih banyak peluang untuk mempraktekan dan mendiskusikan pengambilan keputusanyang realistis. Salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan remaja terhadap pilihan-pilihan dalam dunia nyata seperti masalah seks, obat-obatan dan dan kebut-kebutan di jalan adalah dengan mengembangkan lebih banyak peluang bagi remaja untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitaqn dengan kondisi-kondisi semacam itu di sekolah. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
Seperti yang dikemukakan Elizabet B. Hurlock(1981, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 199), remaja mulai memikirkan tentang masa masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Remaja mulsi memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya sebagai manusai dewasa dimasa yang mendatang. Diantara lapangan kehidupan dimasa depan yang banyak mendapat perhatian remaja adalah lapangan pendidikan (Nurmi, 1959 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), disamping dunia kerja dan hidup berumah tangga.
Menurut G. Trosmnisdorff (1983 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), orientasi masa depan merupakan fenomena motivasional yang kompleks yakni antisipasi dan evaluasi tentang dari masa depan dalam interaksinya dengan lingkungan. Menurut Nurmi orientasi masa depan berkaitan erat dengan harapan, tujuan, standar, rencana dan strategi pencapaian tujuan di masa yang akan dating.
Sebagai suatu fenomena kognitif motivasional yang kompleks, orietasi masa depan berkaitan erat dengan skema kognitif yaitu suatu organisasi perceptual dari pengalaman masa lalu beserta kaitannya dengan pengalaman masa kini dan di masa yang akan datang.
Menurut Nurmi (1991 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 200), skema kognitif tersebut berinteraksi dengan tiga tahap proses pembentukan orientasi masa depan yaitu:
1. tahap motivasional
Merupakan tahap awal pembentukan orientasi masa depan remaja. Tahap ini mencakup motif, minat dan tujuan yang berkaitan dengan orientasi masa depan.
2. tahap planning
Perencanaan merupakan tahap kedua proses pembentukan orientasi masa depan individu, yaitu bagaimana remaja membuat perencanaan tentang perwujudan minat dan tujuan mereka. Dalam hal ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• penentuan subtujuan
• penyusunan rencana
• melaksanakan rencana dan strategi yang telah disusun
3. tahap evaluation
merupakan tahap akhir dari proses pembentukan orientasi masa depan.
d. Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut David Elkind (1976 dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), pemikiran remaja bersifat egosentris, yakin bahwa egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian yaitu:
1. penonton khayalan (imaginary audience)
Merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Perilaku mengundang perhatian, umu terjadi pada masa remaja, mencerminkan egosentrisme dan keinginan untuk tampil diatas pentas, diperhatikan, dan terlihat. Bayangkan anak laki-laki kelas delapan yang menganggap diri sebagai seorang aktor dan semua orang lain adalah penonton ketika ia menatap kebintik kecil dicelana panjangnya. Bayangkan seorang anak perempuan kelas tujuh yang menganggap bahwa semua mata terpaku kepada corak kulitnya karena ada cacat yang kecil sekali pada wajahnya.
2. dongeng pribadi
merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan-perasaan unik seorang remaja. Rasa unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya.
e. Perkembangan Penalaran Moral
Menurut Kohlberg adalah bagian dari penalaran (reasoning), sehingga ia menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning), penalaran atau pertimbangan tersebut berkenaan dengan keluasan wawasan mengenai relasi antara diri dan orang lain, hak dan kewajiban. Relasi diri dengan orang lain ini didasarkan atas prinsip equality artinya orang lain sama derajatnya dengan diri. Jadi, antara diri dan diri orang lain dapat dipertukarkan. Ini disebut prinsip reciprocity. Moralitas pada hakikatnya adalah penyelasaian konflik antara diri dan diri orang lain, antara hak dan kewajiban. (Samsunuwiyati, 2003, hal 206)
Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian baik buruknya sesuatu. Karena bersifat penalaran maka perkembangan moral menurut Kohlberg sejalan dengan perkembangan nalar sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya. Dengan penekanannya pada penalaran ini, berarti Kohlberg ingin melihat struktur proses kognitif yang mendasari jawaban atau pun perbuatan-perbuatan moral.
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adam & Gullotta (1983, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 208), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
C. Perubahan-Perubahan Kognitif pada Masa Remaja
Ada 5 perubahan Kognitif pada masa perkembangan remaja (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/), yaitu
a. Remaja sudah bisa melihat ke depan (future) ke hal-hal yg mungkin, termasuk mengerti keterbatasannya dlm memahami realita. à sistem abstraksi, pendekatan & penalaran yg sistematis (logis-idealis), sampai ke berfikir hipotetis à berdampak pd perilaku sosia, berperan dlm meningkatkan kemampuan membuat keputusan
b. Remaja mampu berfikir abstrak. Kemampuan ini berdampak dan dapat diaplikasikan dalam proses penalaran dan berfikir logis
c. Remaja mulai berfikir lebih sering ttg berfikir itu sendiri à biasa dikenal dg istilah Metacognition, yaitu monitoring ttg aktivitas kognitifnya sendiri selama proses berfikir à menjadikannya instrospektif à terkait dengan adolescence egocentrism
d. Pemikirannya lebih multidimensional dibandingkan singular à mampu melihat dr berbagai perspektif àlebih sensitif pd kata-kata sarkastik, sindiran “double entendres”
e. Remaja mengerti hal-hal yg bersifat relatif, tdk selalu absolut à sering muncul saat remaja meragukan sesuatu à ditandai dg seringnya berargumentasi dengan OT terutama ttg nilai-nilai moral Information Processing Abilities
f. Kemampuan seseorang dalam memproses, mengolah informasi-informasi yang telah dimilikinya
1. Membutuhkan kemampuan dlm konsentrasi
• Selective attention à memfokuskan pd salah satu stimulus dan membuang yg lain
• Devided attention à kemampuan memfokuskan diri pd lebih dr 2 stimulus pd saat yang sama
2. Membutuhkan kemampuan dlm memperkaya kemampuan memorinya
• working memory & short term memory à kemampuan mengingat sesuatu yg belum lama terjadi
• long-term memory à kemampuan mengingat dan mengenal kembali sesuatu yg sudah lama terjadi
• menggunakan fungsi remember & recall Social Cognition Remaja.
Kemampuan remaja dlm menggunakan kognisinya dlm menghadapi permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapinya Meliputi aktivitas kognitif: (dalam http://my.opera.com /2009/05/23/)
a. Berfikir ttg orang lain
b. Berfikir ttg hubungan social
c. Berfikir ttg institusi social.
Dibedakan menjadi 3 :
• Impression Formation
• Social Perspective Taking
• Moraly and Social Convention
PENUTUP
a. Kesimpulan
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity. Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Perubahan-perubahan tersebut dalam segi kognitif dapat dilihat dari beberapa perkembangan yaitu:
a. Pemikiran Operasional Formal
b. Perkembangan Pengambilan Keputusan
c. Perkembangan Orientasi Masa Depan
d. Perkembangan Kognisi Sosial
e. Perkembangan Penalaran Moral
f. Perkembangan Pemahaman tentang Agama
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, Bandung; Melrat Losda Karya, 2005
Santrock, John W, The Span Development (Perkembangan Masa Hidup), Jakarta; Erlangga, 2002
Diane E. Papalia, et. Al. Human Development (Psikologi Perkembangan), Jakarta; Kencana, 2008
http://rumahbelajarpsikologi.com /2009/05/23/remaja)
http://my.opera.com /2009/05/23/
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA
TUGAS- TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA
(Dalam Buku Abdul Mujid, 2002)
A. Tugas perkembangan pada periode pra- konsepsi yaitu: periode perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum.
Tugas pada periode ini adalah:
• Mencari pasangan hidup yang baik
• Segera menikah setelah cukup umur dan telah disepakati oleh berbagai pihak
• Membangun keluarga sakinah (damai dan sejahtera)di atas prinsip cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (warahmah) dengan landasan iman dan taqwa
• Selalu berdoa kepada allah swt. Agar diberi keturunan yang baik (durriyah thayyibah), terutama ketika memulai persetubuhan.
B. Tugas perkembangan pada periode pra- natal yaitu priode perkembangan dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahieran, yang diperankan oleh orang tua.
• Memelihara suasana psikologis yang damai dan tentram,agar secara psikologis janin dapat berkembang secara normal
• Senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu, agar janinnya dapat sinaran cahaya hidayah dari Allah SWT
• Berdoa kepada Allah SWT., terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan, seabad masa- masa itu hukum- hukum perkembangan akan ditetapkan.
C. Tugas Perkembangan Pada Fase pertama neo- natus yaitu dimulai dari kelahiran kira- kira sampai minggu ke empat.
• Membaca azan di telinga kanan dan membaca iqamah di telinga kiri ketika anak baru dilahirkan.
• Memotong akikah, dua kambing untuk anak laki- laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.
• Memberi nama yang baik, yaitu nama yang secara psikologis mengingatkan atau berkolerasi dengan prilaku yang baik, misalnya nama asma al- husna, nama- nama nabi, nama- nama sahabat.
• Membiasakan hidup yang bersih dan suci.
• Memberikan ASI sampai usia 2 tahun.
(Dalam Buku Syamsu Yusuf, 2004)
D. Tugas perkembangan pada masa bayi dan kanak- kanak (0-6):s
• Belajar berjalan
Terjadi pada usia antara 9-15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syaratnya telah matang untuk belajar berjalan
• belajar memakan makanan padat
Pada tahun kedua, sistem alat- alat pencernaan makanan dan alat-alat mengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
• Belajar berbicara
Yaitu, dengan mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikan kepada orang lain dengan perantara suara itu, ada dua pendapat mengenai cara permulaan anak dalam belajar berbicara yaitu:
a). Pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar berbicara dengan jalan mengeluarkan macam- macam suara yang tidak berarti (meraban).kemudian orang di sekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata- kata tentang sesuatu dengan cara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan (menghubung-hubungkan ) suara- suara tertentu dengan benda atau situasi tertentu.
b). Kedua, menurut teori ini bayi tidaklah secara kebetulan tetapi mempunyai arti baginya karena suara- suara itu mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya.
• Belajar buang air kecil dan besar
Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia di bawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali anak mau buang air bawalah anak ke WC tanpa banyak penerangan kepadanya.
• Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
Melalui observasi anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik, dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut anak dapat mengenal perbedaan anatomis pria dan wanita, anak menaruh perhatian lebih besar pada alat kelamin sendiri maupun orang lain.
• Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis
Keadaan jasmani anak labil bila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah. Untuk mencapai kestabilan jasmaniah bagi anak diperlukan waktu sampai usia 5 tahun.
1. Memberikan konsep- konsep (pengertian) sederhana sosial dan alam anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk generalisasi (kesimpulan0 dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama. anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya disebut “orang” ibu dan ayah.
2. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara dengan orang lain.
Anak mengadakan hubungan dengan orang- orang yang ada di sekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan menggunakan bahasa.
(Dalam Buku Elizabet B. Horluck, 1980)
E. Tugas perkembangan pada masa anak-anak ,masa sekolah (6-12):
• Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan- permainan yang umum
• Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
• Belajar menyesuaikan diri dengan teman- teman seusianya
• Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita yang tepat
• Mengembang keterampilan- keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung.
• Mengembangkan pengertian- pengertian untuk diperlukan dalam kehidupan sehari- hari
• Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
• Mengembangkan sikap terhadap kelompok- kelompok sosial dan lembaga
• Mencapai kebebasan pribadi.
F. Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja awal:
Psikolog William W Wattenberg membagi masa remaja atas remaja awal dan akhir . menurut Nya, tugas-tugas perkembangan masa remaja awal adalah :
• Mampu mengontrol diri sendiri seperti orang dewasa
Remaja awal diharapkan mampu mengontrol segala perbuatannya . timbulnya tugas perkembangan ini akibat bertambahnya pekerjaan atau perbuatan remaja, baik yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan
• Mendapatkan kebebasan
Tugas perkembangan lainnya bagi remaja adalah ,mendapatkan kebebasan . maksudnya remaja awal diharapkan belajar dan berlatih untuk menentukan pilihan, membuat keputusan dan melaksanakan keputusannya serta berani mempertanggungjawabkannya . Dengan kebebasan ini remaja awal diharapkan tidak lagi bergantung pada orang tua dan orang dewasa
• Bergaul dengan teman lawan jenis
Rasa simpati, rasa tertarik untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenisnya mula disadari oleh remaja awal, meskipun mereka masih meragukan apakah lawan jenisnya tertarik kepadanya , merasa malu untuk saling mendekat dan saling bergaul , merasa bimbing pada daya tarik dirinya sendiri bagi lawan jenisnya, sehingga tidak sedikit remaja yang tidak mau berpacaran
• Memiliki citra diri yang nyata
Remaja awal juga diharapkan mampu menilai kondisi dirinya secara apa adanya maksudnya mampu mengukur kelebihan dan kekurangannya serta dapat menerima dan memanfaatkan semaksimal mungkin dan mampu mengukur apa saja yang disenangi atau tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya
(Dalam Buku Muhammad Ali Dkk,2004)
G. Tugas perkembangan remaja pada umumnya:
Menurut havighurst, ada sejumlah tugas yang harus di selesaikan oleh remaja yaitu:
1. Mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
• Hakekat tugas mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki- laki sebagai pria., menjadi dewasa di antara orang dewasa , dan belajar memimpin tanpa menekan orang dewasa.
• Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki- laki dan perempuan. Kematangan seksual di capai pada masa remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja
• Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. Remaja putri lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja putra dan cenderung tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua dibandingkan dia.
2. Mencapai peran sosial pria dan wanita
• Hakekat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria dan wanita
• Dasar biologis
Ditinjau dari keadaan fisik, remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra.
• Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaj putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranannya sebagai wanita.
3. Menerima keadaan fisik
• Hakekat tugas
Menjadi bangga sekurang- kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
• Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Umumnya gadis yang berusia 15-16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
• Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja.remaja suka memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya.
4. Mencapai kemandirian
• Hakekat tugas
membedakan sifat ke kanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri kepada orang tua.
• Dasar biologis
Kematangan seksual individu, individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya.
• Dasar psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. dalam keadaan seperti ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, dan sebaliknya orang tua menginginkan anak berkembang menjadi dewasa.
5. Mencapai jaminan kebebasan biologis
a. Hakekat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar kehidupan
merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk melaksanakan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini
• Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
a. Hakekat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan
b. Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
c. Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
7. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga
a. Hakekat
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya untuk mempunyai anak
b. Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan keterikatan antara jenis kelamin
c. Dasar psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
8. Mengembangkan keterampilan
a. Hakekat tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi dan kemasyarakatan
b. Dasar biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan
c. Dasar psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa , pemaknaan, perolehan, konsep- konsep, minat dsb.
9. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
a. Hakekat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai- nilai masyarakat dasar bertingkah laku
b. Dasar biologis
Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya in sting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dorongan seksual
c. Dasar psikologis
Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya
10. memahami suatu perangkat tata nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.
(Dalam Buku Elizabet B. Hurlock, 1980)
H. Tugas perkembangan dewasa awal\dini:
• Mulai bekerja
• Memilih pasangan
• Belajar hidup dengan tunangan
• Mulai membina keluarga
• Mengasuh anak
• Mengelola rumah tangga
• Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
• Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
(Dalam Buku Elida Prayitno, 2006)
Dalam menjalani hidup berkeluarga, Dixon dan bouma mengemukakan seperangkat tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pasangan dewasa awal yaitu:
• Menyediakan sebuah rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan, sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan hidup.
• Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran keuangan yang saling memuaskan.
• Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing- masing pasangan.
• Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus menerus.
• Membina sistem komunikasi intelektual dan emosional.
• Membina hubungan dengan sanak family.
• Membina cara- cara berinteraksi dengan kawan, anggota kumpulan, dan organisasi masyarakat.
• Menghadap kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran anak.
• Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan.
I. Tugas Perkembangan Dewasa Awal:
• . Tugas Perkembangan Pada Periode Pembentukan
a. Menyediakan rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan
b. Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran pendapatan keuangan yang saling memuaskan
c. Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing-masing pasangan
d. Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus-menerus
e. Membina sistem komunikasi intelektual sosial dan emosional
f. Membina hubungan dengan sanak famili
g. Membina cara-cara berinteraksi dengan kawan, anggota perkumpulan dan organisasi masyarakat
h. Menghadapi kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran
i. Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan
• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Hal Kehamilan/ Melahirkan
a. Menata pemeliharaan fisik ibu untuk kepentingan bayi yang dinantikan
b. Mengembangkan pola pendapatan dan pengeluaran yang baru
c. Menilai prosedur untuk pola tanggung jawab pekerjaan, siapa yang mengerjakan apa, dan di pundak siapa otoritas terletak
d. Menentukan pola hubungan seksual dalam masa kehamilan
e. Memperluas komunikasi sesuai dengan kebutuhan emosi yang diantisipasi selam masa kehamilan
f. Menata kembali hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan hubungan dengan teman anggota perkumpulan dan organisasi di masyarakat karena kehamilan
h. Mencari pengetahuan dan perencanaan sehubungan dengan kehamilan
i. Menguasai moral dan filsafat hidup yang harus dilaksanakan
• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Memelihara Bayi Dan Anak-Anak Yang masih Kecil
a. Menyesuaikan penataan rumah untuk kehidupan anak yang masih kecil
b. Penyesuaian pengeluaran biaya dalam keluarga
c. Menata kembali pola saling tanggung jawab
d. Menata kembali pola hubungan seksual yang saling memuaskan
e. Memperluas komunikasi untuk kepentingan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
f. Menata kembali hubungan dengan sanak-saudara
g. Menyesuaikan hidup bermasyarakat sebagai keluarga muda
h. Merencanakan kembali anak-anak berikutnya
• Tugas Perkembangan Keluarga Pada Periode Anak-Anak Umur TK
a. Menyediakan ruangan, fasilitas dan perlengkapan untuk jumlah anggota keluarga yang lebih banyak
b. Menyesuaikan pengeluaran biaya dengan kehidupan sehari-hari
c. Berbagai tanggung jawab dalam memelihara anggota keluarga yang lebih besar
d. Merencanakan hubungan sosial yang memuaskan dan mendapatkan anak di masa yang akan datang
e. Mengusahakan hubungan yang harmonis dalam keluarga yang lebih besar
f. Menyediakan sumber-sumber tambahan untuk pengeluaran pelayanan kebutuhan keluarga
g. Menghadapi berbagai dilema dan menata kembali filsafat hidup
• Tugas Perkembangan Keluarga Yang Memiliki Anak Mulai Bersekolah
a. Menyediakan aktivitas tertentu , baik untuk anak-anak maupun untuk pribadi orang tua
b. Menyimpan dana atau benda untuk pembayaran hutang
c. Kerjasama melakukan sesuatu bagi kepentingan masa depan anak
d. Terus menerus saling memuaskan kebutuhan pasangan sebagai partner dalam keluarga
e. Menggunakan komunikasi secara efektif
f. Merasakan kedekatan dengan sank-saudara dan keluarga yang semakin besar
g. Mencoba hidup di luar keluarga
J. Tugas perkembangan dewasa pertengahan:
Ada sejumlah kemampuan yang harus dikuasai orang dewasa pertengahan yaitu:
1. tugas perkembangan keluarga ketika anak- anak telah remaja
a. menyediakan fasilitas untuk melayani kebutuhan yang berbeda
b. menyesuaikan keuangan keluarga dengan kebutuhan anak yang sudah remaja
c. berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan dalam keluarga
d. mengutamakan hubungan pernikahan dalam kehidupan keluarga
e. menjembatani komunikasi yang mandek dengan anak- anak remaja, yang harus dibina komunikasi, keakraban dan keterbukaan.
f. Tetap memelihara hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan dan mengembangkan filsafat hidup.
2. tugas perkembangan dalam memelihara orang dewasa
• menata kembali fasilitas dan sumber- sumber fisik
• membagi tanggung jawab di antara anak yang sudah dewasa muda dengan yang lebih kecil
• memiliki sistem komunikasi yang efektif dengan anggota keluarga dan anak- anak
• memperluas siklus keluarga karena anak telah menjadi orang dewasa muda dan menerima anggota baru keluarga(menantu ) kalau mereka menikah.
3. tugas perkembangan dalam membina kesetiaan dan keharmonisan keluarga
• menciptakan kehidupan keluarga yang menyenangkan dan membahagiakan
• menjamin perasaan aman pada tahun berikutnya
• melaksanakan tanggung jawab kerumahtanggaan
• memperlihatkan keakraban bersama sebagai pasangan
• membina hubungan baik dengan keluarga anak- anak yang baru berkembang
• membina kedekatan emosi dengan saudara-saudara dan orang tua sendiri yang sudah berusia lanjut
• berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat di luar lingkungan keluarga
• memperkuat nilai- nilai kehidupan yang benar dan berarti bagi kehidupan sebagai manusia.
(Dalam Buku Mubin, Ani Cahyadi, 2006)
K. tugas perkembangan dewasa akhir:
• mencapai kedewasaan yang bertanggung jawab terhadap negara dan masyarakat
• membimbing anak- anak remaja untuk bertanggung jawab dengan berbahagia kelak bila dewasa
• mengembangkan kegiatan- kegiatan pengisi waktu kosong seusai dengan keahlian dan keinginan
• menciptakan hubungan suami istri yang serasi
• menerima dan menyesuaikan diri dengan adanya perubahan- perubahan psikologis pada usia tengah baya
• mencapai dan mengutamakan penampilan yang memuaskan
• mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan orang tua yang lanjut.
L. Masa tua atau lanjut usia:
• Siap menghadapi keadaan menurunnya kondisi fisik dan kesehatan
• Siap untuk mengalami penurunan pendapat
• Siap untuk menghadapi kematian suami- istri
• Membina hubungan yang akrab dengan anggota kelompok usia
• Memelihara kondisi dan kesehatan fisik agar tetap menyenangkan
• Menyesuaikan diri untuk mengurangi tugas sosial tetap memenuhi kewajiban- kewajiban sebagai warga negara.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno Elida, Psikologi Orang Dewasa, Padang, Angkasa Raya: 2006
Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 2004
Ali Muhammad, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik) Jakarta, PT Bumi Aksara: 2004
Mujid Abdul, Nuansa- Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo: 2002
Mubin, Cahyadi Ani, Psikologi Perkembangan, quantum teaching: 2006
Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan (Suatu Pendidikan Sepanjang Rentang Kehidupan) Jakarta, Erlangga: 1980
(Dalam Buku Abdul Mujid, 2002)
A. Tugas perkembangan pada periode pra- konsepsi yaitu: periode perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum.
Tugas pada periode ini adalah:
• Mencari pasangan hidup yang baik
• Segera menikah setelah cukup umur dan telah disepakati oleh berbagai pihak
• Membangun keluarga sakinah (damai dan sejahtera)di atas prinsip cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (warahmah) dengan landasan iman dan taqwa
• Selalu berdoa kepada allah swt. Agar diberi keturunan yang baik (durriyah thayyibah), terutama ketika memulai persetubuhan.
B. Tugas perkembangan pada periode pra- natal yaitu priode perkembangan dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahieran, yang diperankan oleh orang tua.
• Memelihara suasana psikologis yang damai dan tentram,agar secara psikologis janin dapat berkembang secara normal
• Senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu, agar janinnya dapat sinaran cahaya hidayah dari Allah SWT
• Berdoa kepada Allah SWT., terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan, seabad masa- masa itu hukum- hukum perkembangan akan ditetapkan.
C. Tugas Perkembangan Pada Fase pertama neo- natus yaitu dimulai dari kelahiran kira- kira sampai minggu ke empat.
• Membaca azan di telinga kanan dan membaca iqamah di telinga kiri ketika anak baru dilahirkan.
• Memotong akikah, dua kambing untuk anak laki- laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.
• Memberi nama yang baik, yaitu nama yang secara psikologis mengingatkan atau berkolerasi dengan prilaku yang baik, misalnya nama asma al- husna, nama- nama nabi, nama- nama sahabat.
• Membiasakan hidup yang bersih dan suci.
• Memberikan ASI sampai usia 2 tahun.
(Dalam Buku Syamsu Yusuf, 2004)
D. Tugas perkembangan pada masa bayi dan kanak- kanak (0-6):s
• Belajar berjalan
Terjadi pada usia antara 9-15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syaratnya telah matang untuk belajar berjalan
• belajar memakan makanan padat
Pada tahun kedua, sistem alat- alat pencernaan makanan dan alat-alat mengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
• Belajar berbicara
Yaitu, dengan mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikan kepada orang lain dengan perantara suara itu, ada dua pendapat mengenai cara permulaan anak dalam belajar berbicara yaitu:
a). Pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar berbicara dengan jalan mengeluarkan macam- macam suara yang tidak berarti (meraban).kemudian orang di sekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata- kata tentang sesuatu dengan cara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan (menghubung-hubungkan ) suara- suara tertentu dengan benda atau situasi tertentu.
b). Kedua, menurut teori ini bayi tidaklah secara kebetulan tetapi mempunyai arti baginya karena suara- suara itu mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya.
• Belajar buang air kecil dan besar
Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia di bawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali anak mau buang air bawalah anak ke WC tanpa banyak penerangan kepadanya.
• Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
Melalui observasi anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik, dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut anak dapat mengenal perbedaan anatomis pria dan wanita, anak menaruh perhatian lebih besar pada alat kelamin sendiri maupun orang lain.
• Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis
Keadaan jasmani anak labil bila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah. Untuk mencapai kestabilan jasmaniah bagi anak diperlukan waktu sampai usia 5 tahun.
1. Memberikan konsep- konsep (pengertian) sederhana sosial dan alam anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk generalisasi (kesimpulan0 dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama. anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya disebut “orang” ibu dan ayah.
2. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara dengan orang lain.
Anak mengadakan hubungan dengan orang- orang yang ada di sekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan menggunakan bahasa.
(Dalam Buku Elizabet B. Horluck, 1980)
E. Tugas perkembangan pada masa anak-anak ,masa sekolah (6-12):
• Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan- permainan yang umum
• Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
• Belajar menyesuaikan diri dengan teman- teman seusianya
• Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita yang tepat
• Mengembang keterampilan- keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung.
• Mengembangkan pengertian- pengertian untuk diperlukan dalam kehidupan sehari- hari
• Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
• Mengembangkan sikap terhadap kelompok- kelompok sosial dan lembaga
• Mencapai kebebasan pribadi.
F. Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja awal:
Psikolog William W Wattenberg membagi masa remaja atas remaja awal dan akhir . menurut Nya, tugas-tugas perkembangan masa remaja awal adalah :
• Mampu mengontrol diri sendiri seperti orang dewasa
Remaja awal diharapkan mampu mengontrol segala perbuatannya . timbulnya tugas perkembangan ini akibat bertambahnya pekerjaan atau perbuatan remaja, baik yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan
• Mendapatkan kebebasan
Tugas perkembangan lainnya bagi remaja adalah ,mendapatkan kebebasan . maksudnya remaja awal diharapkan belajar dan berlatih untuk menentukan pilihan, membuat keputusan dan melaksanakan keputusannya serta berani mempertanggungjawabkannya . Dengan kebebasan ini remaja awal diharapkan tidak lagi bergantung pada orang tua dan orang dewasa
• Bergaul dengan teman lawan jenis
Rasa simpati, rasa tertarik untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenisnya mula disadari oleh remaja awal, meskipun mereka masih meragukan apakah lawan jenisnya tertarik kepadanya , merasa malu untuk saling mendekat dan saling bergaul , merasa bimbing pada daya tarik dirinya sendiri bagi lawan jenisnya, sehingga tidak sedikit remaja yang tidak mau berpacaran
• Memiliki citra diri yang nyata
Remaja awal juga diharapkan mampu menilai kondisi dirinya secara apa adanya maksudnya mampu mengukur kelebihan dan kekurangannya serta dapat menerima dan memanfaatkan semaksimal mungkin dan mampu mengukur apa saja yang disenangi atau tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya
(Dalam Buku Muhammad Ali Dkk,2004)
G. Tugas perkembangan remaja pada umumnya:
Menurut havighurst, ada sejumlah tugas yang harus di selesaikan oleh remaja yaitu:
1. Mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
• Hakekat tugas mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki- laki sebagai pria., menjadi dewasa di antara orang dewasa , dan belajar memimpin tanpa menekan orang dewasa.
• Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki- laki dan perempuan. Kematangan seksual di capai pada masa remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja
• Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. Remaja putri lebih cepat matang dibandingkan dengan remaja putra dan cenderung tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua dibandingkan dia.
2. Mencapai peran sosial pria dan wanita
• Hakekat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria dan wanita
• Dasar biologis
Ditinjau dari keadaan fisik, remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra.
• Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaj putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranannya sebagai wanita.
3. Menerima keadaan fisik
• Hakekat tugas
Menjadi bangga sekurang- kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
• Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Umumnya gadis yang berusia 15-16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
• Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja.remaja suka memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya.
4. Mencapai kemandirian
• Hakekat tugas
membedakan sifat ke kanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri kepada orang tua.
• Dasar biologis
Kematangan seksual individu, individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya.
• Dasar psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. dalam keadaan seperti ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, dan sebaliknya orang tua menginginkan anak berkembang menjadi dewasa.
5. Mencapai jaminan kebebasan biologis
a. Hakekat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar kehidupan
merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
• Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk melaksanakan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini
• Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
a. Hakekat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan
b. Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
c. Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
7. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga
a. Hakekat
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya untuk mempunyai anak
b. Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan keterikatan antara jenis kelamin
c. Dasar psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
8. Mengembangkan keterampilan
a. Hakekat tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi dan kemasyarakatan
b. Dasar biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan
c. Dasar psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa , pemaknaan, perolehan, konsep- konsep, minat dsb.
9. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
a. Hakekat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai- nilai masyarakat dasar bertingkah laku
b. Dasar biologis
Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya in sting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dorongan seksual
c. Dasar psikologis
Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya
10. memahami suatu perangkat tata nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.
(Dalam Buku Elizabet B. Hurlock, 1980)
H. Tugas perkembangan dewasa awal\dini:
• Mulai bekerja
• Memilih pasangan
• Belajar hidup dengan tunangan
• Mulai membina keluarga
• Mengasuh anak
• Mengelola rumah tangga
• Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
• Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
(Dalam Buku Elida Prayitno, 2006)
Dalam menjalani hidup berkeluarga, Dixon dan bouma mengemukakan seperangkat tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pasangan dewasa awal yaitu:
• Menyediakan sebuah rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan, sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan hidup.
• Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran keuangan yang saling memuaskan.
• Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing- masing pasangan.
• Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus menerus.
• Membina sistem komunikasi intelektual dan emosional.
• Membina hubungan dengan sanak family.
• Membina cara- cara berinteraksi dengan kawan, anggota kumpulan, dan organisasi masyarakat.
• Menghadap kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran anak.
• Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan.
I. Tugas Perkembangan Dewasa Awal:
• . Tugas Perkembangan Pada Periode Pembentukan
a. Menyediakan rumah tempat tinggal bagi setiap pasangan sesuai dengan kemauan dan kemampuan pasangan
b. Membangun sistem pendapatan dan pengeluaran pendapatan keuangan yang saling memuaskan
c. Membangun pola pekerjaan yang dapat disetujui sesuai peran masing-masing pasangan
d. Membangun pola hubungan seksual yang saling memuaskan secara terus-menerus
e. Membina sistem komunikasi intelektual sosial dan emosional
f. Membina hubungan dengan sanak famili
g. Membina cara-cara berinteraksi dengan kawan, anggota perkumpulan dan organisasi masyarakat
h. Menghadapi kemungkinan untuk memiliki anak dan merencanakan kelahiran
i. Membangun filsafat hidup yang dapat dilaksanakan sebagai pasangan
• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Hal Kehamilan/ Melahirkan
a. Menata pemeliharaan fisik ibu untuk kepentingan bayi yang dinantikan
b. Mengembangkan pola pendapatan dan pengeluaran yang baru
c. Menilai prosedur untuk pola tanggung jawab pekerjaan, siapa yang mengerjakan apa, dan di pundak siapa otoritas terletak
d. Menentukan pola hubungan seksual dalam masa kehamilan
e. Memperluas komunikasi sesuai dengan kebutuhan emosi yang diantisipasi selam masa kehamilan
f. Menata kembali hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan hubungan dengan teman anggota perkumpulan dan organisasi di masyarakat karena kehamilan
h. Mencari pengetahuan dan perencanaan sehubungan dengan kehamilan
i. Menguasai moral dan filsafat hidup yang harus dilaksanakan
• Tugas Perkembangan Keluarga Dalam Memelihara Bayi Dan Anak-Anak Yang masih Kecil
a. Menyesuaikan penataan rumah untuk kehidupan anak yang masih kecil
b. Penyesuaian pengeluaran biaya dalam keluarga
c. Menata kembali pola saling tanggung jawab
d. Menata kembali pola hubungan seksual yang saling memuaskan
e. Memperluas komunikasi untuk kepentingan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
f. Menata kembali hubungan dengan sanak-saudara
g. Menyesuaikan hidup bermasyarakat sebagai keluarga muda
h. Merencanakan kembali anak-anak berikutnya
• Tugas Perkembangan Keluarga Pada Periode Anak-Anak Umur TK
a. Menyediakan ruangan, fasilitas dan perlengkapan untuk jumlah anggota keluarga yang lebih banyak
b. Menyesuaikan pengeluaran biaya dengan kehidupan sehari-hari
c. Berbagai tanggung jawab dalam memelihara anggota keluarga yang lebih besar
d. Merencanakan hubungan sosial yang memuaskan dan mendapatkan anak di masa yang akan datang
e. Mengusahakan hubungan yang harmonis dalam keluarga yang lebih besar
f. Menyediakan sumber-sumber tambahan untuk pengeluaran pelayanan kebutuhan keluarga
g. Menghadapi berbagai dilema dan menata kembali filsafat hidup
• Tugas Perkembangan Keluarga Yang Memiliki Anak Mulai Bersekolah
a. Menyediakan aktivitas tertentu , baik untuk anak-anak maupun untuk pribadi orang tua
b. Menyimpan dana atau benda untuk pembayaran hutang
c. Kerjasama melakukan sesuatu bagi kepentingan masa depan anak
d. Terus menerus saling memuaskan kebutuhan pasangan sebagai partner dalam keluarga
e. Menggunakan komunikasi secara efektif
f. Merasakan kedekatan dengan sank-saudara dan keluarga yang semakin besar
g. Mencoba hidup di luar keluarga
J. Tugas perkembangan dewasa pertengahan:
Ada sejumlah kemampuan yang harus dikuasai orang dewasa pertengahan yaitu:
1. tugas perkembangan keluarga ketika anak- anak telah remaja
a. menyediakan fasilitas untuk melayani kebutuhan yang berbeda
b. menyesuaikan keuangan keluarga dengan kebutuhan anak yang sudah remaja
c. berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan dalam keluarga
d. mengutamakan hubungan pernikahan dalam kehidupan keluarga
e. menjembatani komunikasi yang mandek dengan anak- anak remaja, yang harus dibina komunikasi, keakraban dan keterbukaan.
f. Tetap memelihara hubungan dengan sanak keluarga
g. Menyesuaikan dan mengembangkan filsafat hidup.
2. tugas perkembangan dalam memelihara orang dewasa
• menata kembali fasilitas dan sumber- sumber fisik
• membagi tanggung jawab di antara anak yang sudah dewasa muda dengan yang lebih kecil
• memiliki sistem komunikasi yang efektif dengan anggota keluarga dan anak- anak
• memperluas siklus keluarga karena anak telah menjadi orang dewasa muda dan menerima anggota baru keluarga(menantu ) kalau mereka menikah.
3. tugas perkembangan dalam membina kesetiaan dan keharmonisan keluarga
• menciptakan kehidupan keluarga yang menyenangkan dan membahagiakan
• menjamin perasaan aman pada tahun berikutnya
• melaksanakan tanggung jawab kerumahtanggaan
• memperlihatkan keakraban bersama sebagai pasangan
• membina hubungan baik dengan keluarga anak- anak yang baru berkembang
• membina kedekatan emosi dengan saudara-saudara dan orang tua sendiri yang sudah berusia lanjut
• berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat di luar lingkungan keluarga
• memperkuat nilai- nilai kehidupan yang benar dan berarti bagi kehidupan sebagai manusia.
(Dalam Buku Mubin, Ani Cahyadi, 2006)
K. tugas perkembangan dewasa akhir:
• mencapai kedewasaan yang bertanggung jawab terhadap negara dan masyarakat
• membimbing anak- anak remaja untuk bertanggung jawab dengan berbahagia kelak bila dewasa
• mengembangkan kegiatan- kegiatan pengisi waktu kosong seusai dengan keahlian dan keinginan
• menciptakan hubungan suami istri yang serasi
• menerima dan menyesuaikan diri dengan adanya perubahan- perubahan psikologis pada usia tengah baya
• mencapai dan mengutamakan penampilan yang memuaskan
• mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan orang tua yang lanjut.
L. Masa tua atau lanjut usia:
• Siap menghadapi keadaan menurunnya kondisi fisik dan kesehatan
• Siap untuk mengalami penurunan pendapat
• Siap untuk menghadapi kematian suami- istri
• Membina hubungan yang akrab dengan anggota kelompok usia
• Memelihara kondisi dan kesehatan fisik agar tetap menyenangkan
• Menyesuaikan diri untuk mengurangi tugas sosial tetap memenuhi kewajiban- kewajiban sebagai warga negara.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno Elida, Psikologi Orang Dewasa, Padang, Angkasa Raya: 2006
Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 2004
Ali Muhammad, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik) Jakarta, PT Bumi Aksara: 2004
Mujid Abdul, Nuansa- Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo: 2002
Mubin, Cahyadi Ani, Psikologi Perkembangan, quantum teaching: 2006
Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan (Suatu Pendidikan Sepanjang Rentang Kehidupan) Jakarta, Erlangga: 1980
Langganan:
Postingan (Atom)
